Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Kerusuhan Pagi


__ADS_3

Daniel dan Alesya yang mendengar gedoran dari pintu depan, sontak langsung panik. Pagi-pagi buta seperti itu, mereka sudah mendapati rumah sewanya didatangi beberapa warga sambil berteriak dan menggedor-gedor pintu.


"Itu ada apa, rame-rame di depan?" ucap Alesya panik. Dia buru-buru memakai baju yang cukup sopan. Beruntung Alesya membawa beberapa baju yang hendak dipakainya untuk mengunjungi taman kanak-kanak siang nanti.


"Nggak tahu. Mereka ngapain gedor-gedor pintu rumah orang pagi-pagi buta begini, sih? Untung kita sudah selesai ngapa-ngapain. Bagaimana coba jika kita masih celup-celup basah, nggak kebayang rasanya," gerutu Daniel sambil menyambar kaos dan buru-buru memakai cell ana dalam. Maklum, Daniel sejak tadi hanya koloran di dalam rumah tanpa memakai pembungkus onderdilnya.


Setelah memastikan penampilan keduanya siap, Daniel dan Alesya buru-buru beranjak keluar kamar. Rasa kantuk yang sejak tadi dirasakan oleh Alesya, seketika langsung hilang dan berganti dengan perasaan panik dan was was.


Ceklek. Daniel membuka pintu utama rumah sewa. Dia melihat ada sekitar enam laki-laki dan dua orang perempuan berdiri di depan rumah sewanya tersebut.


"Bapak-bapak dan ibu-ibu ada perlu apa ya? Pagi-pagi sudah ada di depan rumah saya. Mana masih hujan lagi." Daniel membuka suara. 


"Tidak usah banyak bicara! Kami ingin kalian segera pergi dari desa ini. Bikin aib saja. Kami tidak ingin desa kami terkena sial karena ada yang sudah berbuat meshoom di desa kami," ucap salah satu laki-laki tersebut dengan menggebu-gebu.


Alesya yang mendengar ucapan laki-laki tersebut mendadak panik. Namun, tidak demikian bagi Daniel. Dia yang sudah menduga akan ada hal seperti ini, hanya bisa mendesahkan napas berat sambil mengamati orang-orang yang ada di depannya tersebut.

__ADS_1


"Bapak ini ngomong apaan, sih? Meshoom? Siapa yang berbuat meshoom?" Daniel masih bersikap sabar karena dia yakin jika orang-orang itu pasti ada yang menghasut.


"Masih pura-pura tidak mengaku? Sudah jelas-jelas kalian ini 'kumpuul keebo', masih saja mengelak?!" ucap laki-laki yang lain. Bahkan, suara laki-laki tersebut sangat keras. Tak hanya itu, dia yang melihat ada tempat sampah karet di teras depan, langsung menendang tempat sampah tersebut hingga mengenai kaca spion mobil Daniel.


Hal itu membuat kaca spion mobil Daniel patah. Daniel dan Alesya cukup kaget dengan tindakan laki-laki tersebut.


"Bapak apa-apaan, sih?! Bisa tidak ngomong baik-baik tanpa merusak barang-barang?!" Kali ini, Daniel cukup terpancing. Dia bahkan sempat mendorong bahu laki-laki yang sepertinya paling muda di antara orang-orang tersebut.


"Cckkk. Ngomong baik-baik? Cuiiihhh. Nggak sudi ngomong baik-baik sama pelaku jin ah seperti kalian!" 


"Bang saaattt! Dijaga ya omongannya!" Daniel benar-benar geram.


Belum sempat laki-laki itu menyahuti ucapan Daniel, terdengar suara seorang laki-laki yang tengah berlari tergopoh-gopoh di tengah guyuran hujan. Payung kecil yang dipakainya pun bahkan dibiarkan mobat-mabit tidak karuan saking buru-burunya dia berlari.


"Ada apa ini? Saya mendapatkan laporan jika ada gegeran di sini?" tanya laki-laki yang baru saja datang tersebut dengan napas memburu.

__ADS_1


Seorang ibu-ibu menjawab pertanyaan laki-laki yang baru saja datang tersebut dengan ekspresi mencibir.


"Pak Zain bagaimana, sih. Di lingkungannya ada warga pendatang yang berbuat jin ah dibiarkan saja. Mereka sudah berbuat asusila di desa kita, Pak. Harusnya bapak bisa menegur atau mengusir mereka," ucap ibu-ibu tersebut sambil masih melayangkan tatapan sinis.


Pak Zainal, selaku ketua RT di lingkungan tempat rumah sewa Daniel berada, langsung mendesahkan napas berat. Semalam, Daniel sudah menjelaskan jika ada desas desus tentang dirinya dan Alesya. Dan, ternyata memang terbukti.


Pak Zainal juga belum sempat menjelaskan kepada warga tentang status Daniel, karena baru semalam Daniel melaporkan setelah kedatangannya di desa tersebut.


"Bapak-bapak, ibu-ibu, ini sebenarnya hanya salah paham. Kalau boleh, kita bicara di dalam saja. Saya akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Pak Zainal untuk menenangkan keadaan.


"Nggak perlu, Pak. Terlalu lama. Giring saja mereka keliling desa biar semua orang tau kelakuan bejat mereka," ucap laki-laki yang paling muda tadi.


Mendengar hal itu, Daniel langsung bereaksi.


"Ccckkk. Main giring aja. Lo aja sono digiring keliling desa. Sekalian hujan-hujanan. Gue sih ogah."

__ADS_1


__ADS_2