Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Rengekan Daniel


__ADS_3

Setelah mendengar sebuah suara, Alesya langsung menoleh. Dia mengerucutkan bibir sambil mendengus kesal.


"Cckk. Ngapain sih?" Alesya masih menatap orang tersebut sedang berjalan ke arahnya.


"Ngapain? Ya orang di kampus mau ngapain?"


Alesya semakin mencebikkan bibir. Selalu saja ada jawaban yang membuatnya kesal.


"Cckkk. Nggak usah aneh-aneh, deh. Ngapain lo ke sini? Bukannya lo ada kuliah hari ini?" tanya Alesya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Habis gini. Le, gue pinjem duit, dong. Dompet gue ketinggalan di dalam tas kemarin." 


Kening Alesya berkerut setelah mendengar ucapan tersebut.


"Serius lo nggak bawa duit ke kampus, Da?"


"Hu uh."


"Cckkk. Bisa-bisanya lo sampai ceroboh gini. Gimana coba jika motor lo mogok atau kehabisan bensin?" Alesya langsung menggerutu kesal. Namun, segera dia membuka tas dan mengambil dompet. Alesya segera mengambil dua lembar seratus ribuan dan memberikannya kepada Daniel. Ya, orang yang menghampiri Alesya tersebut adalah Daniel.


"Namanya juga lupa, Le," jawab Daniel sambil menerima dua lembar uang seratus ribuan dari tangan Alesya. "Waahh, makasih Ale ale yang baik. Nanti gue transfer gantinya," lanjut Daniel sambil tersenyum lebar. Jangan lupakan tangan Daniel yang langsung mengusuk rambut Alesya hingga membuatnya berantakan.


"Cckkk. Nggak usah." Alesya langsung meraih tangan Daniel dan melepaskannya dari atas kepala.


Daniel hanya bisa mencebikkan bibir. Setelahnya, kedua sahabat tersebut langsung beranjak menuju kelasnya masing-masing. Hari itu, Alesya dan Daniel pulang dari kampus menjelang petang. Ya, meskipun tidak bersamaan, namun kedatangan mereka hampir berdekatan.


Begitu sampai rumah, Alesya langsung mencari keberadaan sang ibu. Biasanya, ibu sudah ada di rumah sejak pukul dua siang. Namun, bukannya menemukan keberadaan ibu, dia sudah melihat Daniel yang tengah tidur di ruang tengah. Daniel masih memakai baju yang dipakainya tadi ke kampus.


"Lho, Kuda, ngapain di sini?" Gumam Alesya dan langsung berjalan untuk menghampiri Daniel. Setelahnya, Alesya langsung membangunkan Daniel yang saat itu tengah terlelap dengan posisi terlentang di atas sofa dengan kedua kaki menjuntai di ujung dan bawah sofa.


"Da, bangun. Ngapain lo tidur disini?" Alesya mengguncang-guncang bahu Daniel.


"Hhmmm." Bukannya bangun, Daniel hanya menggumam sambil membalik badan hingga menghadap sandaran sofa.


Tidak menyerah, Alesya kembali mengguncang tubuh Daniel.


"Kuda, bangun, ih. Ngapain tidur di sini? Pulang dulu, mandi. Bau, tau," ucap Alesya sambil kembali mengguncang-guncang bahu Daniel kembali.


Dengan malas, Daniel membuka kedua matanya. Mau tidak mau, dia segera bangkit dari posisi duduknya dan menatap kesal ke arah Alesya.

__ADS_1


"Ada apa sih, Le? Gue ngantuk, tau." Daniel langsung mengucek kedua matanya.


"Ya, lo ngapain tidur disini? Pulang sana. Mandi. Sudah mau maghrib juga." 


Daniel merenggangkan kedua tangannya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Ibu dan ayah belum pulang?" Bukannya menuruti ucapan Alesya untuk pulang, Daniel justru malah bertanya.


Kening Alesya berkerut. Dia tidak mengerti maksud ucapan Daniel tersebut


"Pulang? Memangnya Ayah dan ibu kemana?"


"Mereka takziah ke rumah pak RT. Tadi siang meninggal."


Sontak saja Alesya terkejut mendengarnya.


"Innalillahiwainnailaihirojiun. Kok gue nggak tau."


"Cckkk. Gue juga baru tau tadi saat ayah dan ibu mau berangkat."


Setelahnya, Daniel langsung mengambil ranselnya dan beranjak berdiri. Dia hendak kembali ke rumahnya. Namun, bukan Daniel namanya jika tidak mengerjai Alesya. Daniel mencubit hidung Alesya dan menariknya dengan cukup keras. Tentu saja hal tersebut membuat Alesya langsung berteriak kesal dan berlari mengejar Daniel yang sudah lebih dulu keluar dari rumah.


