Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Penjelasan Daniel


__ADS_3

Alesya langsung melempar bantal yang tadi sempat dirapikannya. Dia menatap tajam ke arah Daniel sambil mengerucutkan bibir.


"Nggak usah aneh-aneh, deh. Kalau mau tidur, tuh di sebelah kiri. Jangan lupa, tidurnya hadap kiri juga," ucap Alesya.


Daniel yang masih memegang bantal yang tadi sempat dilempar oleh Alesya, hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Setelah itu, dia segera berjalan menuju bagian kiri tempat tidur Alesya dan segera beranjak menaikinya. Daniel duduk berselonjor sambil bersandar pada kepala tempat tidur. 


Hal yang sama juga dilakukan oleh Alesya. Dia juga duduk bersandar tak jauh dari Daniel. Keduanya tampak canggung untuk memulai obrolan. Hingga akhirnya, Alesya memberanikan diri untuk bersuara.


"Ehhmm, Da?"


"Apa?" Daniel menyahut sambil sedikit menoleh ke arah Alesya.


"Kok kita jadi nikah gini?"


Kening Daniel berkerut. Dia masih belum mengerti maksud ucapan Alesya.


"Maksudnya gimana?" tanya Daniel bingung.


"Ya, itu, ehm." Alesya tampak bingung harus menjawab apa. 


Daniel menghela napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan. Sebenarnya, bukan hanya Alesya yang merasa masih terkejut dengan perubahan status mereka. Daniel pun juga merasakan hal yang sama.


"Gue juga masih nggak nyangka jika kita bisa menikah," gumam Daniel tapi masih bisa didengar oleh Alesya.


Alesya menoleh sekilas dan menatap Daniel yang sedang mengusap wajahnya dengan kasar. Tampak ada ekspresi kekesalan di wajahnya. Dan, hal itu berhasil membuat Alesya berpikiran negatif. Alesya beranggapan jika Daniel menyesal menikah dengannya.


"Ehm, lo menyesal menikah sama gue, Da?" cicit Alesya sambil menundukkan kepala. Dia tidak berani menatap wajah Daniel.


Seketika Daniel menoleh sambil mengerutkan kening. 


"Menyesal? Nggak, lah. Gue nggak menyesal menikah sama lo."


Kali ini, Alesya berani menoleh dan menatap wajah Daniel lekat-lekat. Alesya yang memang sudah mengenal Daniel sejak kecil, bisa langsung mengetahui jika Daniel sedang berbohong atau tidak. Dan, kali ini Alesya yakin jika Daniel tidak sedang berbohong.


"Lo yakin tidak menyesal menikah sama gue?" tanya Alesya kembali memastikan.


"Tentu saja enggak," jawab Daniel sambil menggelengkan kepala.


"Lalu, kenapa ekspresi lo seperti tertekan begitu?"


Daniel menghembuskan napas beratnya sambil merebahkan kepalanya di atas bantal. Alesya masih diam sambil menunggu penjelasan Daniel.


"Gue bukannya menyesal, Le. Gue hanya masih kesal jika mengingat kejadian semalam. Kalau gue nggak ingat tempat, gue pasti akan memukul habis-habisan laki-laki breengseekk itu," Daniel menggeram kesal.


Kali ini, ucapan Daniel berhasil membuat Alesya tertarik. Dia menggeser tubuh hingga kini menghadap sempurna ke arah Daniel.


"Lo belum cerita ke gue tentang kejadian semalam, Da. Coba sekarang cerita ke gue secara detail," pinta Alesya.


Daniel menoleh dan menatap wajah penuh harap Alesya. Jika sudah berekspresi seperti itu, bisa dipastikan Daniel tidak akan bisa menolak keinginan Alesya.


Flashback on


Setelah mengambil bunga pesanan mama, Daniel memutuskan untuk membeli nasi goreng. Meskipun ada banyak makanan di rumah, entah mengapa dia ingin sekali makan nasi goreng yang sudah menjadi langganannya tersebut.

