Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Jamur


__ADS_3

Alesya dan Yusa dipersilahkan masuk ke kantor oleh pak Suryanto, kepala sekolah. Refan yang tadi sudah hendak beranjak kembali ke balai desa, langsung mengurungkan niatnya. Dia berbalik dan mengekori Alesya dan Yusa menuju kantor.


Setelah acara perkenalan, Alesya dan Yusa mulai menjelaskan rencana program kelompok KKN mereka terkait pendidikan. Mereka ingin memberikan tambahan pengetahuan tentang pembelajaran dengan menggunakan media kepada para pengajar dan siswa di sana. 


Tentu saja kepala sekolah menyetujui rencana tersebut. Selain sebagai sarana untuk memperkenalkan media pembelajaran, program yang ditawarkan kelompok Alesya tersebut bisa digunakan untuk memberikan suasana yang berbeda untuk proses pembelajaran.


Refan yang juga ikut mendengarkan penjelasan Alesya dan Yusa, juga tampak bersemangat sekali. Dia bahkan berujar untuk siap membantu jika dibutuhkan bantuan dari pemerintah desa.


Hingga menjelang pukul sembilan, pertemuan tersebut sudah berakhir. Alesya dan Yusa segera berpamitan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Refan. Entah apa maksud dan tujuannya masih berada di sana. Bukankah tugasnya lumayan banyak di balai desa? batin Alesya sempat membatin.


Begitu keluar dari kantor kepala sekolah, Alesya dan Yusa segera bersiap-siap pergi. Namun, niat mereka terhenti saat mendengar panggilan dari Refan. Mau tidak mau, Alesya dan Yusa mengurungkan niat untuk pergi.


"Ada apa ya, Pak?" kali ini Yusa yang bersuara.


"Kalian mau kemana?" tanya Refan sambil masih mengulas senyuman.


"Kami masih ada beberapa program lainnya, Pak. Jadi, kami harus bergegas," jawab Yusa dengan ekspresi datar.


Refan pun paham jika Alesya dan Yusa masih harus melakukan beberapa aktivitas. Dia mengangguk-anggukkan kepala mengerti.

__ADS_1


"Oh, begitu. Kalau kalian membutuhkan bantuan, bisa minta tolong kepada saya. Rumah saya ada di dekat toko bangunan di ujung jalan. Silahkan mampir jika membutuhkan sesuatu," ucap Refan.


Alesya dan Yusa hanya bisa mengangguk mengiyakan. Mereka berdua tampak enggan menyahuti ucapan Refan lebih lanjut. Setelahnya, mereka langsung berpamitan. 


Alesya segera memacu kendaraannya menuju rumah Daniel. Dia ingin memastikan suaminya tersebut sudah bangun dan sarapan.


"Nanti turunkan aku di rumah dulu, Sya. Setelah itu, kamu bisa ke tempat Daniel," ucap Yusa dari belakang. Saat ini, Alesya kembali menjadi pengemudi motor matic tersebut.


"Iya. Sekalian aku foto copy proposal tadi. Pak Suryanto minta digandakan tadi."


"Benar. Siapa tahu program itu juga bisa mendapatkan respon dari pihak terkait, kan?"


Setelah selesai, Alesya segera bergegas membeli bahan makanan sekaligus makanan jadi untuk Daniel. Dia sempat was-was saat membayangkan Daniel belum makan.


Alesya segera melajukan motornya menuju rumah sewa Daniel setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia segera memarkirkan motornya di teras samping. Karena Alesya punya kunci cadangan rumah sewa tersebut, dia bisa langsung masuk ke dalam rumah.


Alesya hanya bisa mendesahkan napas berat saat melihat lampu depan dan teras masih menyala. Rupanya, Daniel belum mematikan lampu tersebut.


Setelah mematikan lampu dan membuka semua jendela, Alesya bergegas menuju dapur. Terlihat ada piring bekas mie instan di sana. Sepertinya, Daniel sudah membuat mie untuk sarapan mereka.

__ADS_1


Alesya mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Rumah sewa tersebut memang berukuran kecil. Jadi, kamar mandi hanya ada satu yang terletak di samping dapur. 


Alesya segera meletakkan barang-barang dan makanan yang dibawanya tadi ke dalam kulkas dan rak makanan. Dia juga membersihkan sisa-sisa makanan yang sempat dimakan oleh Daniel. Saking fokusnya membersihkan sisa-sisa makanan dan mencuci bekas piring dan panci yang tadi digunakan oleh Daniel, Alesya tidak menyadari jika pintu kamar mandi terbuka.


Daniel cukup kaget saat melihat keberadaan Alesya di sana. Namun, dia berniat menggoda Alesya dengan mendekati istrinya tersebut.


Tanpa aba-aba, Daniel berjalan mendekati Alesya. Dengan cepat kedua tangan Daniel langsung memeluk tubuh Alesya dari belakang dan menguncinya dengan kedua tangan dengan erat.


"Aahh, Da!" Alesya memekik kaget. Dia sempat berontak saat kedua tangan Daniel memeluknya dengan erat.


Namun, usaha Alesya langsung gagal saat wajah Daniel sudah menyusup pada ceruk lehernya. Dengan gemas Daniel menggigit dan meenyesap kulit leher tersebut dengan kuat. Tentu saja hal itu membuat Alesya cukup kesakitan.


Daniel pun baru melepaskan Alesya saat kedua tangannya dicubit dengan keras pakai kuku oleh Alesya.


"Aauuuwww! Sakit, Le," Daniel langsung melepaskan belitan tangannya pada perut Alesya.


Alesya langsung berbalik dan mendelik menatap tajam ke arah Daniel. Dia hendak marah karena ulah jahil suaminya tersebut. Namun, niatnya langsung gagal saat menyadari handuk yang melilit pinggang Daniel sudah longgar dan hendak melorot. Belum sempat Alesya berteriak, handuk tersebut langsung turun karena Daniel melompat-lompat beberapa kali untuk mengusir rasa perih bekas cubitan Alesya tersebut.


Sontak saja pemandangan tubuh polos nan menggiurkan Daniel langsung terpampang nyata di depan Alesya. Hal itu membuat Alesya langsung berbalik dan mengumpat dengan keras.

__ADS_1


"Kuda meshooommm! Ngapain nunjukin 'jamur' kamu begitu?!"


__ADS_2