Malam itu, seperti hari-hari kemarin, Daniel lagi-lagi menumpang makan malam di rumah Alesya. Orang tuanya masih berada di rumah kakek dan neneknya.


Hingga setelah makan malam selesai, Daniel berpamitan ingin pergi bermain futsal dengan teman-teman SMAnya. Ya, Daniel memang masih sering meluangkan waktu dengan teman masa putih abu-abunya tersebut dengan bermain futsal.


Hari berganti hari, aktivitas Daniel dan Alesya sudah mulai disibukkan dengan persiapan KKN. Alesya bahkan sudah mulai menyiapkan beberapa program yang berkaitan dengan pendidikan karena dia mendapat bagian di devisi pendidikan.


Sedangkan Daniel, dia juga sudah mulai menyiapkan beberapa agenda. Jadwal keberangkatan KKN Daniel dan Alesya hanya selisih waktu satu minggu dengan Alesya yang berangkat lebih dulu. Dan, tentu saja Daniel masih akan merecoki Alesya dengan segala tingkah lakunya.


Seperti hari minggu pagi ini, tepat dua minggu sebelum keberangkatan Alesya untuk menjalani KKN. Dia sedang menyiapkan beberapa program yang akan dilaksanakan nanti saat KKN. Namun, aktivitasnya pagi itu harus terhenti karena ulah Daniel yang mengganggunya sejak pagi.


"Cepetan Le, gue di omelin mama nanti jika nggak segera berangkat, ih." Daniel masih merengek sambil menarik-narik lengan Alesya.


"Cckkk. Ngapain ngajak gue sih, Da. Lo kan bisa berangkat sendiri." Alesya mendengus kesal sambil menatap tajam ke arah Daniel.


"Nggak bisa. Gue nggak mau berangkat sendirian. Gie risih jika harus kesana sendiri, Le. Cepetan ikut gue," rengek Daniel sambil masih menarik-narik lengan Alesya.


Ayah Alesya yang kebetulan melewati ruang tengah, hanya bisa menghembuskan napas berat melihat tingkah keduanya.

__ADS_1


"Kalian ini sudah besar masih saja kelakuan seperti anak kecil. Ngapain main tarik-tarikan begitu?" Ayah menginterupsi aktivitas Daniel.


Mendengar suara sang ayah, tentu saja Alesya langsung menoleh dan meminta tolong.


"Tau nih, Yah. Si Kuda main paksa. Aku kan sudah bilang nggak mau ikut, eh dia maksa terus, Yah." Alesya langsung memasang wajah memelasnya minta bantuan sang ayah.


Melihat tingkah Alesya, si ayah langsung menoleh ke arah Daniel.


"Memang mau kemana, Dan? Kamu nggak berani pergi sendiri sampai harus mengajak Caca?" tanya Ayah.


"Mama minta aku ke tempat Jendis, Yah. Aku kan nggak bisa berangkat sendiri." Daniel langsung memasang wajah memelasnya.


Mendengar jawaban Daniel, sontak saja ayah langsung terkejut. Beliau berdehem dan mengubah ekspresi wajahnya.


"Oh, itu. Ehm, sebaiknya kamu temeni Daniel, Ca. Kasihan jika dia harus pergi sendirian."


Alesya yang awalnya merasa mendapat dukungan dari sang ayah, langsung membulatkan mulut dan kedua matanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika sang ayah justru malah membela Daniel.


"Ih, Ayah. Kenapa jadi ikut-ikutan Kuda, sih?" Alesya langsung menggerutu kesal.


"Nggak apa-apa, Ca. Sekalian bantu Daniel. Kasihan jika dia harus pergi sendirian." Ayah masih tetap membela Daniel.


Mendapat dukungan dari ayah Alesya, Daniel tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung kembali merengek kepada Alesya untuk menemaninya.


"Ayolah, Le. Temenin sebentar saja. Gue nggak mau mama semakin ngomel-ngomel jika gue nggak pergi hari ini juga." Daniel kembali merengek.


Karena dirinya sudah tidak mungkin mengelak lagi, akhirnya Alesya bersedia menemani Daniel. Setelahnya, Alesya segera bersiap-siap. Dengan mengendarai motor gedenya, Daniel dan Alesya langsung berangkat menuju tempat yang dimaksud.


"Nanti gue tungguin di luar saja," ucap Alesya saat Daniel sudah mengendarai motornya menyusuri jalanan ibukota.


Daniel menolehkan kepala sekilas ke belakang untuk menjawab ucapan Alesya.


"Cckkk. Enak saja. Lo harus ikut masuk. Gue nggak mau sendirian sama duda yang mengaku-ngaku janda itu." Daniel menggerutu kesal.


Eh, sebentar. Maksudnya apa duda yang mengaku janda? 🤔


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Klik like, komen dan kasih vote juga.


Cerita lainnya masih otewe ngetik.

__ADS_1


__ADS_2