Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Rem Blong


__ADS_3

Lagi-lagi kak Desi dibuat kesal dengan ucapan Daniel. Dia mendelik tajam ke arah adik laki-lakinya tersebut.


"Mulutmu, Dan! Jangan suka sembarangan kalau ngomong," ucap kak Desi bersungut-sungut kesal.


"Ya, habisnya kakak ngapain juga ke rumah pak Ferdian. Emang nggak bisa jika pekerjaan dilakukan di kampus atau di tempat-tempat ramai seperti kafe, restoran atau kemana gitu. Jika di rumah bisa menimbulkan fitnah." 


Kak Desi hanya mencebik kesal. Sebenarnya, memang benar apa yang diucapkan oleh adiknya itu. Namun, dia juga terpaksa melakukan hal itu karena keadaan. 


"Aku juga tau kalau masalah itu, Dan. Tapi, saat itu aku benar-benar terpaksa. Tiga kali aku pergi ke kontrakan pak Ferdian, dan kebetulan tiga kali itu juga aku ketahuan oleh orang tuanya," jelas kak Desi sambil mendesahkan napas berat.


"Kok bisa tiga kali dan ketahuan semua? Itu sih bukan kebetulan, Kak. Kalau sekali sih mungkin. Tapi kalau sudah tiga kali bukan kebetulan namanya, tapi niat."


Kak Desi lagi-lagi mendelik kesal ke arah sang adik.

__ADS_1


"Niat apa sih, Dan. Mana mungkin aku ada niatan seperti itu."


"Lalu, bagaimana ceritanya kok bisa kakak ketahuan orang tua pak Ferdian?"


Akhirnya, kak Desi pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ehm, waktu pertama kali itu kami baru saja menghadiri sebuah seminar di salah satu kampus. Kami berangkat bersama setelah makan siang karena seminar dimulai pada pukul dua siang. Setelah seminar, aku terpaksa ikut ke rumah kontrakan pak Ferdian untuk mengambil buku sebagai referensi tugas yang harus aku kerjakan."


"Mami Nia bahkan mulai bertanya-tanya mengapa ada aku disana saat itu. Beruntung saat itu aku sudah selesai dan segera berpamitan meskipun masih hujan. Aku sudah memesan taksi online yang sudah menunggu di depan rumah pak Ferdian."


"Pertemuan di rumah pak Ferdian yang kedua terjadi gara-gara pak Ferdian kecelakaan karena diserempet motor jambret. Dia terjatuh hingga siku tangan kanannya menghantam aspal dengan keras. Saat itu, tangannya tidak bisa digerakkan. Karena waktu itu aku juga ada di sana, akhirnya aku antar ke rumah sakit dan sekalian mengantarnya pulang setelah itu."


"Begitu baru sampai di rumah, ternyata tak berapa lama kemudian orang tua pak Ferdian datang dari berbelanja. Rupanya, mereka memang sudah sejak kemarin ada di rumah pak Ferdian. Mereka langsung terkejut saat mengetahui pak Ferdian baru saja mengalami kecelakaan. Saat itu, aku langsung berpamitan karena berpikir jika pak Ferdian sudah ada yang menjaga."

__ADS_1


"Beberapa hari setelahnya, aku mendapat telepon dari mami Nia. Entah beliau dapat nomor ponselku dari mana, tapi yang jelas mami Nia sering menghubungiku setelah itu."


"Nah, yang terakhir ini agak sedikit memalukan." 


Kak Desi terlihat salah tingkah saat hendak bercerita. Daniel dan Alesya langsung menoleh saling pandang.


"Memalukan bagaimana maksudnya, Kak? Jangan bilang kalian melakukan hal-hal yang menggoda iman, Kak?" Daniel langsung menuduh sang kakak.


"Sembarangan! Mulutmu kenapa sekarang jadi licin begini sih, Dan? Sepertinya olinya Caca sudah benar-benar bisa melicinkan lidahmu, jadi kalau ngomong suka nggak ada rem. Blong terus."


"Lhah, kan emang sudah blong, Kak."


"Embuuuhhh, Dan! Embuuhhh."

__ADS_1


__ADS_2