Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Perkara Sarapan


__ADS_3

Keesokan pagi, Alesya sudah selesai membersihkan diri. Dia sedang bersiap-siap untuk sarapan di restoran bawah. Namun, Alesya menyadari jika sarapannya pagi itu pasti akan gagal. Jika melihat kelakuan Daniel yang masih bergelung di dalam selimut, bisa dipastikan Daniel dan Alesya akan melewatkan jam sarapan mereka.


"Mas, bangun. Mau sarapan nggak, sih?" Alesya mengguncang-guncang bahu Daniel. Namun, Daniel sama sekali tidak bergeming. Dia masih menutup kedua matanya dengan rapat.


"Hhhmmmm."


Hanya gumaman yang terdengar keluar dari bibir Daniel yang masih tertutup rapat tersebut. Kedua kelopak mata Daniel juga masih tertutup pertanda si empunya benar-benar enggan membuka kelopak matanya.


"Kalau nggak mau bangun, aku sarapan di bawah sendiri, ya. Jangan ngomel jika nanti aku ketemu orang baru di sana. Apalagi, ini Jogja. Banyak tempat wisata destinasi para turis."


Alesya mencoba peruntungannya dengan memprovokasi Daniel. Namun, bukan Daniel namanya jika tidak punya seribu akal. Alih-alih beranjak dan menuruti ucapan Alesya, dia justru langsung menarik tangan Alesya hingga jatuh menubruk tubuhnya.


Tentu saja tindakan Daniel tersebut membuat Alesya kaget. Dia langsung menjerit begitu tubuhnya sudah jatuh menimpa Daniel.


"Aarrrghhhh, Mas! Aku nggak mau aneh-aneh, ya. Aku lapar, Mas." Alesya berusaha beranjak untuk melepaskan diri dari belitan tangan Daniel.

__ADS_1


Namun, alih-alih melepaskan Alesya, Daniel justru mengangkat gagapng telepon dan memesan sarapan untuk mereka. Ya, Daniel ingin sarapan di antar ke kamar. Dia tidak akan melepaskan Alesya begitu saja.


"Aneh-aneh apa sih, Sayang? Sebentar lagi sarapannya akan diantar. Sambil menunggu, kamu bantu aku jinakin si DJ yang sudah berdiri ngacung ini, nih," ucap Daniel sambil menarik tangan Alesya dan mengarahkannya pada si DJ.


Tentu saja hal itu membuat Alesya semakin memekik kaget. Ya, meskipun dia sudah berulang kali melakukannya dengan sang suami, tapi Alesya masih saja merasa malu jika melihat atau memegangnya secara langsung.


"Urut gih, Yang." Daniel merem melek sambil menekan-nekan tangan Alesya agar aktif di bawah sana. "Sshhhhh, enak Yang."


Ya, sejak pertempuran mereka semalam, Daniel memang mengubah panghilannya kepada Alesya agar lebih mesra. Hal itu juga dipengaruhi oleh ucapan kak Desi yang mencibir panggilan Daniel yang masih suka memanggil Alesya dengan panggilan Ale-ale.


Alesya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Daniel. Hal itu diperparah dengan tindakan Daniel yang langsung melemparkan selimutnya hingga membuat tubuh polosnya terbuka di hadapan Alesya. 


"Mas! Ngapain di buka selimutnya, ih." Alesya langsung protes.


"Nggak apa-apa. Biar enak kamu maininnya. Ssshhhh." Daniel masih merem melek menikmati tangan Alesya bermain-main di bawah sana.

__ADS_1


Saat sudah tidak tahan lagi, Daniel menarik tubuh Alesya dan hendak menyerangnya. Namun, hal itu urung dilakukannya karena mendengar ketukan pintu. Rupanya, sarapan mereka sudah datang. Mau tidak mau Alesya segera beranjak menuju pintu. Tidak mungkin dia membiarkan Daniel yang sudah polosan untuk beranjak.


 Setelah mengucapkan terima kasih, Alesya segera membawa sarapan mereka ke dalam kamar. Dia menatap wajah Daniel yang sudah masam seperti lemon tersebut.


"Kenapa wajahnya kecut seperti itu, Mas?"


"Cckkk. Masih tanya lagi. Nanggung ini." Daniel menggerutu kesal.


"Ya, nanti kan bisa dilanjut lagi. Sekarang, bersih-bersih dulu setelah itu sarapan."


Mau tidak mau, Daniel menuruti ucapan Alesya. Alesya juga mengikuti langkah kaki Daniel menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya. Dan, bertepatan ketika Alesya keluar kamar mandi, ponselnya berbunyi.


Kening Alesya berkerut saat melihat nama yang ada di layar ponselnya.


Ehm, siapa yang menelepon Alesya pagi-pagi begini? 🤔

__ADS_1


__ADS_2