Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Telepon


__ADS_3

Alesya dan Yusa langsung cengo setelah mendengar jawaban Galih. Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Galih dan Nick. Rupanya, laki-laki jika disuguhi hal-hal berbau encum, seketika otaknya tidak bisa menolak dengan mudah. 


"Dasar bocah gemblung! Bisa-bisanya kalian malah menonton hal-hal seperti itu. Astaghfirullah." Yusa langsung menggelengkan kepala dan mengusap dada sambil mengucap istighfar.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Alesya, sementara Galih hanya bisa tersenyum nyengir.


"Hati-hati, Lih. Jangan sampai apa yang kalian lakukan merugikan diri sendiri. Bisa-bisa si Risma menuntut kalian nanti," ucap Alesya.


"Eh, menuntut kenapa? Kita kan nggak minta. Ya kali kita nolak dikasih kiriman begituan," ucap Galih membela diri.


Alesya dan Yusa hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka tidak akan ikut campur untuk urusan laki-laki.

__ADS_1


Empat hari berlalu, hujan mulai turun kembali sejak siang. Hingga kini menjelang pukul sepuluh, hujan masih turun cukup deras. Bagian teras belakang yang berada di dekat dapur, sempat mengalami kebocoran. Para laki-laki bergegas mengatasi kebocoran tersebut agar air tidak sampai masuk ke dalam dapur.


Setelah melakukan rapat evaluasi, seluruh anggota KKN segera melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang langsung balik ke kamar, ada yang masih rebahan di ruang tengah, bahkan ada yang membuat makanan.


Para laki-laki sudah mulai nongkrong di teras depan seperti biasa. Mereka merokok dan mulai membahas banyak hal. Entahlah apa yang mereka bahas hingga betah sampai larut malam. Mungkin, cerita nabi-nabi atau lainnya. Othor nggak tahu apa yang biasanya dibahas di grup tongkrongan anak laki-laki.


Alesya, Gea dan Astri langsung kembali ke dalam kamar mereka. Hujan yang cukup deras, tidak membuat mereka segera menutup jendela kamar. Ketiganya duduk bersila sambil mengobrol dengan ditemani kacang rebus yang mereka masak sore tadi.


"Tau nggak, Sya, gue bener-bener kesel sama di Repan. Sudah tau lo itu punya suami, masih saja ditanyain. Mana tanya-tanya alamat, keluarga, bahkan mantan-mantan lo. Dikira gue othor yang selalu tahu kisah semua orang apa," ucap Gea menggerutu kesal.


Alesya hanya tersenyum sambil mengedikkan bahu. Dia terlihat acuh dan tidak tertarik.

__ADS_1


"Ya lo jawab aja nggak tau, Ge. Ribet amat, dah." Astri ikut menimpali.


"Sudah gue jawab gitu, As. Eh, si Repan kagak puas sama jawaban gue. Apa perlu gue puasin pakai bogem kali, ya?" Gea masih terlihat kesal.


Alesya langsung tergelak mendengar jawaban Gea. Dia sudah cukup tahu jika Gea adalah tipe-tipe perempuan bar-bar yang tidak bisa dengan mudah ditaklukin. Bahkan, hampir setiap hari ada saja bahan yang membuat Gea dan Nick adu mulut. Eits, maksudnya berdebat lho ya, bukan adu mulut seperti Alesya dan Daniel.


"Lain kali, jika ada yang tanyain gue lagi, bilang saja nggak tau dan nggak usah ditanggepin. Buang-buang tenaga," ucap Alesya kemudian.


Belum sempat Gea menyahuti ucapan Alesya, tiba-tiba ponsel Alesya yang berada di depannya berbunyi. Tampak nama Daniel tertera pada layar yang menyala tersebut. Sontak saja hal itu dilihat oleh dua orang teman Alesya. Dan, bisa dipastikan apa yang akan mereka lakukan setelahnya.


"Ciieee….."

__ADS_1


Kira-kira teman-teman Alesya mau ngomong apa ya? 🤭


__ADS_2