
"Untuk acara ijab kabul besok, bukan Desi yang akan melaksanakan pernikahan. Tapi, kamu dan Daniel yang akan menggantikan kedua mempelai," jawab Ayah Alesya.
"Hah?" Alesya langsung menatap bingung ke arah sang ayah. Dia masih belum bisa mencerna jawaban tersebut dengan baik.
"Maksudnya ini apa, Yah? Siapa yang akan menikah?"
Kali ini, mama Daniel yang bersuara. Mama Daniel yang sebenarnya masih menangis, langsung berpindah posisi di samping Alesya yang kebetulan saat itu sedang duduk di sofa panjang yang menghadap ke arah televisi.
"Ca, kamu sudah tahu cerita tentang perilaku Angga, kan? Tidak mungkin kami memaksakan Desi menikah dengannya. Kami tidak mungkin sanggup melihat anak perempuan kami satu-satunya sakit hati selama pernikahannya."
"Lalu, untuk masalah persiapan pernikahan, kami juga tidak mungkin membatalkan acara tersebut. Bagaimana kami akan menghadapi para tamu jika sampai mereka tahu kalau putri kami sudah dikhianati. Kami pasti tidak akan sanggup menghadapi omongan orang-orang, Ca." Mama Daniel menjeda ucapannya karena dia kembali terisak.
Alesya mencerna sedikit demi sedikit ucapan mama Daniel tersebut. Dan, memang benar apa yang diucapkannya itu. Orang-orang pasti banyak yang membicarakan hal itu nanti. Apalagi, banyak kolega bisnis papa Daniel yang akan hadir pada acara resepsi pernikahan tiga hari lagi.
Setelah beberapa saat menenangkan diri, mama Daniel kembali bersuara.
"Sayang, mama minta maaf jika kamu harus ikut terlibat untuk menyelesaikan masalah yang menimpa keluarga kami. Tapi selain itu, mama juga memikirkan masa depan Daniel. Setelah apa yang menimpa Desi, mama rasanya sulit sekali menerima orang baru. Mama hanya takut anak-anak mama kembali salah menemukan pasangannya."
"Ca, mama dan papa sangat berharap kamu mau menikah dengan Daniel. Kamu sudah mengenal Daniel sejak kecil. Kamu juga sudah mengetahui bagaimana sifat dan karakter Daniel. Kami yakin, kalian juga sudah saling menyayangi. Jadi, tidak akan sulit bagi kalian untuk menumbuhkan rasa cinta diantara kalian nanti," ucap mama Daniel.
Alesya hanya diam sambil terus menatap ke arah mama Daniel. Dia masih membutuhkan waktu untuk mencerna ucapan mama Daniel tersebut.
"Me-menikah, Ma?" Alesya kembali meyakinkan.
"Iya, Sayang. Kamu mau kan menikah dengan Daniel?" Mama Daniel tampak berharap.
__ADS_1
"Ke-kenapa harus Caca, Ma?" Alesya masih bingung.
"Seperti yang mama ucapkan tadi, Sayang. Mama rasanya masih trauma jika ada orang baru. Entah mengapa dengan membayangkannya rasanya hati mama terasa sakit. Apalagi, Daniel adalah anak laki-laki. Mama khawatir jika nanti dia menikah, istrinya tidak akan memperlakukan dia dengan baik."
"Tapi, jika Daniel menikah dengan kamu, mama yakin Daniel pasti akan mendapat perhatian dan perlakuan terbaik. Mama dan papa sudah sangat percaya kepadamu, Nak. Mau ya, menikah dengan Daniel?" ucap mama Daniel sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Alesya masih diam. Dia bingung harus menjawab apa. Alesya menoleh ke arah kedua orang tuanya. Hingga sang ayah, kembali bersuara.
"Ca, kami sebagai orang tua, tidak bisa memaksakan kehendak. Kalaupun kamu keberatan dengan permintaan kami, kami pun juga tidak bisa memaksa. Hanya satu hal yang mau ayah sampaikan. Dari semua laki-laki yang ayah kenal, tidak ada yang ayah percayai untuk bisa menjaga kamu dengan baik selain Daniel."