__ADS_1


Daniel membelokkan mobilnya ke arah SMA nya dulu. Malam itu, jalanan tidak terlalu ramai. Daniel juga hanya mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


Ketika Daniel sedang melewati daerah sebuah rumah sakit, tiba-tiba netranya menangkap sesosok laki-laki yang cukup dikenalnya. Seketika Daniel langsung melambatkan laju mobilnya dan memastikan penglihatannya.


"Kak Angga? Itu benar Kak Angga. Ngapain dia di rumah sakit dan buru-buru begitu? Siapa yang sakit? Apa keluarganya?" gumam Daniel.


Karena cukup penasaran, Daniel memutuskan untuk memasuki area parkir rumah sakit tersebut. Dia ingin mencari tahu mengapa Angga, calon kakak iparnya tersebut berada di sana.


Setelah memarkirkan kendaraan, Daniel segera berjalan menuju IGD karena tadi Daniel melihat Angga berjalan memasukinya.


Awalnya, Daniel ingin bertanya kepada petugas resepsionis tentang keberadaan Angga di sana. Namun, Daniel yang melihat posisi Angga berada di dekat jendela, dia bisa melihat siapa yang sedang ditunggu nya tersebut.


Daniel mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada petugas resepsionis. Selanjutnya, dia berjalan menuju arah jendela untuk melihat siapa yang sedang ditunggui oleh Angga.


Setelah berhasil mengintip, rupanya Daniel melihat seorang wanita muda yang tengah mengandung. Dia tampak berbicara dengan Angga sambil sedikit meringis dan memegangi perutnya. Angga juga tampak menenangkan wanita tersebut sambil sesekali mengusap kepalanya.


Daniel sama sekali tidak mengenal perempuan tersebut. Sepertinya, dia bukan keluarga Angga. Daniel beberapa kali bertemu dengan keluarga Angga, dan merasa sama sekali belum pernah bertemu dengan wanita hamil tersebut.


Karena cukup penasaran, akhirnya Daniel memutuskan untuk bertanya kepada seorang perawat yang kebetulan baru saja keluar dari dalam ruang IGD tersebut.


"Maaf, Sus. Boleh tanya sesuatu?" ucap Daniel.


"Eh, iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ehm pasien yang berada di dekat jendela itu sakit apa, ya? Yang sedang hamil," tanya Daniel.


"Oh, ibu Nita. Beliau baru jatuh, Mas. Usia kandungannya sudah tujuh bulan. Beruntung suaminya sigap dan langsung membawanya kemari."


Kening Daniel berkerut. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak.


"Ya yang menemani itu, Mas. Pak Angga kelihatan panik sekali tadi. Bahkan, beliau tidak sempat membawa barang-barang yang dibutuhkan istrinya. Jadi, tadi begitu datang, Pak Angga langsung membeli barang-barang keperluan istrinya."


Setelah mendengar jawaban suster tersebut, kedua mata dan mulut Daniel langsung terbuka dengan lebar. Dia bahkan langsung berdiri mematung dan tidak menjawab saat suster tersebut berpamitan. 


Daniel benar-benar langsung shock mendengar berita tersebut. Dan, tepat saat itu, Angga keluar dari ruang IGD. Keduanya langsung bertatapan. 


Tentu saja Angga cukup terkejut melihat keberadaan Daniel di sana. Belum sempat Angga bersuara, Daniel langsung mendekati dan mencengkram kemejanya. Setelah itu, Daniel langsung menarik Angga keluar IGD menuju tempat terbuka.


Begitu sudah berada di tempat terbuka, tanpa babibu, Daniel langsung melayangkan bogem mentah bertubi-tubi pada wajah Angga.


Bughh bughh bughh.


"Breeenggseekkk! Laki-laki bajingaaann! Lo tega-teganya bohongin kakak dan keluarga gue!"


Bughh bughh bughh.


Tentu saja tindakan Daniel yang tiba-tiba tersebut membuat Angga terkejut.


"Dan, tu-tunggu dulu. Gue bisa jelasin semuanya." 


