
Kedua bola mata Alesya langsung membulat setelah mendengar ucapan Daniel. Setelahnya, Alesya langsung mencubit pinggang Daniel hingga membuat si empunya meringis kesakitan.
"Aduuuhh, duhhh, Le. Sakit, ih." Daniel langsung mengusap-usap pinggangnya bekas cubitan Alesya sambil mengerucutkan bibir.
"Aneh-aneh saja kalau ngomong. Aku kira beneran ada yang berantakan tadi," jawab Alesya.
Belum sempat Daniel menyahuti ucapan Alesya, sebuah panggilan dari mama Daniel menyita perhatian mereka.
"Ah, ternyata kalian ada di sini. Ayo, cepetan. Sudah mau mulai acaranya," ucap mama Daniel sambil menarik lengan Alesya.
Daniel hanya bisa pasrah saat mamanya menarik tangan Alesya dan meninggalkannya di belakang. Namun setelah itu, Daniel segera menyusul mama dan istrinya tersebut.
Acara resepsi hari itu berjalan cukup lancar. Banyak sekali kolega papa dan mama Daniel yang turut hadir pada acara resepsi tersebut. Bahkan, beberapa diantara tamu yang hadir dan sudah cukup mengenal keluarga Daniel, langsung terkejut saat melihat Daniel dan Alesya yang bersanding di pelaminan. Mereka mengira jika acara resepsi pernikahan tersebut untuk Desi dan Angga, mantan calon suaminya dulu.
Papa dan mama Daniel, hanya menjelaskan jika pernikahan Desi harus terpaksa ditunda karena ada sesuatu dan lain hal. Dan, beruntung Daniel juga sudah siap menikah. Begitulah alasan kedua orang tua Daniel dan kerabatnya apabila ada yang bertanya.
Sedangkan untuk keluarga dan sahabat keluarga Alesya, mereka hanya mengundang beberapa orang yang sudah mengenal dekat karena keterbatasan waktu. Ayah dan ibu Alesya hanya mengundang sekitar lima puluh tamu undangan. Itupun hanya diundang melalui panggilan telepon.
__ADS_1
Menjelang siang, para tamu undangan juga semakin banyak. Alesya dan Daniel, harus berusaha tersenyum saat menyambut para tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka.
Ketika menunggu tamu bergiliran mengucapkan selamat kepada pengantin, Alesya mendekatkan tubuhnya ke arah Daniel. Dia berbisik sambil sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Daniel.
"Da, kakiku rasanya kram, nih. Tumitku terasa sakit," bisik Alesya. Rasanya, Alesya benar-benar merasa sakit pada kedua kakinya.
Pasalnya, Alesya memang jarang sekali menggunakan sepatu dengan hak tinggi tersebut. Hal itu dilakukan untuk mengimbangi tubuh Daniel yang memiliki tinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeter. Sedangkan Alesya, hanya memiliki tinggi badan seratus enam puluh lima sentimeter.
Daniel menundukkan kepala dan melihat Alesya menggerak-gerakkan kakinya untuk menumpu tubuhnya bergantian antara kaki kanan dan kaki kiri.
Alesya menggelengkan kepala dengan lemah.
"Nanti kalau lepas sepatu, akan terlihat jika aku pendek, Da." Alesya langsung mengerucutkan bibir.
Belum sempat Daniel menyahuti ucapan Alesya, ada tamu yang menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat. Mau tidak mau, Daniel dan Alesya memasang senyuman terbaik mereka sambil mengucapkan terima kasih.
Setelah para tamu tersebut turun dari pelaminan, Daniel mengalihkan kembali tatapannya kepada Alesya.
__ADS_1
"Aku mintakan kursi kecil buat kaki kamu, ya?" ucap Daniel yang merasa kasihan kepada Alesya.
Alesya langsung mengangguk mengiyakan ucapan suaminya tersebut.
"Iya, boleh. Itu lebih baik daripada diam berdiri menggunakan sepatu tinggi ini," jawab Alesya.
Hingga tak berapa lama kemudian, Daniel meminta salah seorang kru acara tersebut untuk mengambilkan kursi kecil yang bisa digunakan untuk pijakan kaki Alesya. Beruntung, kru tersebut menyediakan kursi kecil. Alesya dengan senang hati menerima kursi tersebut.
Selanjutnya, acara berlangsung dengan lancar. Bahkan, ada beberapa sahabat papa Daniel yang sempat menggoda kedua mempelai.
Daniel dan Alesya tidak mengundang para sahabat mereka. Alasannya, karena keterbatasan waktu dan keduanya juga tidak ingin ada berita miring yang beredar. Namun rupanya, tanpa mereka sadari ada yang mengetahui pernikahan Daniel dan Alesya tersebut.
"Lho, ka-kalian kok nikah?"
Hhmmm, siapa sih itu?
Mohon maaf masih belum bisa ngetik banyak 🙏🤧
__ADS_1