Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Jangan Bermimpi


__ADS_3

"Kamu kapan balik ke tempat KKN, Mas?" tanya Alesya saat Daniel baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk.


"Kenapa? Kamu nggak suka aku di rumah?" tanya Daniel sambil menghentikan langkah kakinya dan menatap tajam ke arah Alesya. Jangan lupakan ekspresi wajah Daniel yang mencebikkan bibir sambil menggembungkan pipinya. Benar-benar membuat Alesya menahan tawa.


Daniel menggerutu dalam hati. Tak tahukah sang istri jika dia sudah menunggunya lama hanya untuk menuntaskan apa yang sudah ditahan-tahannya selama ini?


Alesya yang melihat wajah cemberut suaminya benar-benar gemas. Dia yang sudah cukup hafal dengan segala tingkah manja Daniel jika sudah merajuk seperti itu. Tak mau membuat Daniel semakin kesal, Alesya berjalan mendekati Daniel yang masih berdiri tak jauh dari depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamarnya tersebut.


Dengan ekspresi tanpa dosa, Alesya melenggang berjalan hingga berada di depan Daniel. Kedua pasang mata mereka bertemu sejenak. Tanpa aba-aba Alesya menyentuh tubuh depan Daniel yang masih terbuka tersebut dan mengusapnya perlahan dari atas hingga bawah.


Seperti dugaan Alesya, Daniel akan terkejut dengan tingkahnya itu. Kedua bola mata Daniel langsung membulat dengan sempurna begitu merasakan gelenyar aneh di tubuhnya.


Belum sempat Daniel bereaksi lebih, Alesya sudah kembali berulah. Dia mengusap perut Daniel hingga menyentuh simpul handuk yang dikenakan suaminya itu. Tanpa aba-aba, Alesya menarik simpul handuk tersebut hingga membuatnya terlepas dari lilitan di pinggang Daniel.

__ADS_1


Srett.


Belum sempat Daniel protes dengan tindakan tiba-tiba Alesya, istrinya tersebut sudah langsung ngacir ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk Daniel. Sontak saja tindakan Alesya tersebut membuat Daniel semakin terkejut.


"Hei!" Daniel langsung berteriak sambil menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara Alesya terdengar sedang tergelak di dalam kamar mandi.


Daniel yang sadar jika tidak ada siapa-siapa lagi di dalam kamar tersebut, hanya bisa mendengus kesal sambil berjalan menuju lemari untuk mengambil celana boxer. Dia memang cukup terbiasa tidur dengan menggunakan celana pendek saja tanpa atasan. Hanya kadang-kadang Daniel masih menggunakan kaos tipis untuk menutupi tubuhnya.


"Ngapain keramas malam-malam begini?" tanya Daniel yang saat itu baru saja meletakkan ponselnya ke atas nakas.


"Gatel, Mas. Seharian ini tadi nggak sempat keramas karena buru-buru mau pulang." Alesya menjawab sambil mulai mengeringkan rambut.


"Harusnya nanti saja mandi dan keramasnya. Toh nanti juga pasti akan keramas dan mandi lagi," ucap Daniel sambil berjalan mendekat ke arah Alesya yang sedang duduk di depan meja rias.

__ADS_1


"Eh, kenap, aaahhhhh…," belum sempat Alesya menyelesaikan ucapannya, rupanya Daniel sudah beraksi.


Tangan kanannya sudah nakal menyusup di bagian depan tubuh Alesya. Sementara tangan kiri Daniel, sudah melepas tali simpul bathrobe yang dikenakan istrinya tersebut.


Tidak hanya menyusupkan tangan, tapi Daniel sudah langsung beraksi dengan merem as bukit impian istrinya itu dengan gemas. Sementara tangan kanan Daniel sudah menarik bagian depan bathrobe Alesya hingga membuatnya terbuka.


Tak sampai situ saja, tangan kiri Daniel sudah sibuk memaksa kedua paha Alesya agar terbuka dengan lebar dan memudahkan akses bagi tangannya ubtuk bergerilya di lebah bergambut.


"Kamu kira malam ini akan bebas tidur begitu saja, Sayang? Hhmmm, jangan mimpi selagi masih terjaga," ucap Daniel sambil mengendusi bahu dan leher jenjang Alesya.


"Eehhmmm, aahhhh. Ja-jangan di cubit, aahh."


🙄

__ADS_1


__ADS_2