
Kedua bola mata Ferdian langsung membulat. Jangan lupakan ekspresi terkejutnya saat menyadari ucapan papa Daniel. Hal yang sama juga dirasakan oleh semua orang yang ada di sana. Baik orang tua Ferdian, mama Daniel, bahkan Desi pun juga terkejut mendengar ucapan papanya tersebut.
"Ma-maksudnya bagaimana?" tanya Ferdian yang masih terkejut.
Papa Daniel menghela napas berat sebelum menjelaskan maksud ucapannta tersebut.
"Nak Ferdi, seperti yang sudah diketahui jika dulu Desi sudah pernah gagal saat hendak menikah. Bahkan, hal itu terjadi saat acara pernikahan itu kurang satu hari. Mungkin kalian tidak ada yang tahu bagaimana hancurnya perasaan orang tua saat melihat pernikahan putrinya yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari gagal."
"Dan, hal itu terjadi karena ulah laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Saya, sebagai ayah tentu saja tidak ingin putri saya mengalami hal serupa. Saya tidak ingin ada omongan yang tidak-tidak tentang Desi di kemudian hari."
"Mungkin, Desi dan mamanya tidak tahu jika selama ini banyak sekali omongan yang tidak-tidak tentang Desi. Saya dan ayah Alesya sering mendengarnya dari bapak-bapak yang kami jumpai di masjid komplek yang sering bertanya tentang Desi. Ya, meskipun saya yakin jika mereka bertanya karena disuruh istri-istri mereka, tapi tetap saja saya tidak rela."
"Sebagai ayah, tentu saya ingin yang terbaik untuk putra putri kami. Dan, apapun itu, sudah pasti kami usahakan untuk mereka. Salah satunya dengan ini. Dengan pernikahan Desi ini, saya hanya bisa berharap jika omongan yang tidak mengenakkan tentang Desi bisa segera hilang," ucap papa Daniel.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar penjelasan itu mulai sedikit mengerti. Apalagi, mama Daniel. Dia bahkan sudah meneteskan air mata. Rupanya, suaminya itu selama ini menyimpan hal ini sendirian. Papa Daniel memang sengaja tidak menceritakan hal ini kepada sang istri karena tidak ingin membebani pikirannya.
Papi dan mami Ferdian pun bisa memaklumi keadaan Desi. Dan, mereka merasa iba dengan apa yang dialami oleh Desi. Namun, tentu saja papi dan mami Ferdian tidak bisa memaksa putranya untuk lansgung menikahi Desi. Mereka memberikan kebebasan putranya itu untuk mengambil keputusan.
Ferdian yang mendengar penjelasan papa Daniel pun langsung membulatkan tekad. Dia juga tidak rela jika ada omongan miring terhadap calon istrinya itu. Calon istri, eeaaa.
"Baiklah, Pak. Bismillahirrohmanirrohim, saya bersedia. Saya siap menikahi Desi esok hari. Kita bisa menikah secara agama dulu. Setelah itu, kami bisa menyiapkan pernikahan resmi secara negara," ucap Ferdian dengan penuh keyakinan.
"Kamu yakin?" Papa Daniel kembali menanyakan keseriusan Ferdian.
"Yakin, Pak." Lagi-lagi Ferdian mengangguk dengan mantab.
Papa Daniel pun menoleh ke arah Desi untuk meminta pendapat putrinya yang terlihat masih syok tersebut.
__ADS_1
"Des, bagaimana? Apa kamu keberatan dengan keputusan papa?" tanya sang papa.
Desi mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sebentar sebelum menggelengkan kepala. Dia rasanya tidak sanggup jika harus mengeluarkan suara meski hanya menjawab iya.
"Kamu setuju menikah secara agama dulu dengan nak Ferdian besok?" Papa Daniel memastikan.
Desi mengangguk-anggukkan kepala menyetujui apa yang sampaikan oleh papanya itu. Dan, semua orang langsung merasa lega setelah melihat anggukan kepala Desi.
"Baiklah nak Ferdi, saya terima lamaran untuk putri saya. Dan, saya tunggu kedatangannya besok pagi untuk melaksanakan ijab kabul."
"Baik, Pak. Saya pasti akan datang." Ferdian menjawab dengan penuh keyakinan.
Hhmmm, kira-kira jadi nikah nggak nih? Apa akan ada kegagalan lagi?
__ADS_1