Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Nafkah Daniel


__ADS_3

Daniel yang mendengar ucapan sang mertua, langsung menghentikan langkah kakinya. Dia menarik kursi meja makan yang menghadap ke arah dapur. Daniel masih belum mengerti maksud ucapan mertuanya tersebut.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Alesya. Dia masih bingung dengan ucapan ibunya tersebut.


"Menang? Memangnya menang apa, Bu? Ada perlombaan?" tanya Alesya bingung.


Seketika ibu langsung senyum-senyum sendiri sambil melirik ayah.


"Enggak, Ca. Nggak ada lomba-lombaan. Sana, kamu kasih kopinya untuk suami kamu," ibu menyuruh Alesya untuk segera mengantarkan kopi.


Sambil mencebikkan bibir, Alesya segera membawa kopi tersebut ke hadapan Daniel. Sambil mengulas senyum tipis, Daniel mengucapkan terima kasih kepada Alesya.


"Makasih, Le. Lo tau aja kebiasaan gue," ucap Daniel setelah menerima pemberian kopi dari Alesya.


"Ccckkk. Gue hampir tau semua kebiasaan lo, Dan. Ingat, kita tumbuh bareng dari kecil," jawab Alesya sambil berjalan kembali menuju dapur.


Ayah yang sejak tadi memperhatikan interaksi putri dan menantunya tersebut, langsung beranjak berdiri dan menghampiri Daniel di meja makan.


"Mau kopi, Yah?" Daniel menawari ayah mertuanya.


"Nggak, Dan. Kamu saja."


"Hhmmm."


"Dan, Ca, boleh ayah ngomong sama kalian?" tanya ayah sedikit mengeraskan suaranya agar Alesya yang tengah berada di dapur bisa mendengar suaranya.


Seketika Alesya menoleh dan mengerutkan kening. Hal yang sama juga dilakukan oleh Daniel. Dia menatap wajah ayah mertuanya dengan kening berkerut.


"Mau ngomong apa, Yah?" Daniel bertanya.


"Begini, Dan. Saat ini, kalian kan sudah menikah. Status kalian sudah menjadi sepasang suami istri. Cepat atau lambat, ayah tahu jika kalian nanti pasti akan memiliki anak juga. Oleh karena itu, ayah minta mulai sekarang kalian mengganti panggilan. Jangan pakai 'lo gue' lagi. Takutnya nanti jika kalian sudah punya anak, anak-anak kalian akan terbiasa dengan panggilan seperti itu."


"Lagipula, tidak enak juga didengar jika kalian ngomong masih menggunakan 'lo gue'. Rasanya seperti tidak menghargai pasangan," ucap ayah panjang lebar.


Alesya dan Daniel yang mendengarkan ucapan ayah, masih diam tak bersuara. Mereka mulai mencerna semua ucapan ayah yang memang ada benarnya. Rasanya juga tidak begitu nyaman jika menggunakan 'lo gue' saat berbicara dengan pasangan. 

__ADS_1


Daniel menoleh ke arah Alesya yang ternyata juga sedang menatapnya saat itu. Kedua pasang manik tersebut saling bertemu, seolah sedang berbicara. Hingga beberapa saat kemudian, Daniel memalingkan wajahnya untuk menatap wajah ayah.


"Iya, Yah. Sepertinya kami memang harus mengganti panggilan. Rasanya tidak nyaman juga jika harus menggunakan 'lo-gue' saat ngobrol."


Sebelum ayah menyahuti ucapan Daniel, ibu langsung menyahut dari arah dapur.


"Benar itu, Dan. Bakal nggak nyaman jika masih pakai 'lo gue'. Nanti akan terasa seperti orang asing. Apalagi, saat ibadah di atas ranjang. Bagaimana coba rasanya jika masih pakai 'lo gue'," ucap ibu sambil tertawa cekikikan.


Mendengar ucapan ibu, sontak saja Alesya dan Daniel langsung membulatkan kedua bola matanya. Mereka benar-benar tidak menyangka jika obrolan ibu sudah langsung menjurus ke arah aktivitas ranjang. Selama ini, ibu memang tidak pernah nyerempet ke hal-hal yang berbau encum saat berbicara. Ya, hal itu mungkin karena putrinya belum menikah.


Namun, saat ini keadaan sudah berbeda. Alesya sudah menikah. Bahkan, dia menikah dengan laki-laki yang sudah ibu kenal sejak kecil dan sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Jadi, ibu merasa sudah tidak sungkan-sungkan lagi saat menyerempet ke hal-hal berbau 'encum'.


Ayah yang mendengar ucapan ibu, langsung berdehem sedikit lebih keras untuk menarik perhatian ketiga orang tersebut. Dan, ternyata apa yang dilakukan oleh ayah berhasil menarik perhatian ketiga orang tersebut.


