Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Kejutan Pagi


__ADS_3

Kali ini, bukan hanya kak Desi yang kesalĀ  setelah mendengar ucapan Daniel. Namun, Alesya juga langsung mencubit pinggang Daniel saking kesalnya.


"Nggak usah ngomong aneh-aneh deh, Mas." Alesya mendelik tajam ke arah Daniel.


"Ya, begitu Ca. Cubit terus si Daniel jika berulah. Entah mengapa sejak menikah mulutnya jadi lemes begitu. Mentang-mentang sudah kenal dan merasakan lahan bergambut jadi merajalela." Kak Desi mencibir ke arah Daniel.


Mendapati omelan dari dua wanita di dekatnya, tentu saja Daniel menjadi semakin kesal.


"Sudah, sudah. Sudah cukup ngomentarin gue. Sekarang, gue mau tau apa yang membuat pak Ferdian langsung ngajakin lo nikah, Kak. Nggak mungkin kan kalau hanya lo kepergok ketemu orang tuanya di rumah dan nggak ngapa-ngapain."


Kak Desi hendak protes ketika mendengar ucapan Daniel. Namun, dia sadar jika nanti pasti tidak akan ada habisnya. Setelah itu, dia kembali menceritakan apa yang terjadi pada pertemuan ketiga di rumah dosennya tersebut.


"Waktu itu, aku mendapat tugas untuk merapikan jurnal. Aku mengerjakan tugas itu di perpustakaan kampus ya, sekalian mengerjakan tugas kuliahku sendiri. Aku sama sekali tidak sadar jika pak Ferdian menghubungiku berkali-kali karena saat di perpustakaan ponselku dalam mode silent."

__ADS_1


"Baru saat menjelang perpustakaan tutup, aku baru mengetahui sudah ada enam belas panggilan tidak terjawab dan puluhan pesan suara dari pak Ferdian. Saat itu, tentu saja aku gugup dan panik. Pak Ferdian berada di IGD karena terkena sabetan pisau dari geng motor yang sedang berseteru. Jika kalian ingat, beberapa bulan yang lalu, memang keadaan di sini memang tidak kondusif."


"Saat itu, aku langsung bergegas menuju rumah sakit untuk menjemput pak Ferdian. Beruntung luka tusukan hanya mengenai lengan kanan atas dan tidak terlalu dalam, jadi hanya mendapat empat jahitan."


"Kebetulan juga waktu itu masih musim hujan. Alhasil, baju kami pun ikut basah meskipun sudah memakai payung saat hendak naik dan turun dari taksi. Aku bahkan sampai meminjam baju milik mama pak Ferdian saking basahnya kemeja yang aku pakai saat itu."


"Nah, waktu itu aku memang agak sedikit lebih lama karena harus membantu menghangatkan makanan untuk makan malam pak Ferdian. Kami pun berakhir dengan makan malam bersama di ruang tengah."


"Lumayan lama kami mengobrol, hingga selesai kami makan malam. Saat itu, pak Ferdian memintaku menginap karena hujan sepertinya tak kunjung reda. Ada dua kamar di rumah itu. Satu kamar untuk pak Ferdian, dan satu kamar untuk orang tuanya."


"Sebenarnya, pak Ferdian memintaku untuk memakai kamar yang biasa digunakan oleh orang tuanya, tapi aku merasa tidak enak. Aku juga tidak mungkin tidur di dalam kamar pak Ferdian. Entah mengapa aku tidak nyaman saja."


"Jadilah malam itu aku tidur di sofa yang ada di depan televisi. Mau tidak mau, pak Ferdian mengizinkannya. Setelahnya, aku pun menyibukkan diri untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Hingga menjelang tengah malam, aku baru bisa terlelap."

__ADS_1


"Pagi hari, entah bagaimana caranya tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang mengusik tidurku. Aku membuka mata dan mendapati pak Ferdian tengah menunduk sambil berusaha menutupi tubuhku dengan selimut."


"Karena terkejut, aku langsung buru-buru bangun. Tanpa sengaja aku menendang lutut pak Ferdian hingga membuatnya terhuyung ke depan dan meninndih tubuhku. Tentu saja aku langsung berteriak karena panik sekaligus kaget."


"Saat itu, pak Ferdian juga langsung berusaha berdiri sambil menarik selimut agar tidak menyulitkan ku beranjak. Namun, ternyata apa yang terjadi tadi membuat kesalahpahaman. Entah bagaimana caranya mama Nia tiba-tiba datang sambil menyeret koper. Beliau langsung berteriak histeris saat melihat posisi kami."


"Aku langsung berdiri sambil merapikan pakaian dan rambutku yang berantakan. Aku masih kaget dengan kedatangan mama Nia yang tiba-tiba itu. Namun, ucapannya setelah itu benar-benar membuat aku dan pak Ferdian mematung."


"Astaga, Fer! Kamu bobol perrawan anak orang?!"


"Mama Nia langsung berteriak histeris saat melihat noda merah darah di atas sofa. Pak Ferdian juga langsung melotot melihat apa yang baru saja ditunjukkan oleh mamanya itu. Dan, saat itu aku baru menyadari jika noda merah itu adalah datang bulanku yang ternyata tembus hingga ke sofa."


🤧

__ADS_1


__ADS_2