Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Ajakan Galih


__ADS_3

Keesokan hari, Alesya dan Daniel bergegas mandi lagi setelah tadi sudah sempat mandi sebelum subuh. Namun, karena aktivitas tambahan yang diminta Daniel setelah sholat subuh tadi, alhasil mereka harus mengulang mandi kembali.


Alesya yang memilih untuk mandi terlebih dahulu. Dia menolak saat Daniel mengajaknya mandi bersama kedua pagi itu. Setelah selesai, baru Alesya mulai membuat sarapan sementara Daniel giliran membersihkan diri.


"Sayang, nanti setelah sarapan aku akan langsung ke lokasi pertemuan. Dan, mungkin setelah itu aku langsung balik ke tempatku KKN. Kamu nggak apa-apa kan nanti jika aku nggak balik ke sini?" tanya Daniel yang saat itu sudah merecoki Alesya di dapur.


Alesya yang masih sibuk dengan aktivitas memasaknya, langsung merasakan tubuhnya mulai meremang. Bagaimana tidak, kedua tangan Daniel langsung memeluk perut Alesya dari belakang. Tak hanya itu, tangan Daniel juga mulai naik-naik ke bukit impian dan mulai menjalankan aksinya.


Meg meg uyel uyel. Meg meg uyel uyel.


Tentu saja tindakan Daniel tersebut sempat membuat Alesya terlena. Namun, beberapa saat kemudian, Alesya langsung tersadar. Jika dia terus membiarkan aktivitas yang dilakukan oleh Daniel, bisa-bisa dirinya akan mandi untuk ketiga kalinya pagi itu. Dan, yang lebih parah, masakannya tidak akan selesai dibuat.


"Lepas ih, Mas. Ini ngapain tangan uleng-uleng ginian? Mending bantuin masak tuh halusin cabe." Alesya buru-buru melepaskan tangan Daniel.


"Cckkk. Dikit doang, Yang." Daniel mencebikkan bibir sambil meraih cobek dan mulai menghaluskan bumbu. Jangan dikira Daniel tidak bisa terjun ke dapur. Dia cukup ahli menggunakan peralatan dapur karena sering dipaksa sang mama untuk membantunya.


Tak sampai tiga puluh menit kemudian, masakan Alesya sudah selesai. Keduanya segera menyantap sarapan dan kembali ke pos. Daniel langsung mengantarkan Alesya begitu mereka selesai membereskan keperluan. 


Saat keduanya memasuki halaman pos Alesya, tampak ada Nick dan Gea yang tengah adu mulut di halaman depan. Terlihat dengan jelas jika Nick kembali memancing-mancing emosi Gea dengan menggoyang-goyang ranting pohon belimbing yang ada di depannya. Alhasil, daun-daun yang sudah mulai kering langsung jatuh berguguran. 

__ADS_1


Gea yang saat itu tengah menyapu halaman dan sudah berhasil mengumpulkan sampah daun-daun kering, dibuat uring-uringan karena tingkah Nict tersebut.


"Eh, Galah bambu, lo kira gue mesin apa yang bisa bolak balik nyapu nih halaman?! Lihat noh, kotor lagi!" Gea langsung emosi.


Dengan tampang tanpa dosa, Nick justru dengan santai menjawab ucapan Gea.


"Gue kan bantuin lo tadi. Gue bantuin biar daun-daunnya rontok semua," ucap Nick.


"Kalau niat bantuin, dari tadi dodol! Ini gue sudah mau selesai ngapain lo bantuin gue, hah!"


"Ccckkk. Gini nih, orang yang nggak punya terima kasih. Sudah dibantuin malah nyolot." Nick buru-buru ngeloyor pergi sebelum Gea melayangkan sapu ke udara. Mulutnya sudah misuh-misuh saat melihat kepergian Nick.


Alesya dan Daniel hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Setelah berpamitan, Daniel langsung bergegas ke tempat pertemuan. Sementata Alesya, berniat untuk mencuci baju-bajunya yang masih kotor.


"Sya, baru balik, lo?" tanya Galih.


"Iya, nih."


"Daniel langsung cabut?"

__ADS_1


"Ho oh. Katanya ada yang harus diperiksa dulu."


Mendengar jawaban Alesya, Galih terlihat berpikir. Entah mengapa Alesya merasa jika ada sesuatu yang hendak Galih sampaikan.


"Ada apa, Lih? Ada yang mau lo bicarakan sama Daniel?" tanya Alesya.


"Ehm, sebenarnya iya, sih. Tapi, gue ngomong sama lo dulu juga nggak apa-apa."


Alesya semakin penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Galih.


"Ada apa, sih? Ada hubungannya sama gue dan Daniel?" Alesya benar-benar penasaran.


Galih menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia memastikan tidak ada yang mendengar apa yang akan disampaikannya.


"Iya. Ini ada hubungannya sama lo dan Daniel. Ehm, sebaiknya lo ikut gue dan Nick ke kota. Kita mau ambil pesanan kaos untuk perangkat desa. Nanti gue dan Nick akan jelasin di jalan." Galih sedikit berbisik saat menyampaikan maksudnya.


"Eh, gue harus ikut? Kenapa nggak ngomong disini saja?" tanya Alesya bingung.


"Sstttt. Nggak bisa jika ngomong di sini, Sya." Galih menempelkan jari telunjuknya di depan bibir.

__ADS_1


Belum sempat Alesya menyahuti ucapan Galih, terdengar sebuah suara dari arah tangga.


"Kalian ngapain?"


__ADS_2