Kultivasi Naga

Kultivasi Naga
Tiba Di Kota Durian Runtuh


__ADS_3

"Sangat kuat," tuan muda Guzhin, tuan muda Shinchan dan para tetua lainnya terkejut, tidak ada yang menduga jika Li Feng akan membuat tetua pertama terpental begitu jauh, namun Li Feng hanya terdorong beberapa langkah saja.


"Bajingan kamu anak muda," pekik tetua pertama yang sudah kembali melayang keluar dari dasar kawah.


"Kamu beruntung aku tidak langsung membunuhmu, jika bukan karena taruhan, apa kamu pikir masih hidup pak tua?" balas Li Feng santai.


Tetua pertama tidak membalas, dia hanya menggertakkan giginya dengan kuat, namun dia juga penasaran dengan ucapan Li Feng, membiarkan dia hidup? apa Li Feng belum menggunakan kekuatan puncak? itulah pertanyaan yang ada di kepala tetua pertama.


"Baiklah, kita masih memiliki dua kesempatan untuk bertukar serangan," ucap tetua pertama yang menerima kekalahan di jurus pertama.


"Kamu yakin ingin melanjutkan taruhan ini, pak tua?" tanya Li Feng tersenyum.


"Jangan terlalu menganggap tinggi dirimu anak muda! kita belum selesai," balas tetua pertama kesal.


"Baiklah, baiklah, baiklah," ucap Li Feng mengangkat bahu.


"Bersiaplah anak muda! aku tidak sedang bermain main lagi," ucap tetua pertama, lalu dia membuat jurus lain, yaitu tinju dewa surga.


Whush..


Setelah energi spiritual bertumpuk dikedua telapak tangannya, tetua pertama mendorong energi spiritual kedepan, kemudian membentuk sebuah tinju yang sama ukuran nya dengan yang pertama, hanya saja kekuatan dari tinju dewa surga jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Melihat tetua pertama membuat sebuah tinju dengan kekuatan besar, Li Feng juga menggunakan tapak ilahi.


Whush.. Whush..


Li Feng mendorong api surgawi dan petir surgawi kedepan, lalu kedua elemen berbeda itu menyatu dan membentuk sebuah tapak dengan kobaran api serta petir berderak derik kesana kemari.


Whush Whush..


Tinju dewa surga dan tapak ilahi saling melesat satu sama lain, sepersekian detik kemudian, kedua kekuatan besar itu beradu.


Booom Booom Booom..


Ledakan menggema sebanyak tiga kali secara beruntun, ledakan itu juga mengguncang hutan sekali lagi dengan guncangan lebih kuat dari sebelumnya.


Beruntungnya para tetua dari kedua sekte membuat perisai pelindung, sehingga tidak mempengaruhi tuan muda Guzhin dan tuan muda Shinchan.


Whush.. Whush..


Li Feng dan tetua pertama sama sama terpental, tapi seperti tadi, tetua pertama terlempar puluhan meter kebelakang, lalu menabrak tanah dengan keras dan menjadi kawah, sementara Li Feng lebih dari sepuluh langkah.


"Ukhuk ukhuk,"


Tetua pertama memuntahkan seteguk darah dari bibirnya, selain merasa dadanya sakit, tetua pertama juga merasakan tangannya kebas dan hampir mati rasa.


Whush..


Dua tetua sekte langit melesat kearah tetua pertama, mereka khawatir tetua pertama tewas didalam kawah.


"Tetua pertama," seru kedua tetua sekte langit panik.


"Bantu aku berdiri!" pinta tetua pertama lemah.


kedua tetua sekte langit yang tidak lain adalah tetua ketiga dan keempat membopong tetua pertama keluar dari kawah.


Whush..


Ketiganya muncul didepan tuan muda Shinchan dan dua tetua lainnya, lalu mereka mendudukkan tetua pertama dan memasukkan satu butir pil penyembuhan kedalam mulut tetua pertama, tetua ketiga kemudian membantu tetua pertama menyerap pil penyembuhan.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, tetua pertama dapat bernafas lega, luka dalamnya perlahan sembuh, namun kekuatan nya masih sangat lemah, sebab mereka tidak memiliki pil pengumpul Qi.


"Siapa berikutnya?" tidak menghiraukan semua orang, Li Feng yang sudah menelan pil pengumpul Qi, dia bertanya dengan senyuman mengambang.


