
Mendengar ucapan mami Nia, sontak saja mama Daniel langsung nyeletuk heboh.
"Waahhh, kakak ipar?!" Mama Daniel langsung menoleh ke arah putrinya. Jangan lupakan wajahnya yang terlihat sangat terkejut, namun masih tampak binar bahagia. "Ini seriusan kalian ada hubungan, Des?" lanjut mama Daniel.
"Eh, ehm, ti-ti…," kak Desi langsung gelagapan. Namun, belum selesai dia melanjutkan ucapannya, tiba-tiba suara sang dosen terdengar.
"Eheemmm. Om, tante, Daniel, dan Alesya, sebelumnya kami minta maaf karena kedatangan saya beserta orang tua yang mendadak seperti ini. Kami juga mohon maaf telah merepotkan om, tante dan juga yang lainnya malam ini."
"Sebenarnya, kami tidak merencanakan ini jauh-jauh hari. Rencana kedatangan kami pun baru tercetus siang tadi saat mami dan papi hendak pulang dari Makassar. Dan, begini lah akhirnya. Kami benar-benar minta maaf karena hal itu."
"Dan, ehm, maksud kedatangan saya beserta orang tua malam ini, sebenarnya untuk meminta izin kepada Om dan Tante. Saya berniat untuk melamar putri Om dan Tante sebagai istri saya. Seperti yang Om dan Tante ketahui, sebelumnya saya memang sudah pernah menikah. Tapi, saya bisa menjamin jika saya masih perjaka, Om, Tante. Saya…," belum selesai si duren menyampaikan maksudnya, tapi mami Nia sudah memukul lengan putranya tersebut.
__ADS_1
"Bagian itu nggak usah dijelaskan juga kali, Fer! Ngapain kamu jelaskan jika kamu masih perjaka. Ada-ada saja kamu ini. Memang bagaimana kamu bisa membuktikan jika kamu masih orisinil dan belum terjamah?!" Ucapan mami Nia justru malah semakin absurd.
Desi dan keluarga yang mendengar perdebatan sang dosen dengan maminya, hanya bisa melongo. Baru kali ini mereka menemukan prosesi lamaran yang seperti ini. Beruntung papi Indra langsung menyadari tingkah aneh istri dan putranya tersebut. Papi Indra langsung menengahi anak dan istrinya itu, dan mengambil alih pembicaraan.
"Maafkan putra dan istri saya, Pak, Bu. Maklum, mereka sering sekali berdebat untuk hal-hal sepele. Apalagi, Ferdian ini putra kami satu-satunya. Entah mengapa usaha yang saya dan istri lakukan selama bertahun-tahun tidak bisa membuatkan adik untuk Ferdian. Padahal, usaha juga sudah kami lakukan setiap hari."
Astaga! Keluarga macam apa ini?! teriak Desi dalam hati. Entah mengapa dia jadi merasa malu dengan orang tua dan adiknya. Desi hanya bisa meremass ujung bajunya untuk meredakan pusing.
Mama dan papa Daniel langsung menoleh dan saling pandang. Bahkan, mulut mereka pun masih melongo saking kagetnya. Beruntung Daniel bisa segera menyadari situasi canggung tersebut. Dia buru-buru menanggapi ucapan papi Indra agar suasana kembali mencair.
"Benar itu, harus semangat, Dan." Papi Indra malah menyemangati.
__ADS_1
Karena merasa obrolan semakin tidak terarah, Ferdian langsung berbisik kepada orang tuanya.
"Pi, Mi, tolong diam dulu, dong. Aku kan belum selesai ngomong tadi," bisik Ferdian, tapi masih bisa didengar oleh yang lainnya.
"Ngomong yang bener. Jangan ngomong aneh-aneh lagi," ucap mami Nia sambil menatap kesal ke arah putranya.
Ferdian mengangguk dan kembali memasang ekspresi serius sebelum berbicara kepada orang tua Daniel.
"Om, Tante, saya minta maaf tentang ucapan saya sebelumnya. Tapi, saya serius dengan niat saya untuk melamar Desi. Sebenarnya, beberapa hari yang lalu saya sudah pernah membicarakan hal ini kepada Desi secara langsung. Bahkan, saya juga sudah menawarkan akan menikahinya setelah lulus S2 nanti. Tapi, Desi bilang jika saya harus menemui orang tuanya lebih dulu sebelum memutuskan menerima atau tidaknya lamaran saya. Dan, besar harapan saya Om dan Tante bisa menerima lamaran saya ini." Ferdian mengakhiri ucapannya sambil menatap ke arah mama dan papa Daniel.
Papa Daniel yang sudah bisa menenangkan keterkejutannya, langsung menoleh ke arah Desi dan Ferdian bersamaan sebelum akhirnya bersuara.
__ADS_1
"Tidak bisa!"
Potek hati si dosen 🤧