
Wajah Alesya langsung memerah setelah mendengar ucapan Daniel. Dia buru-buru menjauhkan tubuhnya agar tindakan mereka tidak semakin jauh. Bukan karena apa-apa, tapi karena memang waktu masih belum memungkinkan.
"A-apaan sih, Da." Alesya bergumam sambil memalingkan wajah.
Daniel mencebikkan bibir sambil beranjak berdiri.
"Cepat atau lambat, kita harus mengumumkan pernikahan kita, Le. Aku nggak mau ada yang ngelirik kamu," ucap Daniel dengan tatapan mata tajam.
Alesya mendesahkan napas berat. Dia sudah cukup terbiasa dengan sikap posesif Daniel sejak belum menikah. Dan, Alesya semakin yakin jika Daniel akan jauh lebih posesif setelah mereka menikah.
Pagi itu, Alesya harus segera bergegas ke pasar. Sementara Daniel, harus bersiap-siap untuk menemui teman-teman kelompok KKN nya. Hari ini, kelompok Daniel akan mengadakan pertemuan akhir untuk membahas agenda mereka.
Alesya juga melarang Daniel untuk kembali lagi. Alesya meminta Daniel tidur di rumah. Dia tidak ingin jika Daniel terlalu capek di perjalanan. Toh, kalaupun Daniel kembali, mereka juga tidak bisa ngapa-ngapain, kan?
Menjelang siang, Alesya dan Yusa sudah kembali ke rumah yang dijadikan sebagai pos mereka. Kebetulan cat rumah tersebut berwana ungu muda, teman-teman Alesya menyebutkan dengan nama 'pos ungu'.
Setelah membereskan barang-barang hasil belanjaan, Alesya dan Yusa bergegas ke kamar mereka masing-masing. Siang itu, mereka tidak mendapatkan giliran memasak.
__ADS_1
Menjelang makan malam, persiapan pembukaan KKN yang akan digelar di balau desa sudah hampir selesai. Para anggota laki-laki sudah bekerja dengan cukup baik untuk membantu menyiapkan acara.
Alesya dan teman satu kamarnya sudah bersiap-siap untuk berangkat. Mereka menggunakan beberapa kendaraan untuk pergi ke balai desa. Beberapa juga ada yang mengendarai sepeda motor.
Tak butuh waktu lama, seluruh peserta KKN sudah tiba di balai desa. Beberapa tamu undangan dan dosen pendamping pun juga sudah datang. Hingga pada pukul 19.35 acara pembukaan KKN tersebut dimulai.
Alesya duduk berdampingan dengan Gea, teman satu kamarnya.
"Sya, kamu lihat laki-laki yang duduk di deretan paling ujung itu nggak?" bisik Gea mendekat ke arah Alesya.
Seketika Alesya yang sedang memainkan ponsel langsung mendongakkan kepala menoleh ke arah yang sudah ditunjukkan oleh Gea.
"Iya." Gea menganggukkan kepala sambil kembali melirik ke arah laki-laki yang dimaksud.
"Memangnya ada apa?" tanya Alesya penasaran.
"Dari tadi lihat ke arah sini terus. Aku jadi risih," bisik Gea.
__ADS_1
Kening Alesya berkerut. Dia memang tidak mengetahui hal itu karena sejak tadi dia fokus pada ponselnya. Alesya sibuk berbalas pesan dengan Daniel yang merengek untuk kembali ke tempat Alesya. Namun, dengan tegas Alesya melarang Daniel.
Alesya tidak ingin Daniel terlalu capek. Padahal, besok ada tugas yang harus Daniel serahkan kenkampus. Jadi, Alesya benar-benar melarang Daniel.
"Masa sih, Ge?"
"Iya, Sya. Tuh, dia lihat ke sini lagi. Dia sepertinya lihatin kamu terus deh dari tadi," bisik Gea.
Alesya mencebikkan bibir. Tentu saja Alesya tidak bisa mempercayai ucapan Gea tersebut.
"Cckkk. Sembarangan. Tuh, ada Rachel, Liodra sama Lidya yang look nya sudah seperti artis papan atas. Ngapain dia repot-repot lihatin aku. Kamu ini ada-ada saja, Ge." Alesya hanya bisa menggelengkan kepala dan mengulas senyuman tipis.
Gea mendesahkan napas berat sambil melirik ke arah laki-laki tersebut. Dia tidak setuju dengan ucapan Alesya. Menurut Gea, laki-laki tersebut selalu menatap ke arah Alesya sejak awal dibukanya acara.
Hingga acara tersebut pun berakhir. Satu per satu tamu undangan berpamitan. Tak terkecuali dosen pendamping mereka.
Setelah para tamu undangan pergi, Alesya dan teman-temannya mulai membereskan sekaligus membersihkan balai desa tersebut.
__ADS_1
Dan, saat Alesya sedang menyapu di bagian samping kanan stage, sebuah tepukan mendarat pada bahuny.
"Hai, boleh kenalan, nggak?"