"Sedari kecil, kalian sudah tumbuh bersama. Kalian juga sudah saling mengenal. Ayah yakin, kedepannya nanti, kalian bisa menjadi pasangan dan partner hidup yang baik. Kalian bisa menjadi sahabat, pasangan suami istri, bahkan nanti bisa menjadi orang tua yang bisa saling melengkapi."
"Jadi, ayah dan ibu berharap, kamu menerima permintaan kami ini. Kami tidak mungkin memilihkan pilihan yang buruk untuk anak-anak kami, Ca. Kami yakin kalian bisa menjalani pernikahan ini dengan baik kedepannya. Bagaimana, Nak?"
Sontak saja tindakan mama Daniel tersebut membuat Alesya terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka jika mama Daniel akan melakukan hal seperti itu.
"Ma, jangan begini. Ayo, bangun, Ma." Alesya menarik-narik lengan mama Daniel agar segera beranjak berdiri. Namun, hal tersebut tidak langsung berhasil karena mama Daniel tetap bergeming.
"Tidak, Ca. Mama tidak akan berdiri sebelum kamu mau menikah dengan Daniel. Mama rasanya tidak percaya dengan perempuan lain yang bisa menjaga Daniel selain kamu, Sayang. Hiks hiks." Mama Daniel masih terisak.
Alesya langsung menoleh ke arah papa Daniel, dan kedua orang tuanya. Setelah itu, dia juga langsung menatap Daniel yang duduk di sofa single di sampingnya.
"Da?" Alesya hendak meminta bantuan Daniel.
Kali ini, Daniel menoleh dan menatap Alesya dalam-dalam. Sebenarnya, Daniel juga tidak mau menikah dengan cara seperti ini. Namun, karena dia memikirkan nama baik keluarganya, Daniel tidak punya pilihan lain selain menerima permintaan orang tuanya.
__ADS_1
"Kalau boleh jujur, gue juga masih belum mau menikah sekarang, Le. Kita masih muda. Masih banyak hal yang perlu kita raih. Tapi, kita tidak bisa memilih dan menentukan apa yang akan terjadi di kehidupan kita nanti."
"Lo tau sendiri, kami sejak lama telah mempersiapkan acara pernikahan ini. Kami sama sekali tidak memiliki pemikiran apapun tentang masalah seperti ini. Namun kenyataannya, lo lihat sendiri, kan?"
"Gue nggak bisa maksa lo untuk menerima pernikahan ini, Le. Kalau gue jadi lo, mungkin gue juga akan pikir-pikir dulu. Pernikahan bagi gue, bukan hanya terjadi selama satu atau dua tahun. Tapi, selamanya. Selama napas dan darah kita masih mengalir, selama itu pula kita harus tetap berjuang dan belajar untuk menjalani bahtera pernikahan itu."
"Kalaupun lo mau menikah dengan gue, gue juga nggak bisa menjanjikan pernikahan yang selalu mulus tanpa ada masalah. Tapi, gue bisa pastikan kita akan selalu bersama-sama menyelesaikannya."
"Lo tau gue banget, dan gue juga tau lo. Untuk rasa sayang, lo tahu gue sayang sama lo. Gue pastikan akan selalu menjaga dan berusaha untuk membahagiakan lo dan anak-anak kita nanti. Tapi untuk rasa cinta, gue nggak yakin bisa berjalan sendiri. Mari bersama-sama memunculkan dan menumbuhkan rasa itu," ucap Daniel panjang lebar.
Alesya yang mendengar ucapan Daniel tersebut, langsung membulatkan kedua mata dan mulutnya. Rasa-rasanya, baru kali ini Alesya mendengar ucapan Daniel yang panjang seperti ini.
Setelah itu, kedua orang tua Alesya juga mulai membujuk Alesya lagi. Bahkan, mama Daniel tidak mau beranjak berdiri sebelum Alesya menyetujui permintaan tersebut.
Tidak ada yang bisa Alesya lakukan setelahnya. Seluruh keluarga Alesya, menaruh harapan besar kepadanya.
Sambil memejamkan mata dan dengan bibir bergetar, Alesya menjawab permintaan keluarganya tersebut.
"Baiklah. Dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, aku menerima rencana pernikahan ini."
"Alhamdulillah."
***
Kasih vote yang banyak ya, biar cepet sahnya. 🤭
__ADS_1