Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Aktivitas di Rumah


__ADS_3

Fani tampak masih malu-malu ketika Alesya menatapnya dengan kening berkerut. Belum sempat Fani mengutarakan niatnya, tiba-tiba datang seseorang yang membuyarkan obrolan mereka.


"Sudah selesai?" tanya Daniel yang tiba-tiba sudah berada di samping Alesya.


Seketika Alesya dan Fani pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Melihat Daniel berada di dekatnya, membuat Fani salah tingkah. Entah mengapa wajahnya langsung merah. Dia bahkan langsung menundukkan kepala untuk menghindari Daniel. Hhfftt, padahal Daniel juga nggak melihat ke arahnya. 🤧


"Sudah. Kamu sudah selesai?" tanya Alesya balik.


"Hhmmm. Mau pulang sekarang?" tawar Daniel.


"Ah, iya." Alesya segera menoleh ke arah Fani. "Ehm, Fan. Gue balik dulu, ya. Lo yakin masih mau disini?" tanya Alesya.


"Eh, i-iya, Le. Gue masih ada urusan setelah ini, kok." Fani menjawab sambil melirik ke arah Daniel. Dan, yang dilirik pun sedang fokus pada ponselnya.


"Oke, deh. Gue balik dulu. Hati-hati," ucap Alesya sambil beranjak berdiri.


"Iya. Kalian hati-hati juga," balas Fani.


Sambil tersenyum dan menganggukkan kepala, Alesya segera menarik lengan Daniel yang masih fokus pada ponselnya. Daniel bahkan tidak menoleh ke arah Fani sama sekali.


Daniel dan Alesya langsung berjalan menuju motor Daniel terparkir. Setelah siap, Alesya langsung naik ke boncengan motor Daniel. Seperti sebelum-sebelumnya, Alesya langsung memasukkan kedua tangannya pada saku jaket Daniel. Dan, posisi tersebut membuat Alesya seperti memeluk tubuh Daniel dari belakang.


"Mau langsung pulang atau mampir kemana dulu?" tanya Daniel saat motor yang dikemudikannya sudah berjalan.


"Ehm, langsung pulang aja, deh. Lagian, di rumah juga masih ada keluarga besar kamu, kan. Nggak enak jika lama-lama di luar rumah," jawab Alesya.

__ADS_1


"Hanya tinggal kakek dan nenek, kok. Yang lainnya sudah pulang tadi. Nanti balik lagi saat acara resepsian."


"Oh begitu." Alesya mengangguk-anggukkan kepala mengerti.


Tak berapa lama kemudian, motor yang dikemudikan Daniel sudah memasuki garasi di rumah Alesya. Sepertinya, sejak hari ini, motor tersebut akan berada di sana.


Alesya dan Daniel segera turun dari motor setelah Daniel memarkirkan motor tersebut. Saat hendak keluar dari garasi, netra Daniel menangkap sesuatu.


"Loh, si jessi bocor apa bagaimana ini? Bannya kempes?" Daniel berjongkok untuk memeriksa ban depan sebelah kanan mobil Alesya.


Karena penasaran, Alesya pun langsung ikut berjongkok di samping Daniel.


"Eh, kok kempes gini?" Alesya pun juga tidak tahu mengapa ban mobilnya bisa kempes. Selama sekitar satu minggu ini, Alesya memang berangkat dan pulang dari kampus barengan sama Daniel. Dia juga jarang keluar rumah untuk urusannya sendiri.


"Habis ini aku ganti, deh. Ban serepnya ada, kan?" tanya Daniel.


"Nggak usah. Tadi juga sudah makan, kok."


Setelahnya, Daniel dan Alesya segera memasuki rumah. Karena keadaan pintu rumah masih terkunci, bisa dipastikan kedua orang tua Alesya belum pulang. Ayah Alesya pasti masih di sekolah, sedangkan ibunya sedang ada di tempat usaha cateringnya. Ada pesanan yang lumayan banyak hari ini untuk acara ulang tahun nanti malam. Jadi, bisa dipastikan sang ibu akan menjelang petang.


Daniel segera mengekori Alesya berjalan menuju kamarnya. Daniel memang sudah membawa beberapa baju-bajunya ke rumah Alesya. Jadi, Daniel tidak perlu bolak balik ke rumah orang tuanya untuk mengambil baju.


Begitu memasuki kamar, Daniel segera meletakkan tas ranselnya di sofa yang ada pada kamar Alesya. Setelah itu, dia baru melepaskan jaket. Hal yang sama juga dilakukan oleh Alesya. 


"Sepertinya, kita perlu tambah meja lagi deh, Da. Peralatan kuliah kamu juga banyak banget," ucap Alesya sambil menoleh ke arah Daniel.

__ADS_1


"Nggak usah, lah. Menuh-menuhin kamar nanti," jawab Daniel.


"Nggak, lah. Tuh, rak televisinya di keluarin saja. Televisi di pindah ke dinding dekat pintu." Alesya menunjukkan maksudnya.


Daniel memperhatikan apa yang dimaksud oleh Alesya. Sepertinya, dia cukup setuju dengan ucapan istrinya tersebut.


"Hhmmm, boleh juga. Nanti bisa nyambung sama meja belajar kamu. Atau, kita custom saja untuk mejanya. Digabung jadi satu, sekaligus buat beberapa tempat penyimpanan di bagian bawahnya." 


"Apa nggak terlalu mahal nanti?" Alesya tampak berpikir.


"Nggak terlalu, sih. Aku punya senior yang punya usaha custom furniture. Nanti aku hubungi dia, deh. Sekalian, aku kirimkan desainnya." Daniel tampak bersemangat.


Alesya hanya mendesahkan napas berat setelah mendengar ucapan Daniel. Jika sudah seperti itu, Daniel pasti tidak akan mau diajak bernegosiasi lagi.


"Hhhh, terserah kamu saja deh, Da. Aku ikut baiknya gimana," ucap Alesya sambil berjalan menuju kamar mandi. 


Setelah itu, Daniel segera mengukur meja yang diperlukan. Tak butuh waktu lama, Daniel sudah mendapatkan ukurannya. Dia hanya tinggal memberikan detail pada meja yang diinginkannya.


Daniel segera bergantian dengan Alesya ke kamar mandi. Alesya juga sudah mulai membiasakan diri menyiapkan baju ganti untuk Daniel. Sementara baju kotornya, sudah masuk semua kedalam keranjang baju kotor. 


Setelah bersih-bersih, Alesya segera membawa keranjang baju kotor tersebut ke tempat cuci. Mumpung masih sekitar jam tiga sore, dia akan mencuci baju terlebih dahulu.


Tak berapa lama kemudian, Daniel sudah turun dari kamar Alesya dengan memakai baju santai yang sudah disiapkan oleh istrinya tersebut. Daniel segera berjalan menuju garasi dan mulai mengganti ban mobil Alesya.


Alesya segera memasuk-masukkan baju kotornya dan Daniel ke dalam mesin cuci. Tak lupa juga dia memeriksa semua saku baju untuk memastikan tidak ada barang berbahaya di dalamnya. 

__ADS_1


Ketika Alesya sedang memeriksa celana Daniel, tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat tidak sengaja Alesya memegang celena dalam Daniel. Entah mengapa wajahnya langsung terasa panas saat menyadari hal itu.


"Astaga! Kenapa aku harus malu hanya dengan memegang bungkusnya. Bagaimana jika memegang isinya," ucap Alesya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


__ADS_2