
"Saya terima nikah dan kawinnya Desika Anasta Bramastyo binti Agung Bramastyo dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah."
"Sah."
"Saahhhh!"
Setelahnya, menggema do'a yang dikumandangkan oleh pak penghulu. Tidak ada prosesi penandatanganan dokumen pernikahan karena memang pernikahan ini masih secara agama. Hanya saja, orang tua Daniel ingin acara ini lebih khusyuk dan sakral.
Setelah pengambilan beberapa foto, para tamu yang turut hadir pagi hari itu langsung beramah tamah. Beruntung catering ibu Alesya bisa menghandle semua kebutuhan. Tamu yang tidak kurang dari tiga puluh orang tersebut bersama-sama menuju ke teras samping rumah yang sudah disulap menjadi tempat prasmanan.
Alesya dan Daniel pun turut membantu untuk melayani kebutuhan para tamu. Mereka juga sesekali bercengkrama dengan para tetangga yang cukup dikenal. Hingga sekitar satu jam kemudian acara tersebut sudah berakhir. Kini, para tetangga sekaligus tamu undangan yang hadir sudah berpamitan dan membubarkan diri.
__ADS_1
Saat ini, di rumah orang tua Alesya hanya tinggal keluarga inti Daniel, orang tua Alesya dan juga orang tua Ferdian. Mereka masih tinggal lebih lama di sana. Ada juga beberapa staff ibu Alesya yang membantu membereskan perlengkapan catering.
"Jadi, mulai sekarang aku harus memanggil apa, nih? Pak, Kak, Bang, Mas, atau apa?" tanya Daniel kepada Ferdian di sela-sela obrolannya.
Semua orang menatap ke arah Ferdian. Dan, tentu saja hal itu membuat Ferdian kikuk dan gugup secara bersamaan.
"Ehm, terserah kamu saja deh, Dan. Kamu maunya panggil apa. Asal jangan panggil 'mas'. Itu sudah dipakai kakak kamu," jawab Ferdian dengan polosnya. Entah dia sadar atau tidak jika ucapannya tersebut bisa jadi bahan godaan oleh Daniel dan yang lainnya.
Dan, benar saja. Setelah mendengar ucapan Ferdian, Daniel langsung saja menggoda kakak ipar barunya tersebut.
"Oh, jadi kak Desi sudah mulai panggil 'mas', nih? Waahh, gercep juga ya lo, kak?" ucap Daniel sambil menoleh ke arah Desi yang saat itu duduk di dekat mami Nia.
Selanjutnya, obrolan demi obrolan pun dilakukan hingga menjelang menjelang pukul satu siang. Saat itu, orang tua Ferdian berpamitan untuk kembali ke hotel. Mereka yang sudah cukup lelah membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Orang tua Daniel pun sebenarnya sudah menawarkan untuk beristirahat di rumah mereka saja. Namun, mami Nia menolak karena tidak ingin merepotkan. Lagipula, mereka juga sudah memesan hotel sejak kemarin. Alhasil, siang itu mereka kembali ke hotel.
__ADS_1
Ferdian pun juga ikut kembali ke hotel karena barang-barangnya juga masih ada di sana. Rencananya, Ferdian akan kembali lagi ke rumah orang tua Desi sore atau malam nanti.
Sepeninggal Ferdian dan orang tuanya, Alesya membantu kakak iparnya untuk beberes.
"Ca, kok aku masih nggak percaya jika sekarang sudah jadi istri, ya," ucap kak Desi sambil menghapus make upnya.
Alesya mengulas senyumannya sambil membantu melepaskan jepit rambut Desi.
"Aku juga pernah mengalami hal yang sama, Kak. Aku bahkan hanya punya waktu beberapa jam sebelum prosesi ijab kabul dilakukan. Yah, meskipun aku sudah kenal dari orok dengan mas Daniel, tapi rasanya masih beda saja saat status kami berubah."
"Kamu benar, Ca. Ternyata, apa yang kita alami nggak jauh beda. Dan, ehm waktu itu apa kamu langsung tancap gas?" tanya kak Desi lirih.
"Hah? Eng-enggak kok, Kak." Entah mengapa Alesya mendadak gugup mendapat pertanyaan dari kakak iparnya itu.
"Ehm, maaf ya jika buat kamu nggak nyaman. Aku cuma bingung saja jika nanti mas Ferdian tiba-tiba minta 'itu'. Aku harus bagaimana nanti," ucap kak Desi.
__ADS_1
"Tinggal rebahan saja, Kak. Biar pak dosen yang memberikan kuliah sekaligus praktik."
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.