
Mama Daniel langsung tergelak lirih saat melihat sang putri menggerutu kesal. Sebenarnya, mama tidak masalah jika memang ada yang berniat serius untuk meminang sang putri. Hanya saja, mama ingin memastikan dengan benar jika orang yang ingin meminang putrinya itu adalah orang baik-baik dan serius.
Alesya yang sebenarnya juga mempunyai pemikiran dengan mama mertuanya, hanya bisa berdoa dan mengaminkan dalam hati. Dia berharap semoga memang kali ini pak dosen akan menjadi jodoh kakak iparnya itu.
Hingga tak berapa lama kemudian, makan malam sudah selesai disiapkan. Mama Daniel pun mengajak semuanya untuk segera beranjak menuju ruang makan.
"Maaf, Bapak, Ibu, Nak Ferdian, menu makan malamnya sederhana. Kami sama sekali tidak tahu jika akan kedatangan tamu besar malam ini, jadi tidak sempat menyiapkan jamuan spesial," ucap mama Daniel sesaat setelah mempersilahkan para tamunya untuk segera bersantap.
"Justru kami yang merepotkan ini, Bu. Kami benar-benar tidak bermaksud untuk membuat Ibu dan keluarga repot begini," jawab mami Nia.
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Kebetulan memang tadi saya sempat memasak lebih. Putri saya ini kan jarang pulang, dan kebetulan juga hari ini ikut pulang barengan sama Daniel."
Setelahnya, mereka langsung memulai makan malam sambil diselingi obrolan ringan. Selama makan malam, kak Desi sering mencuri-curi pandang ke arah dosennya itu. Entah mengapa dia selalu merasa betah menatap wajah sang dosen jika tidak sedang dalam mode serius seperti itu.
__ADS_1
Ya, ekspresi Ferdian memang tidak se kaku saat sedang mengajar di dalam kelas. Dia terlihat sudah cukup santai saat mengobrol dengan orang tua Daniel. Bahkan, sesekali sebuah senyuman pun tersungging di bibirnya. Dan, tentu saja hal itu membuat kakak Daniel itu gagal fokus.
Alesya yang beberapa kali sempat memergoki kakak iparnya tengah mencuri-curi pandang ke arah sang dosen, langsung menjawil lengannya. Seketika kepala kak Desi langsung menoleh ke arah Alesya.
"Ada apa?" bisik kak Desi.
"Lihatnya gitu amat sih, Kak? Tuh, mami Nia sampai senyum-senyum lihat kak Desi nggak berkedip menatap pak Ferdian."
Tak berapa lama kemudian, acara makan malam pun selesai. Kini, semua orang berpindah ke ruang tengah. Papa Daniel mengajak para tamunya duduk di ruang tengah yang lebih luas agar lebih santai mengobrol.
"Jadi, malam ini masih akan menginap di Jakarta?" tanya papa Daniel begitu mendengar penjelasan papi Indra jika mereka masih akan berada di Jakarta hingga esok hari.
"Benar, Pak. Kami rencananya akan kembali ke Surabaya senin siang. Tapi kalau Ferdian sih saya kurang tahu," jawab papi Indra sambil menoleh ke arah putranya. "Kamu rencana kembali ke Jogja kapan, Fer?" tanya papi Indra.
__ADS_1
"Ehm, mungkin senin atau selasa, Pi. Aku masih tidak ada kegiatan di kampus. Minggu depan kan juga masih minggu tenang sebelum ujian akhir."
Semua orang di sana pun mengangguk-anggukkan kepala. Orang tua Daniel juga mengetahui hal itu karena sang putri juga memberikan alasan yang sama sehingga dia bisa ikut pulang bersama dengan Daniel.
Setelahnya, obrolan kembali di lakukan di antara mereka. Bahkan, Daniel pun terlihat mulai akrab dengan pak Ferdian yang terlihat cukup tertarik dengan usaha kedai milik Daniel. Pak Ferdian pun juga meminta Daniel dan Alesya untuk tidak memanggilnya dengan panggilan 'pak' dan malah meminta mereka untuk memanggil nama saja.
"Eh, nggak sopan dong, Pak. Pak Ferdian kan dosen kakak saya, mana bisa kami hanya memanggil nama," tolak Daniel.
Belum sempat pak Ferdian menyahuti ucapan Daniel, mami Nia sudah langsung menyahut.
"Kalau nggak mau panggil nama langsung, mungkin bisa diganti dengan panggil mas Ferdi aja kali, ya. Kan sebentar lagi si Ferdian ini juga bakal jadi kakak ipar kamu, Dan."
"Waahhh, kakak ipar?!"
__ADS_1