
Alesya bersungut-sungut kesal saat harus kembali menuruti keinginan Daniel untuk menyenangkannya secara singkat. Bahkan, keduanya masih memakai atasan secara lengkap saat Daniel kembali menggoda Alesya dan berakhir dengan kepasrahannya.
Meskipun begitu, Daniel harus kembali mandi meskipun harus terburu-buru. Sedangkan Alesya, dia kembali disibukkan dengan pakaian ganti Daniel yang sudah sangat lusuh karena ulah tangannya yang tidak bisa diam.
Daniel menuruni tangga dengan handuk kecil masih tersampir di atas kepalanya. Sementara Alesya mengekori di belakangnya dengan membawakan tas punggung Daniel.
"Nanti nggak usah ngebut jalannya, Mas. Masih ada waktu sekitar satu jam juga. Paling yang lainnya juga baru berangkat dari tempat KKN," ucap Alesya.
"Iya. Tadi anak-anak juga bilang belum berangkat, kok. Kamu tenang saja."
"Hhmmm."
Setelah berpamitan, Daniel segera berangkat. Hanya ada Alesya dan ibunya di rumah. Ayah Alesya sudah berangkat mengajar. Tadi pagi, Daniel juga sudah berpamitan dengan orang tuanya sendiri.
Hari berganti hari, tak terasa Daniel juga sudah menyelesaikan aktivitas KKN nya. Siang ini, ada acara penutupan di lokasi tempatnya KKN dan sekaligus berpamitan dengan para warga yang sudah membantu mereka.
__ADS_1
Semua anggota kelompok KKN Daniel memutuskan untuk langsung kembali sore itu juga setelah acara penutupan selesai. Mereka tidak sudah tidak sabar untuk segera kembali ke rumah masing-masing.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Daniel. Dia juga langsung bergegas pulang meskipun waktu sudah menunjukkan pukul lima sore hari. Daniel memutuskan untuk melaksanakan sholat maghrib di perjalanan agar tidak terlalu malam keluar dari desa tempatnya KKN.
Setelah sempat berhenti dua kali untuk melakukan sholat maghrib dan mampir makan malam, Daniel tiba di rumah menjelang pukul sepuluh malam. Alesya yang memang sudah mengetahui jika Daniel akan pulang malam itu, sudah menunggunya. Tak lupa juga dia menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami.
Ayah yang saat itu menemani Alesya di ruang tengah untuk menunggu Daniel, langsung membantu membukakan pintu gerbang begitu mendengar suara mobil Daniel. Sementara Alesya, segera membantu membawakan barang-barang Daniel dari dalam mobil.
Setelah berbasa basi sebentar dengan ayah, Daniel dan Alesya langsung bergegas ke kamar. Daniel segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Alesya, segera menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.
"Mau dibuatkan teh hangat, Mas?" tawar Alesya begitu Daniel sudah keluar dari kamar mandi dan masih menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Kamu sakit, Mas?" Alesya langsung mendekat dan menempelkan punggung tangannya pada kening Daniel. "Kok hangat badannya, Mas? Kenapa nggak ngomong dari tadi?" lanjut Alesya.
"Nggak apa-apa. Hanya capek doang ini." Daniel berkilah.
__ADS_1
"Nggak apa-apa gimana. Kamu itu paling nggak betah sakit. Jika nggak segera diobati, nanti jadi kemana-mana sakitnya. Sudah, kamu tunggu dulu, jangan ngapa-ngapain. Aku buatin teh hangat dan ambil obat dulu."
"Hhmmm."
Alesya langsung bergegas menuju dapur. Dia segera membuatkan teh hangat dengan campuran madu untuk Daniel. Tak lupa juga dia membawakan obat penurun panas dan sebotol air putih.
Ceklek.
Alesya yang membawa nampan di tangan kanannya, berjalan memasuki kamar. Kedua bola mata dan mulutnya langsung terbuka saat melihat Daniel masih duduk di atas tempat tidur dengan handuk juga masih terlilit di pinggangnya.
"Astaga, Mas. Kenapa belum ganti baju? Nanti masuk angin bagaimana?" Alesya berjalan cepat untuk meletakkan nampan di atas nakas.
"Kan disuruh nungguin kamu tadi," jawab Daniel.
"Nungguin bagaimana?" tanya Alesya bingung.
__ADS_1
"Kamu bilang tadi jangan ngapa-ngapain suruh tungguin kamu. Siapa tahu kamu mau ngapa-ngapain aku begitu."
Jika punya suami seperti kuda nil ini, enaknya diapain ya? 🤔