
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Daniel segera berpamitan. Sebenarnya, dia masih ingin berlama-lama disana, namun Daniel merasa tidak enak saat teman-teman Alesya masih menggodanya. Ya, pada akhirnya semua teman KKN Alesya yang laki-laki mengetahui status pernikahan mereka.
Setelah kepergian Daniel menuju rumah sewanya, Alesya berjalan memasuki dapur. Dia ingin mengembalikan gelas kopi yang tadi sempat diminta oleh Daniel.
Saat memasuki dapur, Alesya benar-benar terkejut saat melihat keberadaan Fani disana. Fani terlihat sedang membuat mie instan yang cukup untuk beberapa orang. Fani menolehkan kepala ke arah Alsya yang baru memasuki dapur tersebut.
"Fan, buat mie? Banyak sekali?" tanya Alesya sambil melongokkan kepala ke arah mie yang sedang diaduk oleh Fani tersebut.
"Iya, buat rame-rame. Anak-anak sedang buat konsep panggung di atas. Mau gabung?" tawar Fani.
"Ehm, sorry deh. Ini gue juga masih banyak yang harus disiapkan buat besok."
Fani mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup mengerti agenda yang akan dilakukan oleh teman-temannya.
"Eh, Daniel sudah pulang?" tanya Fani setelah melihat Alesya selesai mencuci gelas.
"Iya, sudah."
"Kok malam-malam kesini? Berangkat dari rumah jam berapa?"
Alesya mengedikkan bahu. "Entahlah. Tadi katanya dia ada urusan, terus langsung ke sini."
__ADS_1
"Emang dia nggak capek, Sya? Jarak rumah kalian ke sini kan hampir dua jam. Apalagi malam-malam begini. Emang kamu yang nyuruh Daniel kesini malam-malam begini?"
Alesya mencebikkan bibir. Dari ucapan Fani, Alesya bisa menyimpulkan jika Fani menuduhnya meminta Daniel datang ke sana.
"Ngapain gue harus nyuruh-nyuruh atau larang-larang Daniel, Fan? Daniel itu orangnya keras kepala. Jika dia sudah punya niatan untuk melakukan A, maka dia akan melakukannya. Dia tidak akan tergoda untuk melakukan B apalagi C." Alesya menjawab pertanyaan Fani.
Fani menolehkan kepalanya sekilas ke arah Alesya. Keningnya berkerut dengan wajah terlihat tidak suka. Namun, dia berusaha terlihat biasa-biasa saja.
"Sebegitunya kamu sangat mengenal Daniel, Sya?"
Alesya mengedikkan bahu sambil berjalan keluar dapur.
"Tentu saja. Dari orok kita sudah barengan," jawab Alesya sambil lalu.
Malam itu, Alesya menyiapkan segala kebutuhannya untuk agenda esok hari. Dia dan teman-temannya yang mendapatkan tugas untuk divisi pendidikan, harus mengunjungi beberapa sekolah yang ada di desa tersebut. Mulai dari tingkat PAUD, TK, hingga sekolah dasar.
Sejak pagi, Alesya sudah bersiap-siap. Dia juga sudah menghubungi Daniel untuk membangunkan suaminya tersebut. Hari itu, Alesya harus berbagi tugas mengunjungi beberapa sekolah. Jadi, bisa dipastikan dia tidak akan bisa menemui suaminya tersebut.
Saat itu, Alesya kebetulan mendapat bagian untuk mengunjungi SD 2. Lokasi SD yang terletak di dekat balai desa dan PAUD, membuat daerah tersebut cukup ramai. Lokasi desa yang mayoritas berupa pegunungan, rupanya menyajikan pemandangan yang bagus di sepanjang jalan menuju lokasi sekolah berada.
Alesya yang saat itu berboncengan dengan Yusa, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan untuk menikmati udara desa yang masih sejuk.
__ADS_1
"Suami kamu disini, Sya?" tanya Yusa saat masih dalam perjalanan.
"Iya. Semalam datang kesini," jawab Alesya sambil masih fokus pada jalanan di depannya.
"Kok nggak disamperin?"
"Mana sempet, Yus. Ini kita sudah mepet sekali waktunya." Alesya mendengus sambil mencebikkan bibir.
"Ya, setidaknya bawakan sarapan atau apalah gitu. Masa iya si Daniel dibiarin gitu."
"Tadi sudah aku kasih tau untuk beli sarapan di warung dekat masjid. Atau kalau malas, buat mie saja. Kemarin sudah aku bawakan beberapa bungkus mie instan."
"Yuuhh, kasihan sekali nasibmu, Niel." Yusa mendramatisir ucapannya sambil mengusap dadanya.
Mendengar hal itu hanya bisa mendengus kesal. Hingga tak berapa lama kemudian, motor yang dikemudikan Alesya sudah memasuki area halaman sebuah sekolah dasar. Alesya dan Yusa langsung berjalan menuju sebuah bangunan yang ada di sebelah utara halaman sekolah. Bangunan tersebut adalah kantor kepala sekolah beserta guru.
Ketika Alesya dan Yusa hendak mencapai teras bangunan tersebut, kedua netra Alesya dikejutkan oleh sosok orang yang pernah dijumpainya. Alesya dan Yusa bahkan langsung menghentikan langkah kaki mereka di undakan teras.
"Lho, Alesya? Ternyata kamu yang ditugaskan di sekolah ini?" ucap sebuah suara yang terdengar sangat riang.
"Eh, i-iya Pak Sekdes."
__ADS_1
Hhmmm, ketemu lagi, nih.