
Alesya masih menghentak-hentakkan kaki dengan kesal karena secara tidak sengaja dia melihat bagian pribadi Daniel. Alesya masih merasa malu saat melihat 'jamur' Daniel secara terang-terangan.
Melihat tingkah Alesya, Daniel langsung mengambil handuk yang semula sempat melorot dan segera dililitkan pada pinggangnya.
"Nggak sengaja, Le. Jatuh sendiri tadi. Mungkin, dia sengaja mau show up kali," ucap Daniel tanpa dosa.
Alesya masih menggerutu kesal sambil membalikkan badan. Namun, setelah diberitahu jika Daniel sudah memakai kembali handuknya, dia memberanikan diri berbalik. Dengan ekspresi wajah kesal, Alesya menatap wajah Daniel.
"Lain kali, jangan suka aneh-aneh. Kita tidak sedang berada di tempat yang kita bisa melakukan hal-hal aneh, Da. Jangan membuat rusuh keadaan," ucap Alesya.
Daniel mengerucutkan bibir kesal.
"Maksudnya apa itu? Tidak di tempat yang tepat itu bagaimana? Kita kan di rumah. Tempatnya tertutup pula. Apa yang salah jika kita mau 'main' sekalipun? Kita sudah menikah secara sah, Le." Daniel langsung protes.
__ADS_1
Alesya mendesahkan napas berat sebelum mendekat ke arah Daniel yang terlihat sekali sedang merajuk tersebut.
"Memang benar kita berada di tempat tertutup. Tapi, aku tidak nyaman jika kita mau 'ngapa-ngapain' disini, Da. Takut ada acara dadakan," ucap Alesya sambil mencebikkan bibir.
Daniel mendengus tak kalah kesalnya. Dia menatap wajah Alesya yang sudah ditekuk. Mau tidak mau, Daniel harus bisa mengerti alasan istrinya tersebut. Lagipula, Alesya pasti punya banyak aktivitas di posnya. Tidak mungkin dia akan mengurung istrinya tersebut dan 'main-main'.
"Iya, tau. Tapi, nanti kalau sudah di rumah, kita coba lagi, ya. Masa iya aku harus nunggu lebih lama lagi, Le. Kalau jamuran nanti bagaimana?" ucap Daniel dengan ekspresi sok imutnya.
"Cckkk. Jamuran? Emang apa yang jamuran? Ada-ada saja," ucap Alesya sambil berbalik. Dia sedang menyiapkan makan siang yang bisa dimakan oleh Daniel nanti.
Kedua bola mata Alesya langsung membulat. Dia menoleh ke arah Daniel dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jangan suka aneh-aneh, Da. Cepet pakai baju sana."
__ADS_1
Daniel hanya bisa mencebikkan bibir sambil berjalan menuju kamar. Dia harus segera berpakaian jika tidak mau kena omelan Alesya lagi. Hingga tak berapa lama kemudian, Alesya sudah selesai menyiapkan makan siang Daniel. Hari itu, dia membeli sayur matang dan lauk yang bisa dimakan langsung oleh Daniel nanti.
"Da, aku balik ke pos dulu, ya. Nanti jangan malam-malam kalau mau pulang," ucap Alesya sambil melongokkan kepala ke dalam kamar Daniel.
Daniel yang saat itu tengah menyisir rambut, langsung menoleh. Dia segera meletakkan sisirnya dan berjalan mendekat ke arah pintu.
Tanpa aba-aba, Daniel langsung merengkuh tubuh Alesya ke dalam pelukannya. Tak lupa juga beberapa kecupan langsung mendarat pada kening Alesya.
"Da, apa-apaan, sih?" Alesya hendak protes, namun langsung dihentikan oleh Daniel.
"Sebentar dulu, Le. Masih kangen tau nggak, sih?"
Mendengar ucapan Daniel, Alesya hanya bisa diam. Dia tidak mungkin memprotes saat tubuhnya benar-benar dipeluk dengan sangat erat. Mau tidak mau, Alesya membalas pelukan Daniel dengan ikut melingkarkan tangannya pada pinggang Daniel.
__ADS_1
"Le, nanti ikut pulang saja, ya. Besok aku anterin, deh. Yang penting, nanti malam aku mau tidur dikelonin."
"He?"