Tetua kedua, tetua ketiga, tetua keempat dan tetua kelima hanya diam saja, keempat tetua saling menatap satu sama lain, mereka ragu untuk bertarung dengan Li Feng, pasalnya, tetua pertama yang terkuat dari mereka saja dibuat terluka parah, apalagi mereka yang sedikit lebih lemah.


"Apa kalian sudah takut dan tidak ingin bertarung? pengecut!" ucap lanjut Li Feng kesal, sedari tadi dia menunggu jawaban mereka, tapi tidak ada satupun yang menjawab.


"Kami mengaku kalah tuan muda, seperti taruhan yang sudah kita sepakati, kami akan menjadi pelayan tuan muda," tetua pertama membuka suara, sebab keempat tetua tidak berani membuka suara.


"Benar tuan muda, diantara kami berlima, tetua pertama adalah yang terkuat, jika tetua pertama saja kalah, bagaimana dengan kami?" timpal tetua kedua menggeleng kepala.


"Apa yang kalian lakukan? apa kalian ingin mengkhianati ayah?" tuan muda Shinchan tidak bisa menerima begitu saja, bagaimana pun juga, dia membawa mereka karena untuk melindungi dirinya, namun kelima tetua menyatakan sikap menjadi pelayan Li Feng.


"Kami akan tetap menjadi bagian dari sekte, tuan muda tidak perlu khawatir! kami juga akan tetap melindungi tuan muda hingga kembali ke sekte," ucap tetua pertama, sebenarnya dia merasa kasihan pada tuan muda Shinchan, tapi yang namanya janji seorang kultivator, tabu bagi mereka untuk ingkar janji.


"Akan aku adukan pada ayah," ucap tuan muda Shinchan, lalu dia kembali ke arah selatan, lebih tepatnya ke sekte langit.


"Biarkan saja dia, anak ingusan akan selamanya berlindung dibawah ketek orang tuanya," ucap Li Feng sengaja meninggikan suaranya agar bisa didengar tuan muda Shinchan.


"Tunggu saja kalian!" umpat kesal tuan muda Shinchan, dia kembali ke sekte langit dengan perasaan dongkol.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan! aku khawatir kita terlambat mengikuti pelelangan," ucap lanjut Li Feng.


"Baik tuan muda," jawab kelima tetua sekte langit.


"Baik saudara Li," jawab tuan muda Guzhin.


Mereka berdua belas lalu melanjutkan perjalanan mereka ke kota durian runtuh, selama perjalanan, tuan muda Guzhin terus mengobrol bersama Li Feng, dia curiga jika Li Feng adalah orang tua yang menyamar sebagai seorang pemuda.


*******


Setelah melakukan perjalanan selama seminggu, menjelang pagi, Li Feng dan rombongan akhirnya tiba di kota durian runtuh, setelah mendapat pemeriksaan dan membayar pajak masuk kota, mereka berdua belas masuk kedalam.


Sesampainya mereka didalam kota, pertama tama yang mereka tuju adalah rumah lelang bambu kuning, Li Feng dan tuan muda Guzhin ingin mendapat tempat di rumah lelang lebih dulu, karena lelang akan dilakukan nanti sore.


Dipusat kota, mereka menemukan rumah lelang bambu kuning, lalu Li Feng dan tuan muda Guzhin serta kesepuluh tetua masuk kedalam, tampak banyak orang yang mengantri untuk mendapatkan tiket masuk.


"Ada yang bisa dibantu tuan tuan?" tanya petugas yang berjaga di loket VVIP.


"Kami ingin pesan 2 ruangan VVIP tuan," ucap tuan muda Guzhin.


"Kebetulan sekali, ruang VVIP tersisa dua ruangan, biaya satu ruangannya 50 koin emas tuan muda," balas petugas.


"Baiklah, kami ambil dua ruangan itu," tuan muda Guzhin mengangguk, lalu membayar 100 koin emas untuk dua ruangan, dimana satu ruangan untuk Li Feng.


"Maaf tuan, boleh aku bertemu dengan manager penginapan? ada yang ingin aku lelang," ucap Li Feng setelah mengambil kartu khusus VVIP.


"Boleh tuan muda, tapi item apa yang ingin tuan muda lelang?" jawab dan tanya petugas.


"Sebentar tuan!" balas Li Feng, lalu dia mengeluarkan dua buah apel pink dan dua buah apel hitam yang sudah berevolusi.


"Aku ingin melelang ini!" ucap Li Feng setelah mengeluarkan empat buah buah abadi.


