
Daniel masih menatap langkah kaki Alesya yang berjalan mendekati tempat tidur. Pandangan mata Daniel bahkan tak berkedip saat Alesya mengibaskan rambut panjangnya yang menjuntai hingga punggung dan mengekspos leher jenjangnya.
Glek.
Entah mengapa jakun Daniel refleks naik turun seiring dengan gerakan menelan salivanya dengan kasar. Daniel masih menatap saat Alesya meraih ikat rambut yang berada di atas nakas dan mengikat rambutnya hingga membentuk cepolan asal dibagian belakang kepalanya. Tentu saja hal itu membuat leher Alesya terekspos dengan sempurna.
Daniel yang tersadar dari tingkah konyolnya langsung meraup wajahnya dengan kasar. Dia merutuki pikirannya yang entah mengapa menjadi semakin 'horor'. Apakah itu efek dari pernikahannya? batin Daniel.
Setelah itu, Daniel langsung beranjak menuju kamar mandi. Dia segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mendinginkan isi kepada atas dan bawahnya yang sudah mulai memanas.
Ketika Daniel masih membersihkan diri, Alesya memutuskan untuk merebahkan diri. Dia merasa cukup capek seharian ini. Alesya memilih untuk tidur di sebelah kiri tempat tidur karena menghadap langsung ke arah jendela.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Daniel sudah selesai membersihkan diri. Sambil melilitkan handuk di pinggangnya, Daniel keluar dari kamar mandi. Dia melihat baju ganti yang sudah disiapkan oleh Alesya. Tak menunggu lama, Daniel langsung memakai baju tersebut.
Setelah selesai, Daniel berjalan menghampiri Alesya yang sudah merebahkan diri di dalam selimut. Daniel mendesahkan napas berat sebelum ikut bergabung dengan Alesya.
Saat itu, Alesya memang tidur membelakangi Daniel. Dia miring menghadap ke arah jendela yang tirainya masih terbuka. Cahaya lampu kamar yang tadi dinyalakan oleh Alesya, kini dimatikan semuanya oleh Daniel. Dan, hal itu membuat kamar mereka gelap gulita. Untuk pencahayaan, hanya diperoleh dari pantulan cahaya lampu dari luar dan cahaya sinar bulan yang kebetulan saat itu memasuki bulan purnama.
Daniel berbaring miring menghadap ke arah Alesya. Kedua matanya masih belum terpejam. Entah mengapa, Daniel benar-benar ingin menyentuh punggung istrinya tersebut. Namun, Daniel tidak mau mengganggu tidur Alesya. Daniel tahu jika Alesya pasti cukup lelah.
Daniel berusaha memejamkan kedua matanya. Namun, lagi-lagi Daniel masih kepikiran dengan niatnya tadi. Dan, beruntung saat itu Alesya menggerakkan tubuhnya hingga berbalik menghadap ke arah Daniel.
Kedua netra Alesya terbuka dan mendapati Daniel tengah menatapnya. Tentu saja hal itu membuat Alesya terkejut. Dia berpikir jika Daniel sudah tidur.
__ADS_1
"Eh, Da. Be-belum tidur?" Entah mengapa Alesya mendadak gugup.
Daniel menggelengkan kepala sambil tidak mengalihkan tatapannya pada wajah Alesya.
"Belum. Kenapa belum tidur?" tanya Daniel.
Alesya mendesahkan napas berat sebelum menjawab pertanyaan Daniel.
"Belum bisa tidur."
"Kenapa? Ada yang kamu pikirkan?"
Alesya menggelengkan kepala dengan lemah. Sebenarnya, Alesya sendiri juga tidak tahu apa yang dipikirkannya hingga membuatnya sulit tidur.
"Mau aku tidurin?" tanya Daniel langsung sambil mengulurkan tangan hingga menyentuh selimut yang menutupi tubuh Alesya.
Alesya yang mendengar ucapan Daniel, langsung membulatkan kedua mata dan mulutnya. Dia cukup kaget dengan apa yang diucapkan oleh Daniel.
Sebenarnya, Alesya sudah memikirkan hal itu sejak kemarin. Tapi, tentu saja dia belum sepenuhnya siap melakukannya.
"A-apa maksud kamu, Da?" Alesya semakin mengeratkan pelukannya pada selimut. Wajahnya tampak was-was di tengah keremangan pencahayaan yang menerobos kamar mereka.
Daniel yang tersadar dengan ucapannya pun langsung menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu maksudku, Le. Tadi, maksudnya mau aku nyanyiin? Siapa tahu kamu bisa tidur jika mendengar suaraku?" ucap Daniel sambil mengulas senyumannya.
Alesya hanya mencebikkan bibir. Setelahnya, Alesya langsung menggelengkan kepala sambil merubah posisi tidurnya hingga terlentang.
"Nggak usah, lah."
Daniel masih menatap wajah Alesya dari samping. Sebenarnya, dia ingin membicarakan hal ini dengan Alesya sejak kemarin. Namun, dia masih belum memiliki waktu yang tepat untuk berbicara dengannya. Dan, malam ini Daniel memutuskan untuk membicarakan unek-uneknya tersebut.
"Ehm, Le?" Daniel membuka suara.
"Hhmmm?"
"Ehm, ada yang mau aku omongin."
Alesya menoleh ke arah Daniel. Dia bisa melihat wajah suaminya tersebut tengah terkena sorotan lampu dari luar jendela.
"Mau ngomong apa? Kamu mau minta jatah sekarang?" tanya Alesya to the point.
Kedua bola mata Daniel langsung membesar setelah mendengar pertanyaan Alesya.
"Kamu mau, Le?"
Sudah ada jatah vote, sisakan satu buat Daniel dan Alesya ya. Bantu promosi cerita ini juga biar tambah rame dan othor e tambah semangat up. Terima kasih.
__ADS_1