Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Pembiasaan


__ADS_3

Setelah cukup mengobrol dan waktu juga sudah cukup malam, Desi dan Ferdian bergegas ke kamar untuk beristirahat. Meski masih ada kecanggungan diantara keduanya, namun Desi dan Ferdian mencoba untuk mencairkan kecanggungan dengan mengobrol hal-hal ringan. Tak terkecuali tentang pernikahan Alesya dan Daniel.


"Terus, Caca langsung mau begitu saja saat dini hari itu diminta untuk menikah dengan Daniel?" tanya Ferdian setelah mereka selesai bersih-bersih dan kini sudah saling duduk bersandar di atas ranjang. Ya, meskipun masih ada jarak diantara keduanya.


"Awalnya sih kaget, Mas. Dan, dia masih berusaha untuk mencerna maksud semua semua kejadian itu. Tapi, setelah mendapat penjelasan dari papa, mama, serta orang tua Caca, akhirnya Caca mau juga menikah dengan Daniel," jelas Desi.


"Ehm, apa sebelumnya mereka pernah terlibat romansa atau bahkan pernah pacaran?"


Desi menggelengkan kepala.


"Setauku sih nggak pernah, Mas. Bahkan, baik Caca maupun Daniel masing-masing pernah pacaran, kok. Mereka hanya terbiasa dekat karena sejak kecil sudah bareng-bareng. Teman-teman mereka juga sudah pada tahu jika mereka seperti keluarga karena rumah kami memang dempetan, kan."


Ferdian mengangguk-anggukkan kepala.


"Mereka beruntung bisa menikah dengan orang yang sudah dikenalnya sejak kecil. Jadi, sedikit banyak mereka pasti sudah hafal karakter masing-masing."

__ADS_1


Mendengar ucapan sang suami, seketika Desi menoleh. Dia mengerutkan kening sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Ferdian.


"Maksudnya apa? Memang orang yang menikah bukan dengan teman masa kecilnya tidak beruntung, begitu?" tanya Desi.


Ferdian langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Eh, nggak begitu maksudnya tadi. Maksudku, Daniel dan Caca beruntung menikah. Mereka tidak harus beradaptasi lagi dengan sifat dan karakter masing-masing, kan?"


Desi menggelengkan kepala dengan cepat. Dia seperti tidak sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Ferdian tadi.


"Aku rasa, sepertinya tidak begitu juga, Mas. Ya, meskipun Daniel dan Caca sudah saling mengenal sejak kecil, tapi mereka pasti tidak tahu tentang sifat dan karakter pasangannya jika di rumah seratus persen, kan. Baik Daniel maupun Caca selama ini tidak selalu bersama-sama terus, kok."


Ferdian mengangguk-anggukkan kepala. Dia baru menyadari ucapan istrinya itu ada benarnya.


"Ehm jadi, meskipun mereka sudah kenal sejak dulu pun juga masih perlu beradaptasi?"

__ADS_1


Desi menganggukkan kepala.


"Tentu saja, Mas. Meski pasangan sudah mengenal sejak lama, pasti mereka juga akan beradaptasi kembali jika sudah menikah. Ya, seperti kita ini. Harus membiasakan diri untuk berbagi kamar, tempat tidur, bahkan berbagi selimut," ucap Desi dengan wajah yang mendadak merah.


Hal yang sama pun juga dirasakan oleh Ferdian. Entah mengapa pembicaraan mereka menjadi canggung setelahnya.


"Kamu benar. Kita harus mulai membiasakan dengan aktivitas sebagai pasangan suami istri. Dan, sepertinya malam ini kita bisa mencobanya." 


Meskipun ucapan Ferdian tersebut tidak terlalu keras, namun Desi bisa mendengarnya dengan cukup jelas.


"Mencoba apanya, Mas? Bukankah kita sudah sepakat 'melakukannya' jika sudah di Jogja?" tanya Desi. Ya, baik Desi dan Ferdian sudah sepakat jika aktivitas 'itu' akan dilakukan saat sudah berada di Jogja nanti. Entah mengapa mereka masih merasa malu jika melakukan 'itu' di rumah untuk pertama kali.


"Bukan itu maksudnya. Tapi yang lainnya," ucap Ferdian sambil menggeser posisi duduknya.


"Emang ada yang lainnya, Mas?" Desi masih belum bisa mencerna maksud Ferdian.

__ADS_1


"Ada, kok. Mau aku tunjukkan?" tawar Ferdian yang langsung diangguki oleh Desi.


Grep.


__ADS_2