Ayah menatap ke arah ibu dengan tatapan menegur. Tentu saja ibu sudah bisa mengerti arti tatapan ayaj tersebut. Ibu hanya mencebikkan bibir tanpa merasa bersalah. Menurut ibu, hal itu masih wajar. Apalagi, dia juga bermaksud untuk memberikan pengertian kepada putri dan menantunya tersebut.


Ayah yang melihat ibu tampak biasa-biasa saja, hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Hingga tak berapa lama kemudian, sarapan sudah siap. Mereka sarapan bersama seperti hari-hari biasa. Daniel memang lumayan sering ikut sarapan di rumah Alesya. Jadi, dia sudah tidak canggung lagi.


Hari itu, ayah berangkat ke sekolah seperti biasa. Kemarin, beliau memang meminta izin karena harus menjadi wali nikah bagi putrinya tersebut.


Tak berapa lama kemudian, Alesya juga datang ke rumah Daniel dan ikut bergabung dengan keluarga besar Daniel. Alesya yang memang sudah cukup mengenal keluarga besar Daniel, tidak perlu khawatir untuk membiasakan diri. Dia sudah cukup dekat dengan mereka.


Hingga menjelang pukul sebelas siang, Alesya dan Daniel kembali ke rumah Alesya. Siang ini, Alesya ada jadwal kuliah. Sementara Daniel, akan mengantarkan istrinya tersebut ke kampus. Hari itu, Daniel tidak ada jadwal kuliah.


"Hari ini satu mata kuliah, kan?" tanya Daniel saat menunggu Alesya bersiap-siap.


"Iya. Tapi, nanti ada pertemuan untuk bahas masalah KKN. Kurang dari dua minggu lagi kan sudah mulai," jawab Alesya.


Daniel yang kembali ingat dengan jadwal KKN tersebut, langsung mulai menimbang-nimbang sesuatu. Saat ini, status mereka sudah berubah. Jadi, Daniel sudah harus mulai memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan. Jika mengingat banyak terjadinya cinta lokasi saat KKN, membuat Daniel harus ekstra waspada.


"Kalian mau janji ketemuan dimana?" tanya Daniel.


"Di kafe biasa, sih. Ada apa?" Alesya menolehkan kepala untuk melihat ke arah Daniel.


"Aku ikut," jawab Daniel dengan ekspresi serius.

__ADS_1


"Eh, mau ngapain ikutan segala? Lo kan nggak masuk kelompok kita."


Daniel mendelikkan kedua bola matanya.


"Masih lo, lo, aja. Pakai 'aku'," ucap Daniel.


"Eh, sorry, lupa." Alesya langsung cengengesan.


Daniel hanya bisa mencebikkan bibir. Sebelum berangkat, Daniel menarik tangan Alesya agar duduk di sampingnya. Mau tidak mau, Alesya menuruti keinginan Daniel. Meskipun merasa canggung, namun Alesya dan Daniel harus membiasakan diri melakukan aktivitas sedekat itu.


"Ada apa?" tanya Alesya bingung.


Daniel segera mengambil dompet yang ada pada saku celananya. Setelah itu, dia segera membuka dan mengambil sebuah kartu ATM. Daniel memberikan kartu tersebut kepada Alesya.


"Itu buat kamu," ucap Daniel setelah memberikan sebuah kartu ATM kepada Alesya.


"Eh, untuk apa kartu ini?" tanya Alesya bingung.


"Tenti saja untuk kebutuhan kamu. Anggap saja itu nafkah dariku. Ya, meskipun belum banyak, tapi aku rasa masih bisa mencukupi kebutuhan kamu," jawab Daniel.


Alesya langsung membulatkan mulut dan kedua matanya. Dia tidak menyangka jika Daniel memberinya sebuah kartu ATM sebagai bentuk usahanya untuk memberi nafkah.


"Ta-tapi nggak harus kasih kartu ini juga, Da. Lo, eh, kamu jauh lebih membutuhkan kartu ini dari pada aku." Alesya mengembalikan kartu tersebut kepada Daniel.


"Tenang saja. Aku masih punya kartu yang lain. Ini berisi pendapatan bersih dari kedai. Isinya juga tidak banyak, kok." Daniel berusaha menjelaskan.


Kening Alesya berkerut. Dia masih belum bisa menerima kartu pemberian Daniel tersebut.


"Lalu, untuk modal sama lainnya bagaimana?" tanya Alesya.


"Tenang, itu sudah masuk ke rekening aku yang satunya. Kamu tenang saja. Aku memang menyisihkan uang untuk operasional kedai dan lainnya. Uang yang ada di dalam kartu itu memang uang aku sendiri. Jadi, tidak ada sangkut pautnya dengan usahaku."


Mendengar ucapan Daniel, tampak kedua mata Alesya berkaca-kaca. Dia sama sekali tidak menyangka jika Daniel akan bersikap seperti seorang suami sungguhan yang menafkahi istrinya.


Eh, tunggu! Memangnya Daniel suami jadi-jadian, Le?

__ADS_1


__ADS_2