Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Daniel Minta Dirukiah


__ADS_3

Alesya hanya bisa diam sambil melongo saat mendengarkan cerita Daniel. Dia benar-benar tidak menyangka jika Angga bisa berbuat demikian. Diam-diam, Alesya menatap bekas luka Daniel yang masih membiru di beberapa bagian. Refleks, tangan kanan Alesya terangkat dan langsung menyentuh pipi Daniel.


"Masih biru-biru ini, Da. Sudah lo obatin?" tanya Alesya. Dia menolehkan kepala Daniel ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa bekas luka yang lainnya.


"Tadi sore sih, sudah."


"Cckkk. Selalu saja nggak telaten." Alesya menggerutu kesal. 


Setelahnya, tanpa menunggu jawaban dari Daniel, Alesya beranjak turun dari tempat tidur. Dia langsung keluar menuju ruang tengah. Alesya yakin jika salep yang dipakai Daniel tadi sore sebelum pulang, masih tertinggal di sana.


Dan, benar saja. Salep tersebut masih tergeletak di atas meja. Alesya mengambilnya dan berjalan kembali menuju kamar.


Daniel yang tidak mengetahui kemana Alesya pergi, hanya bisa bengong menunggu di dalam kamar. Tak sampai dua menit kemudian, Alesya sudah kembali ke kamar dengan membawa salep Daniel.


"Jangan dibiasakan menunda-nunda segala sesuatunya, Da. Nggak baik. Ini luka jika dibiarin terlalu lama, bisa-bisa nanti semakin membengkak. Emang lo mau wajah lo ini jadi biru-biru semua?" ucap Alesya sambil mulai membuka salep dan mengoleskannya pada luka Daniel.


"Ya, enggak lah. Nggak mau juga gue bengep lama-lama."

__ADS_1


"Nah, itu lo tau. Nggak perlu nungguin gue juga yang harus obatin luka lo. Lo bisa obatin sendiri, kan," ucap Alesya sambil terus mengoleskan salep gel di sekitaran luka Daniel.


"Nggak." Daniel langsung menjawab seolah tanpa berpikir lebih dulu.


Alesya mendelikkan kedua bola matanya setelah mendengar jawaban Daniel.


"Cckkk. Tinggal oles salep gini doang nggak bisa? Lebah banget sih, Da." Alesya menggerutu kesal. Saking kesalnya, Alesya bahkan sudah menekan nekan luka Daniel.


"Aauuwww, sakit, Le." Daniel langsung meringis.


"Ya, bukannya gitu, Le. Lo teken-teken luka gue yang masih biru ini. Ngilu beut rasanya. Lagian, ngapain gue harus obatin luka gue sendiri. Orang gue punya istri," jawab Daniel dengan ekspresi jahil.


Seketika Alesya menghentikan gerakan tangannya yang berputar-putar pada pipi Daniel tersebut. Entah mengapa pipinya terasa panas dan jantung berdebar kencang saat mendengar ucapan Daniel tersebut.


"A-apaan, sih? Lagian, ngobatin luka begini juga bisa sendiri." Alesya berusaha mengatur ekspresi wajahnya.


"Nggak kelihatan, Le." Daniel tak mau kalah.

__ADS_1


Alesya mencebikkan bibir sambil menutup tutup salep karena aktivitasnya sudah selesai.


"Tuh, kaca segede gaban kalau nggak kelihatan. Nggak usah manja deh, Da."


"Biarin. Manja sama istri sendiri boleh, lah." Daniel menggerak-gerakkan kedua alisnya naik turun. Dia memilih untuk menggoda Alesya dari pada memikirkan jantungnya yang mulai ngereog.


"Huh, otak lo lama-lama perlu di rukyah. Dah, gue ngantuk, mau tidur." Alesya langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga mengenai pinggangnya.


Daniel yang melihat hal itu, hanya bisa menghembuskan napas berat. Dia bisa melihat jika Alesya juga sama canggungnya dengan dirinya. Namun, rupanya kedua orang tersebut sama-sama berusaha keras untuk menghilangkan kecanggungan tersebut.


"Le, ini tidurnya bagaimana? Nggak ada peluk-pelukan ala-ala pengantin baru begitu?" tanya Daniel sambil menoel-noel bahu Alesya.


Kedua bola mata Alesya langsung membulat setelah mendengar pertanyaan Daniel.


"Apaan sih, Da. Tidur aja nggak usah aneh-aneh. Tidur hadap sono, noh. Jangan hadap gue. Gue juga tidur hadap sini," jawab Alesya sambil berusaha menenangkan jantungnya.


"Yah, kalau gini mah jadi nggak ada 'tumpak-tumpakan', tapi malah 'ceddit-cedditan'."

__ADS_1


__ADS_2