Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Sarapan Dulu


__ADS_3

Tak sampai sepuluh menit kemudian, Alesya sudah menyelesaikan aktivitasnya. Dengan menggunakan handuk Daniel, Alesya berjalan keluar dari kamar mandi. Dia sudah bisa menebak jika suaminya itu sedang menunggunya di dapur yang akan dilewatinya.


Dan, ternyata apa yang dipikirkan oleh Alesya memang benar. Daniel sudah menunggunya dengan dua piring sarapan yang baru saja dibeli olehnya.


Entah mengapa wajah Alesya langsung terasa panas saat tatapan netranya bertemu dengan netra sang suami. Otaknya otomatis mengingat bagaimana kedua mata itu terpejam menikmati dengan wajah menengadah dan suara mendesis hebat tatkala merasakan sesuatu yang sangat ketat dan sempit menyedot di bagian bawah tubuhnya.


Seketika Alesya langsung kikuk dan salah tingkah saat tatapan mata Daniel seolah menelanjanginya dari atas hingga ke bawah.


"A-ada apa, Da?" Alesya refleks menunduk dan memeriksa penampilannya. Dia memang saat itu hanya memakai handuk yang dililitkan pada tubuhnya. Tapi, Alesya masih memakai kaos milik Daniel yang tadi sempat disambarnya sebelum beranjak menuju kamar mandi.


"Nggak ada apa-apa. Aku hanya khawatir jika kamu kesulitan berjalan. Takutnya kamu merasa nggak nyaman dan masih merasakan sesuatu yang mengganjal di 'situ'." Daniel menunjukkan maksudnya dengan anggukan kepala pada bagian bawah tubuh Alesya.


Sontak saja hal itu membuat Alesya semakin malu. Dia menjadi semakin salah tingkah dengan ucapan Daniel.

__ADS_1


"Cckkk. Apaan sih, Da. Ngga ada ya yang seperti itu. Aku baik-baik saja," ucap Alesya. Dia bermaksud bersikap biasa saja agar Daniel tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Namun, apa yang Alesya pikir bisa membuat Daniel tidak khawatir, justru salah. Setelah mendengar jawaban Alesya, sebuah senyuman justru langsung terbit pada bibir Daniel. Dia seolah mendapatkan pencerahan pagi itu. 


Dengan semangat empat lima, Daniel langsung beringsut mendekat ke arah Alesya. Jangan lupakan tindakannya yang tiba-tiba langsung meraup Alesya ke dalam gendongannya.


"Aaaaaa! Apa yang mau kamu lakukan, Da?" Alesya mendadak panik saat tiba-tiba Daniel menggendongnya dan berjalan menuju kamar.


"Nggak mau apa-apa. Aku hanya mau memastikan kamu tidak kesakitan atau apa," ucap Daniel sambil merebahkan tubuh Alesya di atas tempat tidurnya.


"Aaaaa! A-apa-apaan ini, Da!" Alesya langsung panik. Dia buru-buru hendak meraih selimut yang ada di ujung tempat tidur namun langsung dicegah oleh Daniel.


Alesya langsung gugup saat Daniel mulai beranjak mendekat ke arahnya. Tatapan mata Daniel seolah-olah ingin memakannya karena merasa sangat lapar. Eh, bukannya memang merasa lapar ya?

__ADS_1


Alesya masih panik saat tiba-tiba Daniel sedikit menarik kedua kaki Alesya hingga membuatnya jatuh terllentang. Hingga belum sempat Alesya bersuara, Daniel langsung membungkam bibir istrinya tersebut dengan penuh semangat. Jangan lupakan tangan Daniel yang sudah berubah seperti gurita yang menjlar kesana kemari.


"Eeuuhhmmm, eehhmmmm, Daa? Eehhmmmm." 


Alesya yang berada di antara dilema aktivitas tersebut, masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Sesaat dia ikut membalas apa yang dilakukan oleh Daniel, namun beberapa saat kemudian dia berusaha untuk melepaskan diri dengan cara mendorong bahu Daniel.


Namun, apa yang dilakukan oleh Alesya tersebut langsung gagal saat tiba-tiba Daniel sudah memposisikan diri di atas tubuh istrinya tersebut dengan kedua kaki Alesya yang sudah terbuka sedemikian rupa.


Daniel melepaskan pagutan bibirnya dan menatap wajah Alesya dengan tatapan sayu. Ekspresi Daniel pagi itu sudah benar-benar mupeng. Jangan lupakan tangan kirinya sudah memegangi torpedo jumbo miliknya yang siap untuk mengobrak-abrik 'gua alami' istrinya tersebut.


"Sarapan dulu ya, Le?" ucap Daniel dengan suara seraknya.


"Hhaa?"

__ADS_1


Dua piring nasi di dapur tadi apa kabar ya? 🤔


__ADS_2