Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Tidak Sabar Lagi


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, Yusa sudah pulang dari membeli bensin. Alesya dan yang lainnya segera mengikuti Yusa untuk menuju taman kanak-kanak. 


Aktivitas Alesya hari itu, selesai hingga menjelang pukul satu siang. Setelahnya, Alesya dan tim segera membahas apa yang harus dilakukan kedepannya terkait program yang mereka usung.


Alesya mengesampingkan apa yang terjadi dengan Fani tadi pagi. Dia masih tidak ambil pusing dengan hal itu. Namun ternyata, sikap biasa saja yang ditampilkan Alesya tidak serta merta diikuti oleh Fani.


Saat berpapasan atau kebetulan berhadapan langsung dengan Fani, jelas sekali Fani menyimpan kekesalan terhadap Alesya. Karena merasa sudah tidak sabar lagi, akhirnya Alesya menghampiri Fani yang hendak kembali ke lantai dua.


"Tunggu, Fan!" Alesya bahkan sedikit berteriak. Suara panggilannya menarik perhatian beberapa orang yang ada di ruang tengah rumah tersebut.


Dengan ekspresi malas, Fani menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap ke arah Alesya. Terlihat sekali ekspresi wajahnya yang sangat jengah harus berhadapan dengan Alesya.

__ADS_1


"Lo ada masalah apa sama gue sebenarnya?" tanya Alesya dengan ekspresi datar. 


Selama ini, Alesya memang terlihat santai dalam menyikapi tingkah Fani. Tapi, tidak kali ini. Alesya merasa sangat jengah seolah-olah dia telah melakukan suatu kesalahan terhadap Fani.


"Maksud lo apa?" Bukannya menjawab, Fani justru balik bertanya.


"Gue ada salah sama lo? Gue ngelakuin sesuatu yang menyinggung perasaan lo?" tanya Alesya sambil masih menatap wajah Fani dengan ekspresi datar. "Jika selama gue berada di sini gue ngelakuin kesalahan dan menyinggung perasaan lo, gue minta maaf. Bilang sama gue hal apa yang gue lakuin di sini dan itu nyinggung lo."


"Jangankan balasan perasaan dari Daniel, gue kira Daniel juga nggak akan ngeuh ada lo di sekitarnya. Jadi, jangan buang-buang energi lo untuk merajuk seperti ini. Karena apapun yang lo lakuin, nggak akan bisa merubah status gue yang sudah jadi istrinya Daniel."


"Sorry, Fan. Bukan maksud gue nyinggung perasaan lo dengan ngomong begini. Gue cuma mau lo buka mata dan hati lo jika apa yang selama ini lo angan-anganin, nggak akan pernah terjadi. Daniel sudah jadi milik gue. Dan, apapun akan gue lakuin untuk menjaga apa yang sudah jadi milik gue," ucap Alesya panjang lebar.

__ADS_1


Fani masih membeku mendengar ucapan Alesya. Dia cukup kaget saat menghadapi Alesya yang seperti ini. Selama ini, Alesya memang tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini. Dia akan biasa saja dan cenderung tidak pernah marah.


Namun, hari itu Fani merasa berbeda. Tatapan mata Alesya, benar-benar menunjukkan jika dia sedang kesal dan marah. 


"Lo ngomong apa sih, Sya?" Fani masih membela diri. "Gue nggak seperti yang lo tuduhkan, ya." Fani sempat melirik teman lainnya yang masih menatap ke arah mereka berdua.


"Oke. Gue anggap lo nggak ngelakuin hal seperti yang gue omongin. Gue anggap lo bisa ngendaliin diri lo dengan baik. Karena kalau tidak, gue nggak akan tinggal diam."


"Anggap saja si Daniel seperti artis-artis Korea yang sudah menikah seperti yang sering lo omongin itu. Sebesar apapun usaha lo untuk menggapainya, yakinlah bahwa itu tidak akan berhasil. Ya, kali istrinya ngebiarin suaminya direbut valakor dan diam saja," ucap Alesya masih dengan ekspresi tegasnya.


Hhmmm, si Ale-ale sudah mulai….

__ADS_1


__ADS_2