
Fani menolehkan kepala dengan kening berkerut. Dia benar-benar tidak mempercayai ucapan temannya tersebut.
"Eh, serius itu?" tanya Fani.
"Serius. Kalau tidak percaya, coba saja nanti lihat leher Alesya saat dia keluar kamar," ucap Sheina sambil masih berbisik.
Ketika Fani hendak menyahuti ucapan tersebut, terdengar suara temannya untuk meminta mencicipi rasa masakannya. Mau tidak mau, Fani dan Sheina menghentikan obrolan tersebut. Mereka segera melanjutkan acara memasak.
Sekitar jam dua belas siang, makan siang mereka sudah siap. Seluruh anggota kelompok yang saat itu sedang berada di pos, segera menyantap makan siang mereka. Ada dua orang lainnya yang masih ada pekerjaan di luar, termasuk ketua kelompok.
Fani mencuri-curi pandang ke arah Alesya yang saat itu tengah mengambil nasi. Setelah mengambil nasi dan lauk, Alesya segera membawa piringnya ke ruang tengah. Dia memilih untuk makan siang di sana bersama dengan teman-teman yang lainnya.
Fani yang juga sudah mengambil makan siangnya, buru-buru berjalan dan mengambil tempat duduk di dekat Alesya. Dia ingin memastikan apa yang dilihat oleh Sheina tersebut benar atau salah.
Alesya cukup kaget saat tiba-tiba Fani duduk di dekatnya. Dia memang tidak terlalu dekat dengan Fani.
"Boleh duduk disini kan, Sya?" tanya Fani sambil mengulas senyuman.
Mau tidak mau, Alesya segera mengangguk sambil membalas senyuman tersebut.
"Boleh, silahkan."
Fani tampak cukup senang. Dia masih mencuri-curi pandang ke arah leher Alesya. Dan, benar saja. Kedua bola mata Fani langsung membulat saat melihat sebuah kissmaraakk yang berada di leher Alesya.
Seketika otak Fani melanglang buana hingga ke luar angkasa. Entah mengapa dia langsung membayangkan adegan oh iya oh no. Refleks, tangan Fani langsung mencengkram sendok dengan kuat. Giginya langsung bergemeletuk an hingga membuat rahangnya mengeras.
__ADS_1
Alesya yang saat itu tengah menyantap makan siangnya, tidak terlalu memperhatikan reaksi Fani. Dia masih menikmati makan siang sambil sesekali menanggapi ucapan Astri yang kebetulan duduk di sebelahnya.
Hingga selesai makan siang, Fani bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Entah mengapa kepalanya mendadak blank.
Alesya dan yang lainnya segera membereskan piring bekas makan siang mereka sendiri. Setelah itu, semua anggota kelompok mulai beristirahat sebentar. Mereka memiliki waktu untuk beristirahat hingga jam dua. Setelah itu, aktivitas kembali dilakukan.
Siang itu, Alesya dan Astri sedang berada di kamar. Mereka mulai menyiapkan beberapa keperluan program. Hingga tiba-tiba Yusa datang dan meminta bantuan Alesya.
"Sya, ini proposal diminta antar sekarang juga ke tempat Pak Refan," ucap Yusa sambil menunjukkan proposal yang tadi sempat digandakan oleh Alesya.
"Pak Refan? Si sekdes itu?" tanya Alesya.
"Iya."
"Buat apa? Memang pemerintah desa mau ikut berpartisipasi dengan program kita?"
"Entahlah. Mana aku tahu untuk masalah itu. Tapi, tadi si Galih mendapat telepon dari pak Refan untuk dibawakan proposal program dari kita."
Alesya mendesahkan napas berat. Entah mengapa dia mulai berpikiran yang tidak-tidak.
"Kamu saja deh yang antar," ucap Alesya pada akhirnya.
Yusa pun mencebikkan bibir.
"Ih, ogah, ah. Nggak mau aku sendirian kesana."
__ADS_1
"Kalau begitu, titipin Galih, deh." Alesya masih enggan pergi menemui Refan.
"Galih belum pulang, Sya. Makanya dia minta tolong kita anterin ke pak Refan."
Alesya mendesahkan napas berat. Sepertinya, mau tidak mau dia harus turun tangan sendiri meskipun sangat malas. Namun, tiba-tiba Alesya mendapat ide. Dia segera mengambil ponselnya dan mengetikkan nomor disana. Tak perlu menunggu lama, panggilan telepon tersebut terhubung.
"Hallo?"
"Hallo, Da. Bisa minta tolong?"
"Hhhmmm, apa?" Terdengar suara Daniel yang sepertinya baru bangun tidur.
"Temenin aku ke rumah sekdes, dong?" Alesya meminta bantuan Daniel untuk menemani mereka pergi ke rumah Refan.
"Hhmmm, mau ngapain kesana?"
"Cckkk. Mau ngantar proposal." Alesya berdecak kesal.
"Harus sekarang ini?" Terdengar Daniel menguap dari seberang sana.
"Iya. Temenin, ya. Please?" Alesya tampak memelas. Entah mengapa dia tidak merasa canggung lagi di depan Astri dan Yusa. Mungkin, hal itu dikarenakan mereka sudah mengetahui status Alesya.
"Baiklah. Tapi, nanti malam temenin aku tidur di sini."
"Lho?"
__ADS_1
Eh, nggak jadi pulang apa itu si Kuda?
Jika masih punya jatah vote, sisakan satu buat mereka ya. 🤗