"Ini?" semua orang terkejut dengan apa yang mereka lihat, terutama adalah tuan muda Guzhin dan kesepuluh tetua.


"Apel pink? apel hitam?" mereka semua menggosok mata mereka, mereka pikir jika hanya halusinasi saja.


"Benar, ini apel pink dan apel hitam yang sudah berevolusi, bagaimana tuan?" ucap Li Feng membenarkan gumaman tetua pertama sekte langit.

__ADS_1


"Bisa tuan muda, bisa," jawab cepat petugas, lalu masuk kedalam rumah lelang.


"Saudara Li, darimana saudara mendapatkan buah buah abadi itu?" tuan muda Guzhin tidak bisa untuk tidak bertanya, dia sangat penasaran.


"Aku memiliki banyaknya saudara Meng," jawab Li Feng, lalu kembali mengeluarkan 2 apel hitam dan 2 apel pink.


"Sebagai tanda perkenalan kita, aku hanya ini yang bisa aku berikan," ucap lanjut Li Feng, lalu dia memegang tangan tuan muda Guzhin dan memberikan empat buah buah abadi itu.


"Saudara Li, ini?" tuan muda Guzhin tidak bisa meneruskan kata katanya, dia kehabisan kata kata.


Sebelum Li Feng berkata lagi, petugas tadi keluar dengan seorang pria paruh baya perut buncit, keduanya tampak tergesa gesa.


"Ini manager kami tuan muda!" ucap petugas mengenalkan manager rumah lelang.


"Apa benar tuan muda akan melelang item yang langka?" manager rumah lelang tidak sabar untuk melihat buah buah abadi yang diceritakan petugas.


"Benar tuan," jawab Li Feng menganggukkan kepala, lalu dia kembali mengeluarkan 2 buah apel hitam dan 2 buah apel pink.


"Mari kita masuk tuan muda!" ajak manager rumah lelang.


"Baik tuan," balas Li Feng, Li Feng juga mengajak tuan muda Guzhin ikut bersama, sementara kesepuluh tetua tetap berada diluar.


Tidak beberapa lama, mereka sampai diruang kerja manager.


"Silahkan duduk tuan muda!" ucap manager rumah lelang mempersilahkan Li Feng dan tuan muda Guzhin duduk.


"Terima kasih tuan," jawab keduanya, lalu mereka duduk.


"Berapa yang tuan muda minta sebagai bayarannya?" tanya manager rumah lelang.


"Aku tidak ingin menjualnya tuan, api aku ingin melakukan pertukaran," jawab Li Feng menjelaskan tujuannya.


"Pertukaran? pertukaran seperti apa yang tuan muda inginkan?" tanya manager rumah lelang mengerutkan kening.


"Aku dengar jika rumah lelang akan melelang inti jiwa naga petir, aku ingin menukarnya dengan buah buah abadi," jawab Li Feng jujur.


Mata manager rumah lelang berbinar binar, meski inti jiwa naga petir langka, tapi buah buah abadi lebih langka lagi, apalagi sudah berevolusi seperti itu, dia akan mendapatkan keuntungan lebih.


"Jika tuan manager mau, empat buah buah abadi ini aku tukar dengan inti jiwa naga petir," ucap lanjut Li Feng.


"Aku setuju tuan muda, apa hanya naga petir yang tuan muda inginkan?" jawab dan tanya manager.


"Item apa lagi yang bisa menarik perhatian ku?" ucap Li Feng balik bertanya.


"Kami juga memiliki inti jiwa naga api tuan muda," jawab manager rumah lelang.


"Benarkah?" tanya Li Feng antusias.


"Benar tuan muda, inti jiwa naga api dan inti jiwa naga petir memiliki energi spiritual yang sama, tuan muda tidak akan rugi," jawab manager menjelaskan.


"Baiklah, aku setuju," ucap Li Feng setuju dengan inti jiwa naga api.


Karena terlalu bersemangat, Li Feng memberikan 5 buah apel hitam dan 5 buah apel pink pada manager, menurut Li Feng, kesepuluh buah buah abadi itu tidak berguna sama sekali, tapi dia inti jiwa naga petir dan naga api, sangat penting baginya untuk meningkatkan kekuatan.


********


Tinggalkan Like dan Komentar nya ya kak!!!


Dikasih Hadiah dan Vote juga lebih bagus.

__ADS_1


Terima Kasih....


__ADS_2