
Kedua tangan Alesya langsung mencengkram sprei dan selimut yang menempel pada perutnya. Tubuh Alesya menegang saat tangan Daniel mulai memeluknya dengan erat. Jangan lupakan beberapa kecupan basah yang didaratkan Daniel pada tengkuknya.
"Ehhmm, Da? A-apa yang kamu lakukan?" cicit Alesya. Jangan lupakan jantung Alesya yang sudah bertalu-talu dan membuat dadanya bergemuruh hebat.
"Hhmmm?" bukannya melepaskan lilitan tangannya, Daniel justru mengeratkan pelukan pada perut Alesya. Bibirnya pun juga masih bermain-main di sekitar tengkuk Alesya.
Entah mengapa Daniel merasa sangat suka dengan aroma tubuh Alesya. Selama ini, Daniel memang tidak pernah melakukan hal-hal yang intim selama dekat dengan perempuan. Dan, sekalinya dekat, Daniel justru malah langsung menikahinya. Jadi, ya begitu itu akhirnya jika ada kesempatan.
"I-ini kenapa peluk-peluk?" Alesya berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Memang kenapa? Kita sudah sah. Jadi, wajar jika kita melakukan ini, kan? Bahkan jika kamu mau, kita bisa melakukan lebih dari ini," jawab Daniel.
Alesya menggigiti bibir bawahnya. Dia bingung harus berbuat apa. Sementara pikirannya sedang berperang, Daniel semakin mengeratkan pelukan. Bahkan, wajah Daniel sudah menempel pada bagian belakang kepala Alesya.
Alesya bisa merasakan hembusan napas Daniel yang mulai teratur mengenai tengkuknya. Sepertinya, Daniel sudah mulai terlelap. Alesya yang tak mau membuat perdebatan lagi, akhirnya dia cukup pasrah membiarkan Daniel memeluknya sepanjang malam. Malam itu, Alesya dan Daniel tidur berpelukan untuk pertama kalinya.
Keesokan harinya, seperti biasa Alesya selalu bangun saat mendengar suara adzan subuh. Saat membuka mata, Alesya masih merasakan belitan tangan Daniel pada perutnya.
Setelah berhasil mendapati kesadaran penuh, Alesya segera memindahkan tangan Daniel dari perutnya. Alesya segera beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelahnya, dia langsung melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Begitu Alesya selesai, dia segera merapikan perlengkapan sholatnya. Setelah itu, Alesya langsung membuka seluruh jendela yang ada di kamar tidur tersebut. Baru setelah selesai, Alesya membangunkan Daniel.
__ADS_1
Alesya yang sudah sangat hafal dengan kebiasaan Daniel, harus mempunyai stok kesabaran yang banyak saat menghadapi Daniel.
Alesya berjalan mendekati tempat tidur. Dia harus membangunkan Daniel yang masih bergelung dibawah selimut tersebut.
"Da, bangun. Sudah subuh, nih." Alesya membangunkan Daniel sambil menggoyang-goyangkan bahu Daniel.
"Hhhmmm?" Bukannya bangun, Daniel justru hanya bergumam.
"Bangun, Da. Sholat dulu."
"Euughhh." Daniel menggeliatkan tubuh sambil menyibakkan selimutnya.
Alesya yang melihat tingkah Daniel, hanya bisa menunggu. Dia harus lebih sabar menghadapi Daniel yang memang susah sekali dibangunkan saat pagi.
"Jam berapa?" tanya Daniel dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hampir jam lima. Cepetan bangun, gih. Keburu siang nanti." Alesya segera beranjak berdiri dan berjalan mengambilkan sajadah dan sarung untuk Daniel.
Sementara laki-laki itu, langsung beranjak duduk dan meregangkan kedua tangannya. Daniel juga memutar-mutar pinggangnya ke kiri dan ke kanan. Setelah itu, Daniel beranjak menuju kamar mandi.
Alesya langsung keluar dari kamar untuk menuju dapur. Seperti biasa, dia akan membantu sang ibu yang memang sudah berada di dapur.
__ADS_1
"Daniel belum bangun?" tanya Ibu saat Alesya sudah berada di dapur.
"Sudah, Bu. Masih sholat dia."
Ibu mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, aktivitas pagi mereka segera dilanjutkan. Tak berapa lama kemudian, Daniel sudah menghampiri mereka di dapur. Tubuhnya sudah terlihat segar, sepertinya Daniel sekalian mandi pagi tadi. Dia tampak celingak-celinguk mencari keberadaan ayah Alesya.
"Ayah kemana, Bu?" tanya Daniel.
"Tadi ke depan. Coba kamu lihat, Dan. Siapa tahu butuh bantuan. Tadi bapak-bapak di depan rumah sibuk potongin ranting pohon di depan rumah," ucap ibu.
Tanpa membantah, Daniel segera beranjak menuju depan. Dan, benar saja. Di depan rumah Alesya sudah ada banyak bapak-bapak yang tengah memangkas ranting-ranting pohon yang mengganggu jalan.
Saat Daniel berjalan mendekat ke arah mereka, sontak saja ada seorang bapak yang langsung nyeletuk.
"Waahh, ada pengantin baru nih. Bangun-bangun sudah seger aja nih, Mas Daniel. Tampaknya, minuman jamu semalam cocok nih, maklum jamu syusyu cap nona," ucap bapak-bapak tersebut.
Daniel yang mendengar godaan tetangganya tersebut, tampak malu. Salah sendiri dia langsung keramas pagi hingga membuat orang lain salah paham.
Dan, dengan entengnya Daniel menjawab godaan tetangganya tersebut.
"Bukan jamu syusyu cap nona, Pak. Tapi cap tengkuk."
__ADS_1
"Eh, apa maksudnya itu?"