
Sepanjang perjalanan menuju rumah sewa, Alesya masih memikirkan apa yang baru saja dilihat tadi di balkon posnya. Alesya bisa memastikan jika tadi Fani lah yang tengah mengawasinya dari balkon.
Meskipun lampunya dimatikan, namun Alesya bisa dengan mudah melihat dari siluet bayangan tubuh. Dan, Alesya cukup yakin jika orang tadi adalah Fani.
Daniel yang melihat Alesya masih diam tak bersuara, langsung menoleh dan menepuk paha istrinya tersebut.
"Ada apa? Kenapa diam saja sejak tadi?" tanya Daniel sambil menoleh sekilas.
"Eh, ehm, nggak ada apa-apa, sih." Alesya masih tampak ragu menceritakan apa yang baru saja dilihatnya kepada Daniel.
"Kalau nggak ada apa-apa, jangan diam saja. Nggak enak sekali jika hanya diam begini."
"Hhmmm, maaf."
Setelah itu, bertepatan dengan mobil Daniel yang sudah berhenti di depan rumah sewanya. Berhubung saat itu sudah cukup larut, tidak ada warga sekitar yang mengobrol di depan rumah mereka.
Alesya dan Daniel langsung bergegas memasuki rumah tersebut. Alesya langsung pergi ke dapur untuk menyimpan bahan-bahan makanan yang dibawanya, sementara Daniel pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sudah makan malam, Mas? Mau dibuatkan makanan?" tanya Alesya dari dapur.
__ADS_1
Daniel yang berada di dalam kamar mandi pun, bisa dengan jelas mendengar pertanyaan Alesya.
"Sudah tadi. Nggak usah buat makanan. Kopi saja," jawab Daniel dari dalam kamar mandi.
Alesya segera bergegas membuatkan kopi untuk Daniel. Beruntung rumah yang disewa Daniel sudah menyediakan seluruh perlengkapan dapur sehingga Alesya tidak kesulitan untuk memasak.
Alesya yang tengah menunggu air mendidih, dikejutkan oleh dua buah tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Eh," Alesya yang kaget langsung menoleh. Dia bisa merasakan jika tubuh bagian atas Daniel tengah polosan. Rupanya Daniel masih belum memakai baju.
"Kamu mandi dari sore, tapi masih harum jam segini. Pakai parfum apa, sih?" ucap Daniel sambil mulai kecup sana kecup sini.
"Iihh, apaan sih, Mas. Sana dulu. Pakai baju, gih." Alesya meliuk-liukkan tubuhnya untuk melepaskan diri dari dekapan Daniel.
Namun, bukannya terlepas, justru malah membuat Daniel semakin mengeratkan dekapannya. Tak sampai situ, kini tangan Daniel sudah mulai menjalar kemana-mana. Tentu saja tindakan Daniel tersebut membuat tubuh Alesya semakin meremang tidak karuan.
"Ma-maasss. Jangan gini, ih. Ini kopinya tumpah-tumpah," protes Alesya.
"Hhhmm?" Daniel tidak menghentikan aktivitasnya. Dia justru semakin berani berbuat lebih.
__ADS_1
"Ma-mass," rupanya Alesya sudah mulai terpengaruh.
Setelah selesai mengaduk kopi buatannya, Alesya langsung meletakkan sendok tersebut dan berpegangan pada ujung meja. Dia berusaha sekuat tenaga agar tidak mendeesahh karena tangan Daniel sudah mulai menyusup kemana-mana.
Alesya hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan memejamkan mata saat Daniel menemukan 'si put' di dalam sana dan mulai memainkannya dengan gemas.
"Hhmmm, Sayang, kok sudah keras, nih. Sudah nggak sabar, ya?" goda Daniel sambil tangannya semakin aktif di dalam sana.
Alesya cukup kaget setelah mendengar ucapan suaminya tersebut. Bukan karena ucapannya, melainkan karena panggilan Daniel. Ya, Alesya cukup kaget karena itu pertama kali Daniel memanggilnya dengan panggilan 'sayang'.
Belum sempat Alesya menyahuti ucapan Daniel, suaminya tersebut sudah langsung membopong Alesya untuk pergi ke dalam kamar. Bahkan, Daniel sudah tidak peduli dengan handuk yang tadi melilit pinggangnya terlepas hingga jatuh teronggok di dekat pintu dapur.
Setelahnya, hanya terdengar suara ah uh ah uh yang berasal dari dalam kamar rumah sewa tersebut.
Sementara di rumah yang lain, tengah terjadi pertengkaran. Suara seorang laki-laki yang terdengar cukup keras dan diiringi pecahan benda di atas lantai, membuat seorang perempuan menangis semakin histeris.
"Kamu ini bodoohh atau bagaimana, sih? Sudah dikasih umpan tinggal sambar masih saja kecolongan!" Bentak laki-laki itu.
Hhmmm siapa sih itu?
__ADS_1