
Mohon maaf, kemarin belum bisa up. Ini othor selesaikan sekalian bab panas dinginnya agar tidak ada yang bilang nanggung lagi. Kata Dilan nggak enak jika harus nanggung. ðŸ¤
***
Daniel tersenyum puas saat melihat sang istri kelojotan karena baru saja melakukan pelepasan pertamanya. Dia cukup puas dengan reaksi tubuh istrinya tersebut. Namun, Daniel tidak berhenti sampai situ. Dia kembali beraksi.
Kali ini, Daniel menggunakan jari-jari tangannya untuk mulai membuat Alesya kembali kelojotan. Daniel mulai berhitung dengan satu jarinya. Satu satu satu. Satu satu satu. Hingga Alesya mulai kelojotan dan meracau tidak karuan.
Tidak puas dengan tingkah istrinya, Daniel kembali berhitung. Kali ini, dia tidak berhitung satu satu satu lagi. Tapi, Daniel sudah mulai pintar. Jadi, dia mulai menghitung dua dua dua. Dua dua dua.Â
Ngomong-ngomong, itu hitungan kok hanya satu dua satu dua sih, Da? 🙄
Hingga tak berapa lama kemudian, Alesya kembali terpekik dan diiringi tubuh yang sudah kelojotan tak terkendali. Daniel lagi-lagi tersenyum puas melihat sang istri mencapai pelepasan yang kedua kalinya.
Hah hah huh huh hah hah.
Suara napas Alesya yang memburu memenuhi kamar rumah sewa Daniel. Suara hujan yang mulai deras kembali pun mengiringi aktivitas malam pasangan baru suami istri tersebut.
Daniel beranjak berdiri dan mulai melucuti sendiri pakaiannya. Sambil masih menatap Alesya dengan tatapan penuh damba, Daniel langsung melempar kaos dan celananya hingga teronggok di bawah meja yang berada di dekat pintu.
__ADS_1
Alesya yang awalnya belum menyadari apa yang Daniel lakukan, masih berusaha mengatur napasnya yang masih memburu. Namun beberapa saat kemudian, kedua bola mata Alesya terbuka dan langsung membulat dengan sempurna. Jangan lupakan mulutnya yang juga langsung membulat saat menyadari sang suami sudah polosan dan merangkak ke arahnya.
"Eh, D-Daaa? Ma-mau apa?" cicit Alesya. Otaknya mendadak blank saat secara tidak sengaja dia melihat sesuatu yang tegak mengacung ke depan saat Daniel merangkak.
"Mau kamu," jawab Daniel sambil menatap manik Alesya dengan tatapan mupeng.
"Aa-aakuu?"
"Hhhmmm."Â
Daniel langsung mencengkram kedua tungkai kaki Alesya dan menekuknya hingga lutut Alesya mengenai daa daa nya. Tindakan tiba-tiba Daniel tersebut membuat Alesya menjerit kaget sekaligus malu.
"A-apa yang kamu lakukan, Da?" Alesya bergerak-gerak gelisah.
Jangan lupakan aktivitas di bawah sana. Rupanya, Daniel mulai mengenalkan kepala Dj di lahan yang mulai malam itu sudah diklaim menjadi lahan pribadi miliknya tersebut.Â
Daniel menggerakkan ke atas bawah atas bawah hingga membuat si pemilik lahan merem melek sambil menggigiti bibir bawahnya untuk menahan deesahan agar tidak keluar dari mulutnya tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, Daniel merasakan lahan pribadi tersebut sudah kebanjiran.Â
Alesya yang awalnya menutup kedua matanya, memberanikan diri untuk melihat apa yang sedang Daniel lakukan hingga membuat tubuhnya terasa panas dingin tersebut. Hingga, lagi-lagi kedua bola mata Alesya semakin membesar saat melihat sesuatu yang sudah menggantikan jari Daniel di bawah sana.
__ADS_1
"Ge-gendut sekali. A-pa muat, Da?" tanya Alesya sambil bergidik ngeri.
"Tenang saja, pasti muat kok," jawab Daniel di sela-sela giginya.
"Ka-kalau tidak bisa masuk semua ba-bagaimana? I-itu juga panjang."Â
"Gampang. Nanti aku dorong masuk pasti muat. Orang bayi sepanjang itu saja bisa masuk, apalagi ini yang hanya sebesar lengan bayi yang baru lahir," jawab Daniel masih melakukan aktivitas di bawah sana.Â
Dan, kali ini Daniel tidak hanya bergerak ke atas dan ke bawah. Dia sudah mulai melongokkan kepala bawahnya ke dalam rumah barunya tersebut.
"Aaahhh, Daaaa. Eehmmmm."Â
Alesya sudah mulai menggelinjang tidak karuan saat Daniel mulai menjalankan aksinya tersebut.
"Kamu sudah siap? Sudah kebanjiran nih," ucap Daniel.
Alesya hanya bisa menganggukkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya. Setelah membaca doa dalam hati, Daniel mulai mengeksekusi tindakannya tersebut. Alesya langsung menahan napas saat merasakan desakan benda gemuk nan panjang mulai memasuki area pribadinya tersebut.
Rasa perih dan nyeri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, seketika dirasakan oleh Alesya. Dia bahkan menahan napas saat benda itu mendesak semakin dalam. Kening Alesya berkerut dan tangan mereemas sprei dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Sakit?"
Ccckkk masih tanya lagi, Da. Othor tampol nih.