Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Sudah Tahu Pemenangnya


__ADS_3

Pergulatan yang dilakukan oleh Alesya dan Daniel akhirnya berakhir setelah mereka sama-sama kelelahan. Napas keduanya ngos-ngosan seperti orang yang telah, ah sudahlah.


"Hah, hah, hah. Gue capek, Da." Alesya mengusap peluh yang sudah mulai mengalir pada keningnya.


"Ho oh, sama. Padahal kita cuma gini doang, tapi kok capek. Apalagi jika kita…," Daniel menggantungkan ucapannya.


Alesya yang sudah mulai paham kemana maksud ucapan Daniel, langsung melempar bantal ke wajahnya.


"Auuhhh. Apaan sih, Le?" Daniel langsung menggerutu kesal.


"Itu otak jangan halu mulu deh," Alesya mencebik kesal.


Daniel hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Saat ini, Daniel dan Alesya sama-sama terkapar di atas tempat tidur. Keduanya masih mengatur napas yang terasa ngos-ngosan. Hingga beberapa saat kemudian, keduanya mulai merasakan kantuk. 


Mungkin, karena aktivitas mereka seharian, baik Daniel dan Alesya bisa dengan mudah terlelap. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah terlelap ke alam mimpi. Bahkan, keduanya tidak sadar saat posisi tidur mereka tidak beraturan. Daniel dan Alesya juga langsung tertidur tanpa memakai selimut. 


Adzan subuh sudah berkumandang di beberapa masjid dan mushola yang berada di sekitar rumah Alesya. Pagi itu, Alesya bahkan tidak terbangun ketika suara adzan subuh sudah menggema. Biasanya, Alesya bisa langsung terbangun saat mendengar suara adzan.


Hal yang sama juga dialami oleh Daniel. Biasanya, Daniel memang lebih sering dibangunkan oleh papa dan mamanya untuk melaksanakan sholat subuh. Maklum, Daniel lebih sering begadang dan tidur menjelang dini hari.


Alesya semakin merapatkan tubuhnya di tempat yang hangat. Entah mengapa tidurnya merasa nyaman saat itu. Alesya bahkan tidak menyadari saat itu dirinya tengah berbantalkan lengan Daniel.


Hingga suara ketukan pintu, berhasil mengusik tidur Alesya. Alesya mengucek kedua matanya, dan mengerjap-ngerjapkannya. Sayup-sayup Alesya mendengar suara sang ibu dari luar kamarnya.


"Ca, bangun dulu. Sudah subuh." Ibu sedikit berteriak sambil sesekali mengetuk pintu kamar Alesya.


"Iya, Bu," jawab Alesya yang masih belum menyadari posisi tidurnya.


Hingga beberapa saat kemudian, telinga Alesya mendengar sebuah dengkuran halus tepat disampingnya. Sontak Alesya langsung menoleh. Kedua bola matanya membesar saat melihat Daniel tengah tertidur dengan nyenyak di sampingnya.


Alesya hendak berteriak, namun diurungkannya. Dia ingat jika saat ini statusnya sudah berubah menjadi istri dari Daniel, sahabatnya sendiri.


Sambil mendesahkan napas berat, Alesya beranjak dari tempat tidur. Dia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 04.15 subuh. Setelah menimbang-nimbang, Alesya memutuskan untuk ke kamar mandi. Dia segera menggosok gigi dan mengambil air wudhu.


Setelah selesai, Alesya segera membangunkan Daniel. Dan, seperti dugaannya, Daniel cukup sulit dibangunkan. Ditambah lagi, semalaman dia hampir tidak tidur. Dan tadi siang Daniel juga tidak beristirahat.

__ADS_1


Karena sulit membangunkan Daniel, akhirnya Alesya memutuskan untuk melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu. Dia akan membangunkan Daniel nanti setelah selesai beribadah.


Sekitar lima belas menit kemudian, Alesya sudah selesai menjalankan kewajibannya. Dia segera beranjak dan membuka semua jendela yang ada di dalam kamarnya. Meskipun masih pagi, Alesya sudah terbiasa membuka jendela agar udara pagi yang masih bersih, bisa masuk ke dalam kamarnya.


Setelah selesai, Alesya langsung berjalan menghampiri Daniel. Rupanya, Daniel merasa dingin setelah jendela kamar Alesya di buka. Daniel semakin mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya.


"Da, bangun. Sholat dulu, gih." Alesya menggoyang-goyangkan bahu Daniel. Namun, lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban.


"Kuda, cepetan bangun. Keburu siang ini," Alesya masih menggoyang-goyang tubuh Daniel.


