Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Selimut Kulit


__ADS_3

Daniel masih membeku sambil menatap ke arah pintu kamar mandi dan tempat tidur. Dia sudah berdiri dengan kepala yang masih memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Niat hati ingin meminta bantuan Alesya menenangkan si junior, tapi ternyata malah Daniel harus berpuas diri menghadapi 'tamu tak diundang' Alesya yang datang tanpa permisi tersebut. Bukan hanya itu, Alesya yang memang tidak membawa persiapan apa-apa tentang tamu bulanannya tersebut, dengan sangat terpaksa meminta bantuan Daniel untuk membeli 'roti tawar'.


Mau tidak mau, Daniel harus membelikan apa yang Alesya butuhkan. Tidak mungkin juga dia memesan online untuk hal seperti itu di tengah malam begini.


Dengan memakai celana dan jaket, Daniel langsung bergegas menuju sebuah minimarket yang berada di seberang hotel tempat mereka menginap. Beruntung minimarket tersebut buka dua puluh empat jam. 


Daniel sudah mendapatkan contoh benda yang diperolehnya dari kiriman gambar Alesya. Jadi, dia langsung mencari di tempat barang-barang tersebut berada dan langsung mencocokkan dengan gambar yang dikirimkan oleh Alesya tersebut.


Meski merasa cukup malu saat membayar di kasir, namun Daniel tetap melakukan hal itu. Dia berpikir siapa lagi yang akan membantu istrinya tersebut jika bukan dirinya. Bahkan, jika untuk hal sepele seperti ini saja dia mengeluh, bagaimana nanti jika dia harus membantu keperluan Alesya yang lain yang lebih berat? pikir Daniel.


Tak sampai tiga puluh menit kemudian, Daniel sudah kembali ke kamar. Dia segera memberikan 'roti tawar' tersebut kepada Alesya. Setelah mengucapkan terima kasih, Alesya langsung beranjak menuju kamar mandi.


Dan, disinilah Daniel berada. Dia masih berdiri di dekat ranjang. Daniel menatap ke arah ranjang dan kamar mandi bergantian. Dan, yang menjadi pusat perhatiannya sekarang adalah si junior. Entah bagaimana caranya tadi dia langsung kembali anteng dan tidak berontak lagi.


Daniel hanya bisa mendesahkan napas berat. Dia juga menoleh ke arah tempat tidur yang ternyata meninggalkan bekas 'tamu tak diundang' Alesya. Ya, meskipun tidak banyak, tapi setidaknya cukup membuat orang yang melihatnya menjadi tahu jika ada noda di sana.

__ADS_1


"Sepertinya, malam ini harus tidur dibawah, deh," gumam Daniel sambil masih menatap ke arah tempat tidur.


Pada saat yang sama, Alesya sudah terlihat keluar dari dalam kamar mandi. Dia berjalan malu-malu ke arah Daniel dengan ekspresi bersalah.


"Ehm, Da? Maaf ya tadi ngrepotin," cicit Alesya saat sudah berada di dekat Daniel.


Daniel menoleh dan menatap ke arah Alesya.


"Ngrepotin? Nggak lah," jawab Daniel yang sebenarnya juga merasa kikuk.


"Ehm, i-itu nodanya aku bersihkan dulu, deh," ucap Alesya setelah netranya menatap noda yang ada di atas tempat tidur.


"Takutnya nggak hilang, Da. Aku cuci bagian yang terkena noda saja deh. Biar besok nggak terlalu berbekas." Alesya langsung beranjak melepas sprei.


Daniel hanya mendesahkan napas beratnya. Jika Alesya sudah seperti itu, akan sulit untuk mencegah keinginannya. Hingga tak sampai dua puluh menit kemudian, Alesya sudah selesai. Dia menggelar bagian yang basah pada sprei tersebut di atas sandaran sofa dan kursi agar segera kering.


Sementara Daniel, dia sudah menggelar selimut tebal di atas lantai untuk alas tidur mereka. Alesya mengerutkan kening saat melihat tindakan Daniel tersebut.

__ADS_1


"Eh, tidur disini?" tanya Alesya.


"Iya."


"Kenapa tidak di atas tempat tidur?" tanya Alesya bingung.


"Badanku gatal jika tidur tanpa sprei, Le."


Alesya mengangguk-anggukkan kepala. Dia tahu sekali jika kulit Daniel sangat sensitif. Daniel pasti tidak akan nyaman jika memakai baju yang baru dibeli secara langsung. Tubuh hingga lehernya pasti akan langsung merah-merah karena iritasi.


"Baiklah. Tapi, apa tidak apa-apa?" Alesya merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa bagaimana maksudnya?" Daniel menoleh setelah mengambil bantal dan sebuah selimut tipis.


"Tidak akan dingin?"


"Oh, itu. Gampang. Jika merasa dingin, nanti aku hangatkan pakai kulit. Selimut kulit kan paling ampuh menghalau rasa dingin, Le," ucap Daniel sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Yah, si Kuda lama-lama otaknya kok semakin aktif, ya. 🤧


__ADS_2