Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Butuh Wadahnya


__ADS_3

Setelah cukup mengobrol dengan sang kakak, Daniel segera mematikan panggilan telepon tersebut. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas dan langsung menarik tubuh Alesya untuk berbaring. Tak tanggung-tanggung, Daniel langsung menindih Alesya dan mulai bekerja.


Tentu saja tindakan Daniel yang tiba-tiba tersebut membuat Alesya kewalahan. Dia langsung menahan bahu Daniel saat suaminya itu mulai menjelajah lehernya.


"Mas, tahan dulu, ih. Ini badan kamu masih panas. Gesit banget mau 'itu'," ucap Alesya sambil mengerucutkan bibir.


"Nggak sabar aku, mau ngecharge," jawab Daniel sambil mengerucutkan bibir dan mengedip-ngedipkan matanya.


Sebenarnya, bukan Alesya tidak mau menuruti Daniel. Hanya saja, dia khawatir Daniel akan semakin sakit jika tidak istirahat. Daniel baru saja minum obat, dan dia juga baru melakukan perjalanan jauh.


"Besok pagi saja, ya. Ini badan kamu masih panas, Mas. Kamu juga pasti capek nyetir jauh." Alesya mencoba membujuk Daniel. 


Seperti dugaan Alesya, bibir Daniel langsung mengerucut kesal. Daniel kesal karena Alesya tidak menuruti keinginan si DJ yang sudah jingkrak-jingkrak kesenangan untuk bertemu dengan pawangnya.


"Aku pengen, Le." Daniel masih merengek seperti anak kecil.


Alesya mengusap pipi Daniel dengan lembut sambil mengulas senyuman. Dia merogoh kantong baju tidurnya dan mengeluarkan termometer untuk memeriksa suhu tubuh Daniel.


"Di check dulu suhu badannya. Jika di bawah tiga puluh delapan, aku kasih apa yang kamu mau, Mas. Tapi, jika di atas tiga puluh delapan, diganti besok pagi saja jika sudah turun panasnya. Deal?"

__ADS_1


Meskipun kesal, Daniel tetap menuruti ucapan Alesya. Dia segera mengambil termometer tersebut untuk memeriksa suhu badannya. Dan, setelah beberapa saat kemudian, sudah terlihat hasilnya.


Alesya mengulas senyuman lebarnya saat melihat suhu tubuh Daniel mencapai tiga puluh delapan koma dua. Alesya segera menoleh ke arah Daniel sambil memberikan sebuah kecupan pada bibir cemberut suaminya itu.


"Malam ini istirahat dulu. Jika besok pagi sudah turun panasnya, aku kasih yang spesial buat kamu, Mas," ucap Alesya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mendengar ucapan Alesya, tentu saja Daniel langsung girang. Dia mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh semangat seperti anak kecil yang dijanjikan mainan. Tanpa banyak protes, Daniel segera merebahkan diri dan menarik selimut. Tak lupa juga dia menarik tubuh Alesya agar tidur di sampingnya.


"Karena jatahku masih besok pagi, sekarang nyicil dulu nggak apa-apa," ucap Daniel dengan wajah tanpa dosa.


Daniel segera meraih kancing baju tidur Alesya dan mulai melucutinya satu persatu. Meskipun kesal, Alesya hanya bisa pasrah mendapati tingkah Daniel yang bisa dipastikan akan sangat manja bin ngalem jika sedang sakit tersebut.


Nyem nyem nyem.


Tidak perlu menunggu lama, Daniel sudah langsung mengeksekusi 'mainan' kesukaannya.


"Le, ini nanti jika sudah ada isinya asi, jadi seberapa ya besarnya? Sepertinya nggak akan muat di tangkuban satu tanganku. Apalagi di mulut," ucap Daniel sambil tangannya masih pencet sana pencet sini.


"Aiisshhh, apaan sih, Mas. Nggak usah mikirin hal-hal aneh, deh." Alesya masih saja merasa malu jika Daniel keceplosan hal-hal yang mulai menjurus.

__ADS_1


"Mana ada hal-hal aneh, Le. Ini beneran lo aku penasaran. Tapi, nggak apa-apa deh tambah gede. Biar anak-anak kita nggak kekurangan gizi. Ntar bisa juga berbagi sama papanya, ya kan?"


"Cckkk. Mana ada berbagi, Mas. Semua juga buat anak. Bukan buat buapaknya." Alesya masih bersungut-sungut kesal.


"Eh, jangan salah. Anak kan butuh asinya, sedangkan bapaknya butuh wadahnya. Bisa kan di pompa terus di masukin botol?" 


Otak Daniel sudah semakin nggak waras. Dan, tentu saja ucapannya itu membuat Alesya semakin gregetan.


"Oh, jadi anaknya di kasih asinya saja, sedangkan wadahnya buat bapaknya gitu?" tanya Alesya sambil menahan gregetan.


Daniel mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh semangat.


"Boleh juga. Nanti bapaknya juga dikasih dot saja tanpa asi. Kan hanya butuh wadahnya saja," jawab Alesya sambil membalik tubuhnya membelakangi Daniel.


"Eh, kok dot sih, Le? Bukan itu, tapi ini." 


Grep. Mek mek uyel uyel.


"Aahhhh, Mas. Kok di tarik sih!"

__ADS_1


Yang masih punya jatah vote, boleh dong kasih satu buat othor. Biar tambah semangat up. 🤗


__ADS_2