Angga mencoba menghentikan tindakan Daniel. Namun, Daniel yang sudah kesetanan, langsung mengamuk membabi buta. Daniel melayangkan beberapa pukulan pada wajah dan perut Angga.


Tak mau kalah, Angga pun sempat membalas Daniel beberapa kali. Namun karena fisik Daniel lebih besar dari Angga, akhirnya Angga kewalahan dengan serangan Daniel.

__ADS_1


"Lo mau jelasin apalagi, hah? Lo mau mengelak jika lo sudah punya istri?!" 


Bughh.


"Tunggu, Dan. Gue jelasin dulu," jawab Angga yang saat ini sudah terkapar di atas tanah dengan napas tersengal-sengal.


Wajah Angga sudah babak belur tak berbentuk. Bahkan, darah sudah mulai mengalir pada sudut bibirnya.


Beberapa orang yang melihat perkelahian mereka, langsung berdatangan untuk menghentikannya. Namun, Daniel menjelaskan jika ini adalah masalah keluarga. Jadi, orang-orang tersebut menyingkir setelahnya.


"Katakan! Siapa wanita hamil itu? Benar dia istri lo?!" tanya Daniel dengan ekspresi geram.


Angga terlihat berusaha mengatur napas agar tidak tersengal-sengal saat menjelaskan kepada Daniel. Setelah sedikit lebih tenang, akhirnya Angga bisa bersuara.


"I-iya. Dia memang istri gue." 


Seketika emosi Daniel langsung naik kembali. Dia berjongkok dan menarik paksa Angga hingga berdiri.


"Lo bilang dia istri lo? Terus lo anggap apa kakak gue, hah?" 


Bughh buughh. 


Lagi-lagi Daniel menghadiahi Angga dengan pukulan bertubi-tubi hingga membuat Angga jatuh tersungkur. Saat Daniel hendak memukul lagi, Angga buru-buru mencegahnya.


"Tu-tunggu, Dan. Gue jelasin dulu. Dia memang istri gue. Tapi, gue akan menceraikannya setelah dia melahirkan," ucap Angga seakan tanpa dosa.


"Apa maksud lo dengan menceraikannya setelah melahirkan? Lo kira semudah itu lo bisa lepas tanggung jawab sebagai seorang laki-laki, hah?"


"Bu-bukan begitu, Dan." Angga menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya.


"Lalu, apa?! Lo kira kakak gue mau punya suami yang sudah beristri, hah?"


"Gu-gue…," belum sempat Angga menyelesaikan ucapannya, Daniel sudah kembali bersuara.


"Gue nggak sudi punya ipar seperti lo. Gue nggak rela kakak gue menikah dengan laki-laki breengseekk macam lo. Lo sudah berhasil menghianati dan bohongin kakak dan keluarga gue. Gue nggak akan biarin lo menikah sama kakak gue!" ancam Daniel.


Daniel langsung mengambil ponselnya. Dia hendak menghubungi sang papa untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Angga yang melihat hal itu, langsung berusaha meraih lengan Daniel.


"Lo mau apa, Dan? Jangan lakukan itu. Gue cinta sama kakak lo, Dan." Angga memelas di depan Daniel.


Daniel menoleh dan menatap Angga dengan tatapan bengis.


"Cinta? Cuuiiih," Daniel meludah ke sampibg dan menatap tajam ke arah Angga. "Jika lo cinta sama kakak gue, nggak mungkin lo tega menghianati kakak gue seperti ini!"


"Gu-gue khilaf, Dan."


"Khilaf? Mudah sekali lo bilang khilaf. Tanggung apa yang sudah lo lakuin," ucap Daniel berapi-api.


Setelah itu, Daniel segera menghubungi sang papa dan memintanya datang ke rumah sakit. Malam itu juga, papa membatalkan pernikahan Angga dan Desi.


Flashback off.

__ADS_1


***


Yang mau nungguin 'icip-icip' Ale dan Daniel, sabar dulu, ya. Belum waktunya. Sekarang masih meracik bumbu dulu. Eh, bumbu apa thor? Bumbu buat ngulek adonan 🤭


__ADS_2