Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Dijalani Saja


__ADS_3

Mendengar ucapan Alesya, kak Desi langsung melongo. Dia tidak habis pikir jika adik iparnya tersebut akan menjawab seperti itu.


"Kok kamu sekarang jadi ahli begini, Ca? Si Daniel sepertinya sukses ngajarin hal-hal seperti ini, ya?" tuduh kak Desi dan sukses membuat Alesya malu. 


Alesya juga baru sadar dengan ucapannya tadi yang mengarah ke hal iya-iya.


"Eh, eng-enggak kok, Kak." Alesya berkilah.


"Nggak salah begitu maksudnya, Ca?" Kak Desi menaik turunkan alisnya ke arah Alesya. Dan, tentu saja hal itu sukses membuat Alesya malu bukan kepalang.


"Apaan sih, Kak." Wajah Alesya terlihat sekali sedang merah karena malu.


Melihat tingkah Alesya, kak Desi pun langsung tergelak.


"Nggak usah malu begitu, Ca. Wajar saja kalian kan sudah menikah. Mungkin, aku dan mas Ferdian juga akan melakukan hal yang sama nanti jika sudah lebih saling mengenal."


"Maksudnya bagaimana, Kak?" Alesya mengerutkan kening bingung setelah mendengar ucapan kakak iparnya itu.


Kak Desi mendesahkan napas berat sebelum kembali bersuara.


"Kalau boleh jujur, aku dan mas Ferdian belum terlalu dekat. Maksudnya belum terlalu dekat dalam artian khusus. Kami memang cukup dekat karena aku menjadi asistennya di kampus. Dan, interaksi kita bisa dibilang sembilan puluh persen selalu berhubungan dengan aktivitas kampus."

__ADS_1


"Kami jarang sekali membahas hal-hal yang bersifat pribadi. Kecuali, beberapa waktu lalu saat papi dan maminya lumayan sering berkunjung ke Jogja. Sejak saat itu, kami mulai lebih sering bertukar pesan, bahkan melakukan panggilan telepon."


"Dan, puncaknya beberapa hari sebelum kita kembali ke Jakarta. Saat itu, dia baru saja tiba di Bandung. Aku tidak tahu dan belum sempat menanyakan apa yang terjadi saat itu. Tapi, dia tiba-tiba saja menghubungiku dan mengajak menikah."


"Tentu saja aku terkejut mendengarnya. Bisa-bisanya dia mengajak menikah seperti mengajak beli kacang rebus. Aku tidak mengiyakan dan tidak juga menolak saat itu. Namun, sepertinya dia tetap kekeh dengan keinginannya."


"Setelah itu, seperti yang kamu ketahui dia datang ke rumah dan mengajak papi dan maminya sekalian untuk melamar. Hingga saat ini, aku belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," ucap kak Desi menjelaskan.


Alesya mengangguk mengerti. Dia bisa melihat kekhawatiran kakak iparnya itu. Namun, Alesya juga yakin jika pak Ferdian benar-benar serius dengan pernikahannya kali ini. Alesya bisa melihat dari tatapan mata pak Ferdian jika sebenarnya laki-laki itu menyimpan rasa kepada kak Desi.


"Dijalani sambil jalan saja, Kak. Jangan terlalu overthinking kepada pak Ferdian. Aku yakin kok, jika sebenarnya pak Ferdian itu ada rasa sama kak Desi. Percaya deh sama aku."


"Yakin, Kak. Dari cara menatap kakak saja sudah bisa dilihat jika pak Ferdian itu sebenarnya suka sama kakak. Hanya saja, mungkin pak Ferdian belum berani mengatakan secara langsung. Tunggu deh beberapa saat lagi pasti pak Ferdian akan mengaku kepada kakak."


Kak Desi hanya bisa menganggukkan kepala. Dia berharap apa yang dikatakan oleh Alesya benar adanya.


***


Menjelang petang, keadaan rumah keluarga Daniel sudah kembali seperti semula. Sisa-sisa perlengkapan acara pun sudah tidak ada. Bahkan, kursi-kursi di ruang tamu dan ruang tengah pun sudah kembali seperti semula.


Daniel dan Alesya beserta ayah dan ibu juga sudah pulang ke rumah. Mereka ingin beristirahat karena merasa sangat capek. Sementara di rumah orang tua Daniel, hanya ada kak Desi dan orang tuanya. 

__ADS_1


"Suami kamu jadi kesini, Des?" tanya mama saat menyiapkan makan malam.


"Jadi, Ma. Tadi sudah kirim pesan jika mau berangkat. Mungkin sebentar lagi…," ucapan kak Desi belum selesai dan sudah terdengar suara salam dari depan.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab mama dan kak Desi bersamaan.


"Tuh, sepertinya suami kamu sudah datang, Des. Sana kamu lihat dulu." Mama meminta kak Desi menemui suaminya.


"Iya, Ma."


Dengan langkah sedikit terburu-buru, kak Desi langsung bergegas menuju pintu utama. Pintu depan yang memang tidak di tutup membuat kak Desi langsung bisa melihat siapa yang baru saja datang. Ya, dia adalah Ferdian, sang suami.


"Ha-hai." Ferdian menyapa gugup.


Meski sama-sama gugup, namun kak Desi tetap berjalan mendekat dan meraih tangan Ferdian untuk di kecupnya. Sontak saja tindakan tiba-tiba tersebut membuat Ferdian kaget. Dan, refleks dia mengecup kening Desi.


"Ciieeee…."


Lhah, siapa itu?

__ADS_1


__ADS_2