Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Minta Ritual


__ADS_3

Masih dengan ekspresi bersungut-sungut kesal, Alesya mengambil kaos tipis dan boxer yang biasa Daniel pakai ketika tidur. Alesya segera memberikannya kepada Daniel agar sang suami segera memakainya.


"Nih, pakai kaos dan celananya dulu biar nggak masuk angin."


Daniel mengerucutkan bibir saat menerima pemberian Alesya. Meskipun begitu, dia menuruti permintaan Alesya untuk segera mengganti baju. Bukannya beranjak menuju kamar mandi, Daniel dengan santainya melepaskan lilitan handuk di pinggangnya hingga membuat terlepas.


Tentu saja tindakan Daniel tersebut membuat Alesya langsung melotot dan membalikkan tubuhnya. Entah mengapa dia masih merasa malu saat melihat Daniel polosan seperti itu. Padahal, Alesya suka sekali jika tubuh polos itu menindihnya. Eh, 


"Apaan sih, Mas. Ngapain juga ganti baju disini, sih? Nggak malu apa." Protes Alesya dengan wajah yang sudah terasa panas.


Dengan santainya Daniel memasukkan kedua lengan kaos dan memakai celana boxer di samping Alesya. Setelahnya, Daniel baru mengambil handuk yang diletakkannya di atas tempat tidur dan mengembalikannya di tempat semula.


"Memang kenapa, sih? Kan sudah biasa lihat aku polosan begini. Bahkan, kamu juga biasa raba-raba sana sini," ucap Daniel tanpa dosa. Dia berjalan menghampiri Alesya yang masih berdiri tak jauh dari tempat tidur mereka.


Tanpa aba-aba, Daniel langsung melingkarkan kedua tangannya pada perut Alesya dan mendekapnya dengan erat. Tentu saja tindakan Daniel tersebut membuat Alesya kaget.

__ADS_1


"Ishhh, apaan sih, Mas. Ngagetin orang, nih." Alesya mencubit punggung tangan Daniel namun tidak melepaskan pelukannya.


Daniel semakin mengeratkan pelukannya pada perut Alesya. Dia juga menelusupkan wajahnya ceruk leher Alesya dan memberikan beberapa kecupan di sana hingga membuat tubuh Alesya seketika meremang.


Alesya yang sadar jika Daniel belum minum obat, harus segera menghentikan tingkah suaminya itu. Jika tidak, bisa dipastikan mereka akan langsung khilaf hingga kalap sampai di atas tempat tidur.


"Mas, minum obat dulu, gih. Setelah itu istirahat biar panasnya segera turun," ucap Alesya sambil menepuk-nepuk punggung tangan Daniel.


Daniel masih kecup sana sini saat tangannya ditarik oleh Alesya dan membawanya duduk di tepi tempat tidur. Mau tidak mau, Daniel terpaksa menuruti keinginan Alesya. Dia menerima obat yang diberikan oleh Alesya dan juga sebotol air minum untuk membantunya menelan obat.


"Langsung istirahat, Mas. Biar besok bangun pagi tubuh kamu sudah segar kembali," ucap Alesya sambil menyimpan gelas kembali di atas nakas.


"Nggak ada ritual penyambutan kepulangan ku malam ini?" tanya Daniel dengan ekspresi polosnya.


Seketika Alesya menoleh ke arah Daniel yang masih belum beranjak dari posisi duduknya.

__ADS_1


"Eh, ritual apa?" tanya Alesya bingung.


"Cckkk. Aku kan lama nggak 'ngecharge' ini. Masa iya malam ini dianggurin, sih?" ujar Daniel sambil menunjukkan dengan jelas benda yang minta di charge.


Sontak saja tingkah Daniel itu membuat Alesya terkejut. Dia tidak menyangka jika suaminya sudah benar-benar tidak punya rasa malu.


"Mas! Apaan sih buka-bukaan begitu? Kamu nggak pakai dalemaann itu hanya boxer?" Protes Alesya sambil menatap tajam ke arah Daniel.


"Sejak kapan aku tidur pakai dalemaan segala? Engap, Yang. Enakan juga gini. Tinggal plorotin langsung tancap."


Alesya masih melongo mendengar ucapan Daniel yang sangat santai itu. Belum sempat Alesya menanggapi ucapan sang suami, terdengar suara ponsel Daniel berbunyi. Keduanya menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur tersebut.


"Eh, tumben telepon malam-malam begini?" ucap Daniel sambil meraih ponselnya.


Hhmmm, siapa yang telepon malam-malam begini? 🤔

__ADS_1


__ADS_2