Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Tidak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Begitu mendengar sebuah suara, Daniel dan Alesya langsung menoleh ke belakang. Keduanya cukup terkejut saat melihat sosok seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Edrik? Kebetulan ketemu lo disini. Apa kabar?" sapa Daniel sambil mengulurkan tangannya untuk melakukan sapaan ala anak-anak muda. Alesya juga sempat bersalaman dengan Edrik setelahnya.


"Baik. Kalian apa kabar? Waahh sudah berani ngamar bareng nih," ucap Edrik sambil menaik turunkan alisnya.


Mendengar ucapan Edrik, Daniel dan Alesya langsung saling pandang. Rupanya, Edrik belum mengetahui perihal berita pernikahan mereka.


"Lo belum dengar kabar berita pernikahan kita, Drik?" tanya Daniel.


Tentu saja pertanyaan Daniel tersebut cukup membuat Edrik terkejut. Ya, meskipun semua orang yang mengenal Alesya dan Daniel mengetahui kedekatan mereka, namun orang-orang juga tidak pernah berpikir jika Daniel dan Alesya akan menikah pada akhirnya.


"Kalian menikah? Serius, Dan?" Edrik menatap wajah Alesya dan Daniel bergantian.


"Iya, Drik. Kami menikah sekitar dua bulan yang lalu." Kali ini Alesya yang menjawab pertanyaan Edrik.


"Eh, kok bisa kalian menikah tiba-tiba begini? Yah, gagal dong harapan gue ngegebet Alesya, Dan," ucap Edrik dengan ekspresi menyesal.

__ADS_1


Buukkk.


Daniel memukul bahu Edrik dengan lirih. Ekspresi wajah Daniel mendadak kesal mendengar ucapan temannya itu.


"Sembarangan kalau ngomong. Bini gue, nih!" Daniel langsung pasang kuda-kudaann. Eh.


Edrik terkekeh mendengar ucapan Daniel. Dia menatap wajah kedua temannya tersebut sambil masih menyisakan kekehannya.


"Tenang, Dan. Gue hanya bercanda, kok. Kalaupun Alesya mau sama gue, sudah sejak jaman SMA dia gue gebet, dah."


Daniel mencibir ucapan Edrik. Dia cukup tahu jika Edrik memang memiliki daya tarik tersendiri bagi perempuan. Hanya saja, gaya pacaran Edrik memang sedikit 'horor' saat itu.


"Kamu hati-hati jika ketemu Edrik lagi. Ingat, jangan sampai tergoda mulut manisnya kalau ngomong." Daniel langsung menasehati Alesya. Entah mengapa mood nya mendadak buruk setelah bertemu dengan Edrik.


Alesya menoleh ke arah Daniel dengan kening berkerut. Dia cukup heran dengan sikap posesif Daniel kali ini. Tidak biasanya dia mengatakan hal seperti itu.


"Iya." Alesya hanya bisa mengiyakan ucapan Daniel. Dia cukup tahu jika mood suaminya itu sedang buruk.

__ADS_1


Begitu sampai di lobi, mereka masih harus menunggu karena kak Desi belum datang. Namun, sekitar lima belas menit kemudian, Alesya dan Daniel melihat kak Desi sudah keluar dari sebuah taksi. Keduanya langsung berjalan menghampiri kakaknya tersebut.


"Sebenarnya mau kemana sih, Kak?" tanya Daniel sambil menoleh sekilas ke arah dua orang perempuan yang masih sibuk mengobrol di kursi belakang. Daniel memang duduk di depan di samping supir.


"Sudah, kamu ikut saja. Pokoknya terima beres." Kak Desi masih enggan menceritakan apa yang hendak mereka lakukan.


Tak berapa lama kemudian, mereka bertiga sudah tiba di sebuah butik. Baik Alesya dan Daniel yang memang belum mengetahui rencana Desi, hanya bisa mengekori langkah kaki perempuan tersebut.


"Kak, ini ngapain kita mau kesini? Aku nggak mau beli baju, ah. Aku sudah bawa baju banyak," ucap Daniel sambil mengamati deretan pakaian yang berada di kanan kirinya.


"Sstttt. Kamu diam saja, Dan. Pokoknya terima beres," ucap kak Desi sambil masih menarik lengan Alesya. Sementara Daniel, masih setia mengekori langkah kaki dua wanita di depannya itu.


Seorang staf yang terlihat sudah cukup mengenal kak Desi, langsung menghampiri mereka. Setelah berbicara sebentar, mereka bertiga diarahkan menuju bagian sebelah kanan butik tersebut.


"Nah, ini koleksi terbaru kami. Modelnya tidak terlalu mewah dan glamour, tapi terlihat sangat elegan. Bisa dipakai untuk acara pertemuan keluarga," ucap staf tersebut.


Mendengar ucapan staf itu, Daniel langsung menoleh dan menatap wajah sang kakak dengan tatapan intimidasi.

__ADS_1


"Pertemuan keluarga? Ini maksudnya apa, Kak? Mau ketemu calon mertua begitu?"


__ADS_2