Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Tidak Tinggal Diam


__ADS_3

Setelah mematikan panggilan video dari Daniel, Alesya masih menggerutu kesal. Astri dan Gea yang melihat tingkah Alesya tersebut hanya bisa mengerutkan kening bingung. Mereka yang biasanya melihat ekspresi malu-malu meong di wajah Alesya, kini tampak ekspresi kesal yang terlihat di wajah Alesya.


"Ada apa sih, Sya? Si Daniel nggak mau ngasih jatah?" tanya Gea sesaat setelah membersihkan kulit kacang yang telah mereka hasilkan tadi.


"Apaan sih, Ge? Jatah apaan coba." Alesya hanya menggelengkan kepala sambil mencebikkan bibir.


"Ya, siapa tahu si Daniel menolak saat kamu ajak 'ngecharge'. Eh, tapi sepertinya nggak mungkin deh ya. Secara Daniel kan cowok gitu lho. Mana ada cowok yang menolak ditawari begituan." Gea masih belum puas.


Alesya hanya bisa mendesahkan napas berat menanggapi ocehan temannya tersebut. Sementara Astri, dia sudah terbahak-bahak melihat ekspresi Alesya.


Keesokan hari, semua aktivitas kelompok Alesya sudah dimulai sejak pagi. Beberapa orang bahkan sudah berangkat untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing.


Alesya dan Yusa, juga akan mengunjungi taman kanak-kanak yang ada di desa tersebut. Namun, Yusa masih pergi mengisi bensin di pom mini yang ada di dekat pasar. Lokasi pom dan taman kanak-kanak yang berlawanan arah, membuat Yusa harus pergi mengisi bensin terlebih dahulu.


Alesya yang baru saja mengembalikan gelas kopinya ke dapur, tak sengaja bertemu dengan Fani yang baru saja selesai membersihkan peralatan dapur. Hari ini, Fani dan kelompoknya mendapat giliran memasak.

__ADS_1


Sejak pemberitahuan berita pernikahannya dengan Daniel beberapa waktu yang lalu, sikap Fani menjadi berubah terhadap Alesya. Bukannya Alesya tidak menyadari hal itu, namun dia tidak terlalu ambil pusing. 


Bagi Alesya, terserah apa yang mau Fani lakukan. Yang penting, dia tidak mengusik aktivitasnya. Toh baik Alesya maupun Fani juga menangani program yang berbeda. Perang dingin yang dibuat oleh Fani, tampaknya terbaca oleh teman-teman Alesya yang lainnya. Tak terkecuali Astri maupun Gea. Namun, mereka tidak mau ikut campur dengan hal itu. 


"Hari ini ada jadwal apa, Fan?" tanya Alesya sambil mencuci gelas kopinya. Dia memang biasa mengajak ngobrol Fani, meskipun jawabannya hanya singkat dan terkesan ketus.


"Nggak ada," jawab Fani sambil lalu. Ya, selalu seperti itu jawaban atau respon Fani saat ditanya atau disapa oleh Alesya.


Alesya pun hanya mengedikkan bahu tidak mau memperpanjang obrolan. Namun, tidak dengan Nick yang ternyata ada di dekat kulkas. Rupanya, dia mendengar jawaban Fani yang terdengar ketus tersebut.


Karena sudah merasa cukup jengah, akhirnya Nick ikut bersuara.


"Lo itu kalau nggak suka sama pernikahan Alesya sama Daniel, ngomong aja langsung, Fan. Jangan lo jutekin si Alesya terus. Lagian, lo ada hubungan apa sama Daniel sebelum ini? Emang lo pacaran sama Daniel? Kok kesannya seolah-olah lo marah sama Alesya karena sudah ngerebut cowok lo?" ucap Nick tanpa basa-basi.


Seketika kedua bola mata dan mulut Fani langsung membulat setelah mendengar ucapan Nick. Dia cukup terkejut mendengar Nick berbicara seperti itu.

__ADS_1


"Lo apaan sih, Nick ngomong seperti itu? Emang gue ngapain?" tanya Fani sambil berusaha mengatasi rasa gugupnya. Pasalnya, saat itu bukan hanya ada Nick di dapur. Ada Theo, Leon, dan Joshua di sana.


"Lo masih tanya lo ngapain? Nggak nyadar emang tingkah lo itu persis orang yang sedang cemburu? Hello, emang kapasitas lo cemburu itu apa? Masih mending Alesya pura-pura nggak nanggepin tingkah lo. Kalau orang lain, gue yakin lo bakal di labrak." Lagi-lagi Nick ngomong blak-blakan.


Alesya yang melihat kedua mata Fani mulai berkaca-kaca, langsung berusaha melerai perdebatan tersebut.


"Sudah, sudah. Apa-apaan sih, kalian. Jangan ngeributin hal-hal aneh. Ini sudah kesiangan, nggak pada berangkat apa ini?" Alesya menatap para laki-laki di depannya tersebut. Alesya juga menggerakkan matanya ke arah Nick agar segera pergi. Dia tidak ingin perdebatan itu semakin menjadi.


"Apaan sih, Sya. Gue cuma mau belain lo sama si Daniel. Gregetan banget gue lihat tingkah nih cewek yang ketus banget sama lo. Emang nggak nyadar diri," ucap Nick sambil beranjak pergi dan diikuti oleh ketiga orang lainnya.


Setelah kepergian Nick, Alesya menoleh ke arah Fani yang ternyata tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Terlihat jelas jika ekspresi Fani sangat marah terhadap Alesya. Belum sempat Alesya bersuara, Fani sudah lebih dulu pergi meninggalkan dapur.


Alesya hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar setelah itu.


"Jika begini terus, rasanya nggak akan mungkin aku terus-terusan hanya diam saja."

__ADS_1


__ADS_2