
Belum sempat Desi mencerna apa maksud Ferdian, tiba-tiba saja tubuhnya terasa ditarik dan berpindah ke atas pangkuan Ferdian. Desi bisa merasakan tangan suaminya yang masih memeluk pinggangnya dengan sangat erat.
Dan, karena hal itu pula wajah Desi dan Ferdian menjadi sangat dekat. Netra Desi masih membulat saat menyadari wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah sang suami.
"Ehm, a-apa-apaan ini, Mas? Ma-mau apa?" Desi mendadak gugup. Apalagi, dia bisa merasakan hembusan napas Ferdian mengenai wajahnya.
"Mau apa? Tentu saja mau mencoba hal lain selain 'itu'. Kita kan sudah halal. Kalau kamu lupa, aku adalah seorang duda. Sudah cukup lama aku menahan untuk hal seperti ini. Dan setelah menikah, boleh kan jika aku mau mencobanya?" ucap Ferdian sambil tersenyum dan mengerling nackal.
Melihat senyuman Ferdian, Desi langsung merasa engap. Entah mengapa sejak mengenal Ferdian yang memang sangat irit bicara dan senyum itu, semua orang menganggap senyuman Ferdian sangat mahal. Bahkan, ada beberapa teman Desi yang sempat mengabadikan senyuman dosen yang sangat irit bicara tersebut.
Tangan Ferdian langsung bereaksi saat melihat Desi sedikit tercengang. Dia mengusap pinggang Desi dan sedikit merem masnya hingga membuat si empunya kaget.
"Eh." Desi langsung membolakan kedua matanya karena kaget. "Ma-mas?"
__ADS_1
Ferdian masih menampilkan senyuman menggodanya. Entah mengapa dia merasa sangat suka melihat ekspresi Desi yang malu-malu mupeng itu. Apalagi, Ferdian yakin jika Desi bisa merasakan bagian bawah tubuhnya yang saat ini diduduki Desi, sedang membesar secara otomatis. Dan, tentu saja hal itu membuat Desi semakin gelisah. Dia bergerak-gerak tidak nyaman di atas pangkuan Ferdian.
"Kenapa, hhmm? Kamu nggak suka berada di posisi seperti ini?" tanya Ferdian. Kali ini, dia semakin mendekatkan wajahnya pada telinga Desi. Alhasil, tubuh keduanya semakin menempel.
"Eh, bu-bukan begitu. Ta-tapi ini, ehm…," Desi tampak kebingungan harus bagaimana menjelaskan kepada Ferdian.
Belum sempat Desi melanjutkan ucapannya, Ferdian justru semakin berani bertindak. Dia menelusupkan wajahnya pada leher Desi dan meninggalkan beberapa kecupan di sana. Tentu saja hal itu membuat bulu-bulu halus pada tubuh Desi meremang tidak karuan. Bahkan, Desi otomatis menahan napasnya saat bibir dan hidung Ferdian mulai mengeksplor lehernya.
"Ehm, a-apa yang ka-kamu lakukan, Mas?" cicit Desi sambil mende sahkan suaranya.
"I-ini."
Desi mencengkram kedua bahu Ferdian dengan kencang. Kedua matanya terpejam dengan wajah langsung mendongak ke atas seolah memberikan akses bagi Ferdian untuk berbuat lebih. Cckkk, kalau begini sih mau-mau meong, Des.
__ADS_1
Ferdian yang seperti mendapat izin dari Desi, langsung kembali bersemangat. Kali ini, bukan hanya bibir dan hidung saja yang menjelajah. Namun, lidah Ferdianjuga sudah mulai menari-nari dengan lincah. Bahkan, sesekali kecupan basah mendarat pada kulit sensitif Desi tersebut.
"Ehhmmmn, Ma-mas. I-ini mau apah?"
Tampaknya Desi sudah mulai terpengaruh oleh tindakan Ferdian. Darahnya terasa berdesir hebat saat tangan besar suaminya itu ternyata mampir di bagian depan tubuhnya. Tak hanya diam, rupanya tangan itu merem mas salah satu onderdil sintal Desi dengan lembuh.
"Aaahhhhh."
Entah mengapa bibir Desi langsung mengeluarkan suara menantang seperti itu. Ferdian yang mendengarnya jadi semakin bersemangat. Ferdian memindahkan wajahnya pada bagian sisi lain dari leher Desi. Kali ini, bukan hanya kecupan-kecupan basah yang diberikan. Namun, disertai dengan tanda merah yang jumlahnya tidak hanya satu.
"Ah. I-ini akan ada tandanya nanti." Desi yang ingin menolak, justru menekan kepala Ferdian agar tidak beranjak dari lehernya.
"Biarin. Biar semuanya tau kalau kamu milikku."
__ADS_1
"Hah."