Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Malu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah sewa Daniel, Alesya hanya diam saja sambil memalingkan wajahnya menghadap jendela. Dia masih terlalu malu bertatapan dengan wajah suaminya yang masih tampak berbinar-binar sejak tadi. 


Setelah celetukan Nick tentang penggantian panggilan Alesya kepada Daniel, teman-teman Alesya kompak menggodanya. Alesya tidak tahu bagaimana menghadapi godaan teman-temannya nanti jika bertemu.


Sedangkan Daniel, dia tak kuasa menahan senyum bahagianya saat tadi mendengar Alesya memanggilnya dengan panggilan 'mas'. Entah mengapa hanya mendapati panggilan seperti itu saja Daniel sudah merasa sangat bahagia. Hatinya langsung menghangat dengan jantung berdebar-debar bahagia.


Meskipun sudah memantapkan hati untuk memanggil Daniel dengan panggilan 'mas', namun entah mengapa Alesya masih merasa malu. 


Setiap hari, Alesya memang selalu menghubungi ibunya. Hampir setiap pagi atau malam, mereka bertelepon untuk menanyakan kabar. Dan, sekitar satu minggu yang lalu ibu Alesya memintanya untuk mengganti panggilan kepada Daniel.


Menurut ibu, panggilan Alesya sangat tidak pantas ditujukan untuk suami. Ya, meskipun usia mereka hanya berbeda beberapa bulan, namun Alesya tetap harus menghormati Daniel sebagai suami. Dia harus menjaga kehormatan suaminya baik saat Daniel ada bersamanya ataupun tidak.


Sejak saat itu, Alesya mulai memikirkan kembali ucapan sang ibu. Dan, Alesya memutuskan untuk memanggil Daniel dengan panggilan 'mas'. Alesya berjanji untuk mengubah panggilan itu saat mereka bertemu. Dia masih belum berani mengganti panggilan itu jika sedang melakukan panggilan telepon maupun video. 


Dan, benar saja. Saat Daniel datang menjemputnya, Alesya refleks memanggil Daniel dengan panggilan 'mas'. Mendengar panggilan yang baru pertama kali diucapkan oleh Alesya, sontak saja Daniel langsung meleyot. Entah mengapa hatinya langsung berbunga-bunga.


Daniel bahkan tak bisa menahan senyumannya sepanjang perjalanan menuju rumah sewa. Rahangnya bahkan sampai terasa ngilu karena terus saja menyunggingkan senyuman.


"Le, kenapa hadap sana terus, ih? Nggak kangen apa sama suaminya ini?" tanya Daniel sambil menoel-noel lengan Alesya.

__ADS_1


"Apaan sih, jangan noel-noel." Alesya masih tidak berani menatap wajah Daniel. Dia masih merasa malu.


"Emang kenapa nggak boleh noel-noel? Kan sama istri sendiri."


"Ya, nggak boleh. Fokus saja sama jalanan. Banyak lubang yang dipenuhi air tuh."


Daniel hanya mencebikkan bibir. Dia tidak mau menggoda Alesya lagi. Bisa-bisa, Daniel tidak akan mendapatkan jatah nanti jika sang istri ngambek. Eh.


Tak sampai lima menit kemudian, mobil Daniel sudah berhenti di depan rumah sewa. Hujan yang terjadi sejak sore, kini tinggal menyisakan gerimis.


Alesya dan Daniel berlari-lari kecil untuk mencapai teras. Alesya yang membawa tote bag yang berisi baju gantinya, langsung mengikuti Daniel memasuki rumah setelah pintu utama terbuka.


"Kamu belum makan malam?" Alesya menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Daniel.


Daniel menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Belum. Tadi hujan deras di jalan, nggak sempat berhenti makan. Tadi juga hanya sempat berhenti di minimarket untuk beli minum sama roti."


Alesya mendesahkan napas berat. Dia tidak berpikir jika Daniel belum makan malam. Alesya kira Daniel akan makan malam dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Lalu sekarang bagaimana? Mau beli dulu di luar?" tawar Alesya.


Daniel menggelengkan kepala.


"Nggak usah. Tadi di minimarket aku sudah beli telur, mie instan. Tuh, ada diatas meja makan," ucap Daniel sambil menunjukkan belanjaannya.


Alesya mengikuti arah pandangan Daniel. Dia melihat kantong belanjaan yang sepertinya tidak hanya berisi telur dan mie instan tersebut.


"Mau aku buatkan mie?" Alesya menawarkan.


Daniel langsung menganggukkan kepala.


"Iya, mau. Kasih cabe ya, Le." Daniel tampak bersemangat.


"Cabe? Mana ada cabe, Da. Disini kan nggak ada bumbu dapur." 


Daniel mendelikkan kedua matanya saat mendengar ucapan Alesya. Entah mengapa dia merasa kesal saat mendengar Alesya kembali memanggilnya dengan panggilan 'kuda'.


"Kok panggil 'kuda' lagi sih, Le? Tadi sudah bagus-bagus panggil, 'mas' juga. Nanti jadi kebiasaan lho. Aku nggak mau ya nanti jika kita main tusuk tusukan, kamu masih panggil 'kuda'.

__ADS_1


__ADS_2