
Daniel dan Alesya terpaksa menunda makan malam bersama dengan ayah dan ibu. Mereka harus pergi ke rumah orang tua Daniel karena telepon sang kakak.
"Siapa sih sebenarnya tamunya, Mas? Kenapa kita juga harus datang?" tanya Alesya saat mengekori langkah kaki Daniel menuju rumah mertuanya.
"Entahlah. Kak Desi nggak ngomong siapa yang datang malam-malam begini."
Tak butuh waktu lama, Daniel dan Alesya sudah tiba di halaman samping rumah orang tua Daniel. Mereka langsung masuk melalui pintu samping yang menghubungkan langsung dengan ruang tengah dan ruang makan.
Sayup-sayup terdengar suara orang mengobrol dari ruang tamu rumah keluarga Daniel. Daniel dan Alesya pun memutuskan untuk bergabung di sana.
Begitu sampai di ruang tamu, sontak saja Daniel dan Alesya terkejut saat melihat siapa tamu yang ada di sana. Bahkan, Alesya langsung mencengkram lengan Daniel saking terkejutnya.
"Mami? Papi? Kok bisa ada di sini?" refleks Daniel langsung bersuara.
Ya, saat itu tamu yang berkunjung di rumah orang tua Daniel adalah mami Nia, papi Indra, dan satu lagi tentu saja adalah Ferdian. Daniel dan Alesya benar-benar terkejut dengan kedatangan mereka.
__ADS_1
Kedua orang tua Daniel pun langsung menoleh ke arah Daniel dan Alesya yang masih berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka. Kening orang tua Daniel kompak berkerut karena bingung bagaimana Daniel dan Alesya mengenal para tamu mereka, bahkan sudah memanggil mami dan papi segala.
"Kalian sudah saling kenal, Dan?" tanya papa Daniel.
"Eh, ehm, kemarin sudah pernah ketemu waktu di Jogja, Pa." Daniel menjawab sambil berjalan untuk menyalami para tamu tersebut dan diikuti oleh Alesya. Setelahnya, Daniel dan Alesya duduk di sofa panjang yang sama dengan kakaknya.
Papa dan mama Daniel mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Setelahnya, obrolan ringan pun kembali dilakukan. Mama Daniel yang menyadari jika sebenarnya saat itu sudah masuk waktu makan malam, langsung berinisiatif menyiapkan makan malam untuk menjamu para tamunya tersebut.
Alesya dan kak Desi pun langsung mengikuti sang mama untuk menyiapkan makan malam. Beruntung mama menyiapkan makan malam berlebih dan ada beberapa menu tambahan untuk menyambut kedatangan anaknya. Mama Daniel sama sekali tidak mengetahui jika malam ini dia akan kedatangan tamu. Apalagi, tamu yang datang adalah dosen putrinya beserta orang tuanya.
"Maaf, Ma. Aku juga nggak tau jika pak Ferdian dan orang tuanya akan datang kesini malam ini. Mereka juga nggak bilang apa-apa, kok." Kak Desi membela diri sambil menata piring di atas meja makan.
Alesya sibuk menyiapkan air minum untuk para tamu sambil mendengarkan obrolan kedua orang di depannya tersebut tanpa perlu berkomentar.
"Masa sih kamu nggak tahu jika mereka mau mampir kesini, Des?" Mama bertanya dengan ekspresi tidak percaya. Dan, tentu saja kak Desi bisa dengan jelas melihat hal itu.
__ADS_1
"Mama nggak percaya? Aku sudah bilang jika nggak tahu mereka mau mampir, Ma. Aku memang tahu jika pak Ferdian akan ke Jakarta setelah dari Bandung. Tapi, aku benar-benar tidak tahu jika dia akan mampir kesini bareng orang tuanya," jawab kak Desi dengan ekspresi kesal.
Memang benar jika kak Desi tidak mengetahui perihal kedatangan dosennya itu dengan orang tuanya. Pak Ferdian tidak mengatakan apapun tentang kedatangannya bersama orang tua malam itu.
"Kok aneh mereka tiba-tiba datang kesini barengan, Des? Tadi bukannya orang tua dosen kamu baru dari Makassar, kan?"
"Iya, Ma. Mami dan papi memang sejak seminggu yang lalu ada di Makassar."
"Terus itu dari bandara langsung kesini begitu kan berarti. Apa ada hal penting yang mengharuskan mereka langsung kesini? Meskipun mama yakin jika sebenarnya mereka cukup lelah."
"Maksud mama, hal penting apa?" tanya kak Desi sambil menatap sang mama dengan kening berkerut.
"Mau melamar kamu mungkin," jawab mama dengan ekspresi santai.
"Mama!"
__ADS_1