Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Telepon Tengah Malam


__ADS_3

"Hallo, Kak. Tumben malam-malam begini telepon," tanya Daniel begitu panggilan suara tersebut tersambung.


"Sudah di rumah, Dan?" balas sebuah suara dari seberang sana.


Alesya yang melihat sang suami sedang menerima panggilan telepon, segera beranjak menuju dapur. Dia membiarkan sang suami berbicara dengan sang kakak. Ya, ternyata Desi, kakak Daniel yang menelepon malam itu.


"Sudah. Ini baru sampai."


Hening. Entah mengapa Daniel merasa ada sesuatu yang mengganggu kakaknya itu. Ya, meskipun mereka tidak dekat secara jarak, tapi hubungan Daniel dan sang kakak sangat baik. Mereka sudah biasa saling menghubungi melalui telepon maupun pesan.


"Caca dimana?" 


"Ada tadi, tapi masih ke dapur. Mau ngomong sama Ale?" tanya Daniel memastikan.


"Eh, enggak kok." Desi buru-buru menolak. Ya, karena malam itu dia memang ingin berbicara dengan Daniel.


Merasa semakin penasaran, Daniel pun langsung kembali bertanya.


"Sebenarnya ada apa sih, Kak? Nggak biasanya telepon malam-malam begini. Apa ada sesuatu yang nggak beres?" 


"Ehm, itu, sebenarnya gue lagi bingung, Dan," gumam Desi lirih.


"Bingung kenapa emang? Lo ada masalah, Kak?" suara Daniel terdengar was-was.


"Eh, enggak, Dan. Bukan begitu maksud gue. Aduh, gimana ngomongnya sih ini."


Suara Desi terdengar gusar di seberang sana. Dan, tentu saja hal itu membuat Daniel semakin penasaran.

__ADS_1


"Ada apa sih, Kak? Jangan buat gue kepikiran, deh." Daniel sudah mulai tidak sabar.


Saat itu, bersamaan dengan Alesya yang sudah kembali lagi ke kamar. Dia segera berjalan menghampiri Daniel dan langsung duduk di sampingnya. Dia menemani sang suami yang tengah bertukar suara dengan kakaknya itu.


"Ehm, gue bingung Dan." Suara Desi terdengar cukup berat.


"Bingung kenapa, Kak?" Tentu saja Daniel semakin penasaran.


"Ehm, gue diajakin nikah," jawab Desi dengan suara lirih. Namun, Daniel masih cukup jelas mendengarnya.


"Apa?! Nikah? Sama siapa? Jangan bilang sama Angga ya kak? Gue nggak setuju, apalagi papa sama mama juga pasti nggak akan setuju." 


Daniel langsung emosi begitu mengingat Angga, sang mantan calon kakak iparnya dulu.


"Cckkk, bukan ih! Gue juga nggak mau kali." Desi juga langsung emosi mengingat mantan calon suaminya itu.


"Lalu, siapa yang ngajakin nikah jika bukan Angga?" Daniel semakin penasaran. Dia bisa mendengar helaan napas berat sang kakak di seberang sana.


"Pak Ferdian," ucap Desi dengan suara lirih.


"Apa?! Dosen lo itu, Kak? Bukannya dia duda ya?" 


Kali ini, Daniel benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka jika sang kakak akan menghadapi situasi seperti ini.


"I-iya."


Desi sendiri bingung bagaimana harus menjelaskan kondisinya kepada sang adik. Mau langsung ngomong dengan orang tuanya pun juga nyalinya tidak cukup kuat. Sebenarnya, orang tua Daniel dan Desi bukanlah orang tua yang keras dan suka memaksakan kehendak mereka.

__ADS_1


Orang tua Daniel justru sangat menghormati keputusan kedua putra dan putri mereka untuk memutuskan sesuatu. Mereka pasti akan mendukung jika keputusan itu baik. Hanya saja, kali ini Desi masih belum berani menceritakan kondisinya kepada orang tua, mengingat status dosennya itu.


Hening beberapa saat kemudian sebelum Daniel kembali bersuara.


"Lo mau, Kak? Lo suka sama dosen itu?" tanya Daniel.


"Ehm, nggak tau juga sih, Dan. Hanya saja, gue bingung harus bagaimana. Ada beberapa kondisi yang membuat dia nekat ngajakin gue nikah."


"Eh, kondisi apa? Jangan bilang kalian udah icip-icip ya Kak." Daniel langsung menggeram kesal.


"Cckkk. Apaan, sih. Nggak enak banget tuduhan lo, Dan. Lo kira gue perempuan apaan." Suara Desi benar-benar terdengar kesal.


"Ya, mana gue tau. Lo kan jauh di sana."


"Cckkk."


Daniel menoleh ke arah Alesya yang duduk di sampingnya. Dia langsung menarik pinggang istrinya tersebut hingga menempel pada tubuhnya.


"Gini deh Kak, gue susulin lo lusa. Akhir minggu lo nggak ke kampus, kan?"


"Enggak, sih. Tapi, lo jangan bilang mama papa dulu, ya. Gue nggak mau mereka kepikiran. Gue masih merasa nggak enak gara-gara gagal nikah tempo hari itu," ucap Desi.


"Beres. Nanti gue bilang mau nengokin lo sekalian honeymoon." Daniel menjawab dengan santai, sementara Alesya langsung mencubit pinggangnya hingga membuat Daniel meringis.


"Honeymoon? Emang kalian belum ngapa-ngapain selama ini?" tanya Desi.


"Ya udah lah, Kak. Gila aja dua bulan lebih nikah nganggur. Yo ndak mampu aku."

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak ya, biar semangat up lagi.


__ADS_2