
Ledakan menggema saat Jing Jie dan Jing Chen melepaskan tapak petir dan tombak petir, lalu mengenai keempat tetua klan Tu dan melempar mereka dengan keras.
Dengan kekuatan penguasa bintang 7 tahap puncak, sangat mudah bagi keduanya hanya menggunakan 60% kekuatan saat melepaskan serangan.
"Bajingan, siapa yang menyerang diam diam?" umpat kesal salah satu tetua klan Tu, lalu bangkit dan diikuti ketiga tetua lainnya, sementara ke 10 murid klan Tu masih mematung.
"Siapa kalian? kenapa ikut campur urusan kami?" bentak salah satu tetua klan Tu menatap tajam Jing Jie dan Jing Chen bergantian.
"Siapa kami itu tidak penting, kami hanya menjalankan tugas," jawab Jing Jie masa bodoh.
"Apa kamu tahu siapa kami?" tanya tetua klan Tu dengan sedikit sombong.
"Siapapun kalian, aku tidak tahu dan tidak mau tahu, jika ingin hidup, silahkan pergi dari sini!" balas Jing Jie yang tetap tanpa ekspresi.
Whush... Whush...
Setelah berkata, Jing Jie dan Jing Chen mengeluarkan kekuatan asli, dimana kekuatan mereka berada di tingkat penguasa bintang 7 tahap puncak.
Saat keempat tetua dan ke 10 murid klan Tu melihat kekuatan Jing Jie dan Jing Chen, wajah mereka berubah menjadi buruk.
"Aku peringatkan sekali lagi, jika ingin hidup, pergi dari sini," ucap Jing Jie sekali lagi memberi peringatan, namun wajahnya tetap dingin dan dengan sorot mata yang tajam.
"Ba-baik tu-tuan," jawab keempat tetua bergidik, kini mereka tahu kedua sosok yang ada didepan mereka itu bukanlah sosok yang bisa disinggung.
Keempat tetua dan ke 10 murid klan Tu kemudian pergi dari situ dengan perasaan dongkol, mereka sudah hampir menyelesaikan tugas mereka, namun digagalkan Jing Jie dan Jing Chen begitu saja.
"Bajingan, tunggu pembalasan ku," umpat kesal salah satu tetua, yang tidak lain adalah tetua kelima.
"Bagaimana tetua kelima? apa kita kembali dengan tangan kosong?" tanya salah satu tetua, yang tidak lain adalah tetua kesembilan.
"Kita tunggu mereka berpisah, aku yakin kedua pria tua itu tidak lama lagi akan pergi," ucap tetua kelima, dia tidak ingin kembali ke klan dengan tangan kosong, bisa bisa Patriak klan atau Tu Gu murka dan menghukum mereka.
Dibelakang mereka.
__ADS_1
"Terima kasih tuan tuan!" ucap pemuda berbaju biru ramah.
"Tidak masalah anak muda, seperti yang aku katakan tadi, kami hanya menjalankan tugas," balas Jing Jie tersenyum.
Meski penasaran dengan tugas yang dimaksud, tapi pemuda berbaju biru tidak ingin bertanya lagi, dan saat dia ingin menanyakan asal usul Jing Jie dan Jing Chen, serta mengenalkan diri, Jing Jie dan Jing Chen sudah lebih dulu menghilang dari pandangan mereka, keduanya kembali pada Li Feng yang berada diatas pohon besar yang tidak terlalu jauh dari mereka.
"Kalian kembalilah!" ucap Li Feng setelah Jing Jie dan Jing Chen kembali.
"Baik tuan muda," jawab keduanya, lalu masuk kedalam pusaran angin hitam keemasan.
Setelah kedua bawahannya masuk, Li Feng turun dari atas pohon dan berjalan kearah pemuda pemudi dan keempat tetua, dia bersikap seolah olah tidak tahu apa apa.
Namun sebelum Li Feng tiba ditempat pertarungan, pemuda pemudi dan keempat tetua sudah pergi, tampak mereka sangat terburu buru, hal itu membuat Li Feng sedikit curiga.
3 jam kemudian.
