Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Makan Malam


__ADS_3

Kedua pasang netra pengantin baru tersebut saling mengunci. Tatapan Ferdian bahkan sudah turun ke arah bibir ranum istrinya tersebut. Bibir berwarna merah ceri tersebut benar-benar menggoda Ferdian. Beberapa saat saling pandang, aktivitas keduanya buyar saat mendengar suara papa memanggil dari luar kamar. Seketika Ferdian dan Desi langsung melepaskan pelukan mereka.


"Ehm, i-itu papa sudah manggil-manggil. Sepertinya makan malam sudah siap," ucap Desi dengan suara gugup.


"Oh, iya. Sepertinya memang sudah waktunya makan malam." Ferdian menjawab tak kalah gugupnya.


"Ayo kita keluar sebelum mama turun tangan sendiri." Desi melangkah menuju pintu dan diikuti oleh Ferdian.


Desi dan Ferdian berjalan menuju ruang makan. Ternyata memang benar semua menu makan malam sudah siap. Bahkan, mama sudah menata semua makanannya di atas meja makan.


"Ayo, Fer. Mulai sekarang jangan sungkan-sungkan lagi. Rumah ini sudah menjadi rumah kamu juga. Jadi, buat senyaman mungkin. Jika ada yang kamu butuhkan, segera bilang ke Desi atau kami, ya," ucap mama sambil mengambilkan makanan untuk papa.


"Iya, Ma. Terima kasih." Ferdian menjawab sambil mengulas senyuman.


Ferdian yang hendak mengambil makanan langsung dicekal oleh Desi. Rupanya, Desi berinisiatif untuk mengambilkan makanan untuk Ferdian karena melihat sang mama selalu melakukan hal yang sama kepada papanya. Desi ingin meniru tindakan mamanya itu.


"Mau makan pakai apa, Mas? Ayam atau udang?" tanya Desi setelah mengambilkan nasi untuk Ferdian.

__ADS_1


"Eh, apa aja boleh."


"Mama masak ayam biasanya pedas. Kamu kan nggak terlalu suka terlalu pedas, Mas. Pakai udang mau?" tawar Desi.


"Iya, boleh." Ferdian menjawab dengan kikuk. Pasalnya, dia merasa tidak enak dengan orang tua Desi. Ferdian tidak mau jika mereka beranggapan dia suka pilih-pilih makanan.


"Kamu nggak suka pedas, Fer?" tanya papa setelah Desi selesai mengambilkan makanan untuk suaminya.


Namun, alih-alih Ferdian yang menjawab pertanyaan papa, namun Desi justru lebih dulu menyahut. "Suka kok, Pa. Tapi mas Ferdi hanya nggak suka terlalu pedas saja."


"Cckkk. Papa bertanya kepada suami kamu, Des. Kenapa kamu terus yang jawab." Papa mendengus kesal.


"Kalau mau buat suami kamu nyaman, kasih servisnya yang bener. Perlakukan suami kamu dengan baik. Saling memberikan kenyamanan untuk bisa selalu menyampaikan keinginan. Jangan apa-apa suka memaksakan keinginan sendiri," jelas papa.


"Iya, Pa." Desi menjawab dan diikuti anggukan oleh Ferdian. Setelahnya, makan malam pertama di rumah Desi pun dilanjutkan sambil dan diselingi obrolan ringan.


Setelah makan malam, papa dan Ferdian mengobrol di ruang tengah sementara para wanita sedang membereskan meja makan.

__ADS_1


"Kamu ada niatan untuk menetap di Jogja, Fer?" tanya papa sesaat setelah mereka berada di ruang tengah.


"Ehm, belum tahu juga, Pa. Tapi kemungkinan sih, enggak." Ferdian tampak kikuk. Entah mengapa dia mulai merasa tidak enak saat mertuanya membicarakan hal ini.


Papa mengangguk-anggukkan kepala sambil menyeruput wedang serai buatan mama.


"Kalau orang tua kamu bagaimana?" tanya papa.


"Papi dan mami sih membebaskan pilihan, Pa. Hanya saja, papi memang berharap jika saya bisa mengelola usahanya kelak."


"Yah, itu benar. Setidaknya, kamu satu-satunya pewaris untuk usaha yang sudah dirintis papi kamu dari nol. Akan sangat disayangkan jika usaha papi kamu dipegang oleh orang lain."


"Iya, Pa. Aku juga sempat memikirkan hal itu." 


"Mungkin, saat ini orang tua kamu masih sehat dan bisa menghandle semuanya sendiri. Tapi, kita tidak tahu nanti di masa depan seperti apa. Setidaknya, kamu bisa membagi waktu antara kewajiban dan tanggung jawab keluarga."


"Iya, Pa. Saya akan memikirkan ini semua baik-baik dengan Desi. Sekarang, sudah ada dua kepala yang yang harus disinkronkan segala sesuatunya. Jadi, saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri."

__ADS_1


Papa mengangguk-anggukkan kepala mengerti. "Ah, iya kamu benar. Selain itu, sekarang kamu juga harus memikirkan dua kepala atas dan bawah agar tidak nyut-nyutan di saat bersamaan," ucap papa dengan ekspresi santai.


Uhuk, si papa frontal sekali, sih. Ferdian kan jadi mupeng nanti. 🤧


__ADS_2