Merasakan tidurnya terganggu, Daniel menggeliat sambil berbalik. Dia membuka kedua bola matanya perlahan-lahan. Daniel menatap Alesya yang sudah berdiri di sampingnya sambil bersedekap.


"Le, ngapain lo pagi-pagi di kamar gue?" Rupanya Daniel masih belum sadar dimana saat ini dia berada.


"Sembarangan kalau ngomong. Lihat, nih, lo dimana sekarang?" Alesya mencebikkan bibir.


Daniel mengedarkan tatapannya dan baru menyadari jika saat ini dia sedang berada di kamar Alesya. Daniel pun baru ingat jika sekarang dia sudah menikah dengan Alesya.


"Hehehe, maaf, Le. Masih loading gue. Lupa jika kita sudah menikah. Habisnya, lo nggak ngasih jatah gue, sih." Daniel menyeringai.


Secepat kilat, Daniel beranjak dari tempat tidur dan melompat turun. Karena kurang keseimbangan, alhasil Daniel terpeleset dan terjatuh hingga menubruk kursi rias Alesya. Daniel langsung nyungsep hingga kursi rias Alesya pun ikut terguling. Alhasil, pangkal paha Daniel pun terkena ujung kaki kursi rias tersebut.


Brukkkk.


"Aaarrgghhh." Suara kesakitan Daniel pun langsung terdengar. Namun, karena dia laki-laki, Daniel langsung mendesis sambil meringis setelahnya.


Alesya yang melihat hal itu, langsung panik. Dia buru-buru menghampiri Daniel dan membantunya berdiri.


"Aduuhh, maaf, Da. Gue nggak sengaja tadi. Lagian, sudah tahu ada kursi di situ malah lo tabrak," ucap Alesya sambil membantu Daniel berdiri.


"Nggak lihat gue, Le. Sshhhh," jawab Daniel sambil meringis. Rasanya, ada yang ngilu di bagian pangkal pahanya. Daniel benar-benar tidak menyangka jika pagi pertamanya sebagai seorang suami, harus merasakan sakit karena menubruk kursi rias.


Setelah itu, Daniel melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi. Dia menggosok gigi dan mengambil air wudhu. Tak berapa lama kemudian, Daniel sudah selesai. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan jalan yang sedikit kesulitan.


Alesya sudah menyiapkan perlengkapan sholat untuk Daniel. Setelah itu, dia segera keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Alesya ingin membuatkan kopi untuk Daniel. Dia sudah cukup hafal kebiasaan minum kopi suaminya itu.

__ADS_1


Di dapur, Alesya bertemu dengan ibu yang sedang memasak sarapan. Alesya tidak menyadari ekspresi ibu yang sudah senyum-senyum sendiri melihat Alesya saat memasuki dapur.


"Pagi, Bu." Alesya menyapa sang ibu sambil mengambil gelas.


"Pagi, Sayang. Bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya ibu.


"Capek, Bu. Rasanya tulang-tulangku seperti 'dipreteli'. Lemes banget."


Ibu langsung senyum-senyum setelah mendengar jawaban sang putri. Entah apa yang dipikirkan ibu hingga membuatnya tampak bahagia.


Belum sempat ibu menjawab, terdengar suara ayah yang baru saja pulang dari masjid komplek. Ayah langsung menghampiri istri dan putrinya tersebut di dapur.


"Suami kamu belum bangun, Ca?" tanya ayah sambil mengambil air putih.


"Sudah, Yah. Tadi masih sholat." Alesya menjawab sambil menuangkan air mendidih pada kopi Daniel.


"Mungkin tidur lagi, Ca. Kasihan Daniel pasti capek. Dia tidak tidur sejak semalam," ucap Ayah.


Belum sempat Alesya menjawab ucapan sang ayah, terdengar sebuah suara dari arah ruang tengah.


"Aku sudah bangun kom, Yah. Ini baru selesai sholat," ucap Daniel yang kebetulan tadi sempat mendengar ucapan ayah mertuanya.


Ketiga orang yang tengah berada di dapur tersebut, langsung menoleh ke arah Daniel. Maklum, dapur tersebut terbuka dan hanya dibatasi oleh mini bar. Jadi, mereka bisa melihat orang yang ada di luar dapur.


Saat melihat Daniel melangkah dengan pelan-pelan, sontak saja hal itu membuat ibu Alesya berteriak heboh.


"Yah, sudah tahu siapa pemenangnya kan?" 


"He?"


***


Sebentar, ini memang ada lomba apa sih Bu, kok ada pemenangnya segala?


Mumpung sudah ada jatah vote, kasih vote yang banyak untuk cerita baru ini ya, biar rame. Terima kasih. 🤗

__ADS_1


__ADS_2