Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Obat Pilek


__ADS_3

Alesya menatap wajah Daniel dalam keremangan cahaya lampu. Dia masih bisa melihat ekspresi binar penuh harap seorang Daniel. Namun, Alesya tidak serta merta menyanggupi pertanyaan Daniel tersebut.


"Apaan sih, Da?" Alesya mengulurkan tangan kirinya untuk memukul bahu Daniel pelan.


Begitu Alesya memukul bahunya, buru-buru Daniel segera menangkap tangan Alesya dan menggenggamnya dengan erat. Tentu saja hal itu membuat Alesya terkejut. Kedua bola matanya bahkan langsung terbuka lebar saat Daniel membawa tangannya ke depan bibirnya.


Cup.


Alesya cukup kaget saat tiba-tiba Daniel mengecup tangannya. Dia berusaha menarik tangannya dari genggaman Daniel namun langsung gagal.


"Le, bagaimana jika kita mulai semuanya pelan-pelan?" tanya Daniel sambil menatap kedua netra Alesya lekat-lekat. Jangan lupakan tangan Alesya yang masih di genggamnya dengan erat.


Alesya masih bingung dengan maksud ucapan Daniel. Namun, dia berusaha untuk mengaitkan ucapan Daniel dengan apa yang sedang dilakukannya yaitu menggenggam tangan Alesya dengan erat. Bahkan, sesekali masih mengecupnya.


"Ehm, mu-mulai dari mana?" tanya Alesya gugup. Entah, saat itu Alesya bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih.


Daniel masih diam sambil menatap wajah istrinya itu. Namun, beberapa saat kemudian, Daniel beringsut mendekat ke arah Alesya.


"Aku tahu kamu bahkan aku sendiri juga masih belum siap untuk melakukan 'itu' dalam waktu dekat. Status kita yang berubah dadakan seperti ini, membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi."


"Namun, bukan berarti kita bisa sesantai dulu kan, Le? Kita tidak mungkin hanya akan bersikap seperti sahabat saja, kan?" Kali ini Daniel semakin berani mengusap pipi Alesya setelah beberapa saat yang lalu dia melepaskan genggaman tangannya.


"La-lalu?" Alesya masih saja merasa gugup dengan aktivitas yang sudah mulai intiim tersebut.

__ADS_1


Daniel masih menatap dalam-dalam manik mata Alesya. Entah mengapa dia baru menyadari jika tatapan istrinya tersebut bisa menghipnotisnya untuk terus berlama-lama menatap.


"Kita bisa mulai dari yang paling ringan dulu, Le." Daniel berusaha menenangkan Alesya yang tampak masih gugup.


"Yang paling ringan? Apa itu?" tanya Alesya gugup.


Entah mengapa lagi-lagi dia merasa gugup saat Daniel bergerak semakin dekat. Dan, Alesya bisa merasakan jika dada bidang Daniel sudah berada tepat di depannya. Bahkan, Alesya yakin jika Daniel bisa bisa merasakan dadaanya.


"Pelukan, kecupan, bahkan mungkin ciuman. Bukankah kita harus membiasakan diri dengan itu semua?" ucap Daniel. 


Jangan kira Daniel tidak gugup berada pada jarak yang sangat dekat dengan tubuh Alesya tersebut. Jantungnya masih berdegup kencang tak karuan. Hal yang sama juga dirasakan oleh Alesya. Dia benar-benar merasa sangat gugup. Bahkan, Alesya merasa canggung untuk bergerak.


Belum sempat Alesya bersuara, tiba-tiba Daniel menarik dagunya hingga wajahnya menjadi sedikit mendongak hingga kedua pasang netra mereka bertemu. Tanpa aba-aba, Daniel mendekatkan wajahnya pada wajah Alesya. Semakin dekat dan semakin dekat.


Alesya otomatis langsung memejamkan mata sambil tangan kanannya mencengkram kaos bagian depan milik Daniel. Sedangkan tangan kiri Alesya, sudah nangkring pada pinggang Daniel.


Hhmmmppphhh eehhmmmmmpphhh.


Suara pertemuan benda kenyal tersebut langsung terdengar di seluruh isi kamar hotel tersebut. Daniel bahkan menggeser tubuh hingga kini sebagian tubuhnya sudah menindih tubuh Alesya.


Sambil tidak melepaskan pagutan bibir mereka, Daniel semakin bersemangat mengeksplor semua yang bisa dilakukannya. Kali ini, bukan hanya bibir Daniel yang bekerja. Namun, tangan kanan Daniel sudah mulai menyusup pada baju tidur Alesya. Tangan Daniel mulai menyentuh perut, lalu naik, melewati lembah diantara dua gundukan kenyal. 


Daniel sempat melepaskan pagutan bibirnya dan sedikit menjauhkan wajah dari wajah Alesya. Dia menatap wajah istrinya lekat-lekat hingga kedua netra Alesya terbuka.

__ADS_1


Belum sempat Alesya bersuara, Daniel sudah kembali menyerangnya. Daniel menempelkan bibirnya kembali pada bibir Alesya. Kali ini, tak hanya bibir yang menempel. Namun, Daniel mendesak dan melesakkan lidahnya ke dalam mulut Alesya. 


Awalnya, Alesya masih merasa canggung. Namun, saat lidah Daniel menggodanya, Alesya ikut terpengaruh. Kini, belitan lidah keduanya sudah terjadi. Alesya bahkan sudah mulai menyusupkan jari-jari tangannya pada rambut bagian belakang Daniel dan meeremasnya dengan lembut.


"Eeuuhhmmmpphhh, eemmpphhh. Aaaeeemmppphhh." Alesya meracau di tengah-tengah pagutannya.


Mendengar suara Alesya, tentu saja membuat Daniel semakin bersemangat. Kali ini, tangan Daniel mulai mencari pucuk bukit yang menggemaskan milik Alesya. Dan, begitu menemukan apa yang dicari, Daniel langsung menjepitnya dengan ujung jari telunjuk dan jari jempolnya. 


"Ugghhhhh, hhmmmmpphhh."


Alesya langsung menggeliat dan meracau saat merasakan rangsangan Daniel. Tak sengaja pagutan keduanya terlepas karena Alesya langsung melengkungkan tubuhnya ke belakang.


"Le, yang bawah sudang ingusan. Kamu elus-elus dulu ya, di bujuk biar nggak ingusan lagi," ucap Daniel sambil menyurukkan wajahnya pada ceruk leher Alesya dan memberikan kecupan-kecupan basah di sana.


"Ehm, pi- pilek?" tanya Alesya yang masih belum fokus.


"Hhmmm, iya." Daniel masih mengendus-ngendus pada leher Alesya, sedangkan tangannya bergerak semakin aktif di dalam baju tidur Alesya.


"Ki-kita pesan mix xagrip?" 


Eh kok obat begitu, dikira sedang flu apa? 🤧


Mohon maaf kemarin lama upnya. Othor lagi ada kerjaan deadline. 🙏

__ADS_1


__ADS_2