
Alesya dan Daniel segera bersiap-siap begitu panggilan telepon Desi terputus. Meskipun masih belum tahu kemana Desi akan membawa mereka, Alesya dan Daniel tetap akan menuruti keinginan kakak Daniel tersebut.
"Memang mau kemana sih kak Desi sampai ngajakin kita berdua?" tanya Daniel sambil memakai celana jeans nya. Dia terpaksa melepaskan boxer kebesarannya dan mengurungkan niat untuk rebahan.
"Nggak tahu juga, Mas. Kak Desi nggak ngomong apa-apa tadi. Dia hanya bilang jika kita berdua harus ikut."
Daniel mendesahkan napas berat sambil mendudukkan diri di sofa kamar hotel tersebut. Daniel masih menunggu Alesya yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap.
Daniel mengambil ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang belum sempat dilihatnya tadi karena masih sibuk beres-beres begitu mereka tiba di hotel. Kening Daniel berkerut saat mendapati pesan dari pak Usman, orang yang dipercaya Daniel untuk menjaga kedai miliknya.
Tanpa menunggu lebih lama, Daniel langsung menghubungi pak Usman. Pada dering ketiga, panggilan telepon Daniel batu diangkat oleh pak Usman.
"Hallo, Pak. Ini maksudnya bagaimana?" tanya Daniel setelah menjawab salam dari pak Usman.
"Begini, Mas. Tadi pagi ada seorang bapak-bapak yang mampir ke kedai. Beliau terlihat sangat tertarik dengan kedai ini. Kebetulan tadi pagi ramai banget anak-anak sekolah yang mampir karena pulang pagi. Si bapak itu ngajakin kerjasama, Mas," jelas pak Usman.
__ADS_1
Daniel masih belum mengerti maksud ucapan pak Usman.
"Mengajak kerjasama bagaimana, Pak?"
"Ya, ngajakin kerjasama gitu, Mas. Beliau ternyata sedang cari lokasi untuk buka bengkel sekaligus tempat cuci kendaraan. Kata si bapak tadi, mungkin jika sekalian buat kedai seperti ini bisa mendapat keuntungan dobel. Begitu mas katanya tadi."
Daniel mengangguk-anggukkan kepala saat dia mulai memahami penjelasan pak Usman.
"Terus, kira-kira apa yang membuat si bapak tadi tertarik untuk kerjasama, Pak? Kalau mau buat kedai di samping bengkelnya, sebenarnya bisa kan buat kedai dengan menu sendiri."
Daniel mulai paham maksud si bapak. Memang benar makanan dan minuman yang disediakan di kedai Daniel sangat ramah di kantong anak sekolah. Daniel memang menargetkan para siswa mulai dari sekolah menengah pertama hingga mahasiswa untuk kedainya.
Kedai yang memang hanya terletak di sebuah ruko tak jauh dari SMA Daniel dan Alesya dulu, sudah cukup lama dikenal oleh para siswa. Apalagi saat ini, bagian rooftop kedai tersebut juga sudah dibuka untuk pelanggan. Daniel juga memiliki satu orang karyawan laki-laki yang baru dipekerjakannya sejak sebelum dia berangkat KKN kemarin untuk membantu pak Usman dan bu Aan, sang istri.
"Baiklah, Pak. Nanti kalau aku sudah kembali ke Jakarta kita bahas lagi masalah ini, ya. Ini aku dan Ale masih di Jogja soalnya," ucap Daniel beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Oh iya, Mas. Nanti jika si bapak mampir lagi, akan saya bilangin jika mas Daniel sedang honeymoon ke Jogja begitu," jawab pak Usman sambil terkekeh.
"Hahaha, pak Usman tau aja." Daniel langsung tergelak begitu mendengar ucapan pak Usman.
"Tau dong, Mas. Gini-gini bapak juga pernah muda dan pernah jadi pengantin baru. Yah, namanya juga pengantin baru, maunya nggak pingin keluar kamar dan diganggu. Pinginnya 'ngeces' terus. Hahaha."
Daniel hanya bisa ikut tertawa setelah mendengar gurauan pak Usman. Setelah itu, panggilan telepon tersebut langsung terputus. Saat itu, bertepatan dengan Alesya yang juga sudah selesai bersiap. Keduanya langsung bergegas menuju lobi untuk menunggu jemputan dari Desi.
Saat Alesya dan Daniel baru saja keluar dan menutup pintu kamar hotel, tiba-tiba dari arah belakang mereka terdengar sebuah suara.
"Lhoh, Daniel? Alesya? Astaga! Kalian sudah berani ngamar bareng?"
Maaf othor masih nebrang-nebrang sama kerjaan di real life. Jadi, upnya masih amburadul. 🙏
Semoga bisa secepatnya up lagi.
__ADS_1