Setelah mengikuti mereka selama tiga jam, sekali lagi pemuda pemudi dan keempat tetua dihadang oleh keempat tetua dan ke 10 murid klan Tu, selain mereka, ada juga puluhan murid dan lima tetua dari klan atau sekte lain yang menghadang, pakaian mereka berwarna hijau.
"Kakak," ucap wanita muda khawatir, puluhan murid dan lima tetua yang menghadang mereka adalah musuh mereka, yaitu murid dan tetua klan Hai, sementara pemuda pemudi dan keempat tetua yang bersama mereka berasal dari klan Shin.
Klan Shin dan klan Hai bertempur sudah sejak 3 bulan yang lalu, dan pertempuran itu dimenangkan oleh klan Hai, namun klan Hai tidak melepaskan murid dan tetua klan Shin yang melarikan diri.
Patriak klan Hai yang bernama Hai Shun memberi perintah pada tetua dan murid klan untuk terus memburu murid dan tetua klan Shin yang melarikan diri, sehingga tetua dan murid klan Hai terus melakukan pengejaran.
Pemuda pemudi dan keempat tetua yang bersama mereka adalah termasuk buruan yang dicari, dan saat ini mereka berhasil ditemukan.
"Tenanglah Sue'er! kakak ada disini," ucap pemuda mencoba menenangkan adiknya, keduanya adalah tuan muda dan nona muda klan Shin.
"Tuan muda, sebaiknya tuan muda bawa nona muda pergi dari sini! kami akan menahan mereka semampu kami," ucap salah satu tetua, dia khawatir tuan muda dan nona muda mereka dibunuh jika tetap berada disitu.
"Tidak tetua pertama, kita akan bertarung sampai mati," balas tuan muda Shin tidak ingin pergi.
"Tapi tuan muda, keselamatan tuan muda dan nona muda lebih penting," ucap tetua yang lain.
__ADS_1
"Apa kalian berencana untuk melarikan diri? Hahaha... lari lah seperti pengecut! apa ini yang disebut tuan muda jenius klan Shin? bahkan untuk melindungi adiknya saja tidak becus," ucap tetua klan Hai tertawa.
"Ada yang bisa kami bantu?" tiba tiba suara Jing Jie terdengar dari atas kepala mereka, lalu satu persatu mendongakkan kepala mereka keatas, dapat mereka lihat ada 16 pria paruh baya berpakaian putih berada tepat diatas kepala mereka.
Jing Jie dan ke 15 tetua klan Jing turun diantara mereka, lalu Jing Jie mengitari pandangannya pada tetua klan Hai dan keempat tetua klan Tu yang berada disitu.
"Bukannya aku sudah memberi kesempatan pada kalian? rupanya kalian tidak pandai menjaga kesempatan itu," ucap Jing Jie tersenyum.
"Siapa kalian? jangan ikut campur urusan kami!" bentak tetua klan Hai menatap tajam Jing Jie dan lainnya.
"Jangan galak galak orang tua! aku bisa merobek mulut mu yang bau itu," ucap Jing Jie menatap tajam tetua yang membentak tadi.
Whush.. Whush.. Whush..
Setelah berkata, Jing Jie melepaskan aura tingkat penguasa bintang 7 tahap puncak, lalu di ikuti Jing Chen dan ke 14 tetua lainnya.
"Tingkat penguasa bintang 7 tahap puncak?" tetua klan Hai terbelalak tidak percaya, meski sama sama berada di tingkat penguasa bintang 7, tapi mereka hanya berada di tahap menengah, sementara Jing Jie dan ke 15 tetua berada di tahap puncak.
"Jing Chen, habisi keempat tetua tidak tahu diri itu!" ucap Jing Jie menatap keempat tetua klan Tu, sudah diberi kesempatan hidup tapi bandel, tidak ada kesempatan ketiga.
"Baik Patriak," jawab Jing Chen, lalu dia dan tiga tetua lainnya melesat dan melepaskan serangan tapak petir dan tombak petir kearah empat tetua klan Tu.
Whush.. Whush.. Whush..
Booom Booom Booom...
*******
Tinggalkan Like dan Komentar nya ya kak!!!
Dikasih Hadiah dan Vote juga lebih bagus.
Terima Kasih...
__ADS_1