
"Apa yang kalian lakukan? cepat bunuh pemuda brengsek itu!" seru pangeran kedua dari dalam kereta, sedari tadi dia sudah melihat apa yang dilakukan Li Feng pada para pengawalnya, hal itu membuat pangeran kedua sangat murka.
"Ba-baik pa-pangeran," jawab terbata bata puluhan prajurit tersisa, mereka takut menyerang Li Feng, tapi mereka juga takut pangeran kedua murka dan membunuh mereka, saat ini puluhan prajurit dalam posisi sulit, maju kena mundur kena.
"Cepat!" bentak pangeran kedua karena tidak ada satupun dari puluhan prajurit yang berani menyerang Li Feng.
"Majulah jika ingin mati!" ucap Li Feng menatap tajam puluhan prajurit yang masih berada diatas kuda.
"Bagaimana ini?" ucap salah satu prajurit bertanya pada yang lain.
"Kita tidak punya pilihan, ayo kita serang dia!" balas prajurit yang lain, meski takut, tapi mereka adalah prajurit istana.
Para prajurit lalu melesat menyerang Li Feng, namun seperti tadi, belum juga serangan mereka menyentuh Li Feng, Li Feng sudah lebih dulu melepaskan tapak bayangan dan meledakkan puluhan prajurit yang menyerang.
Bau anyir darah tercium jelas ditempat kejadian, hal itu membuat penduduk kota, pedagang dan para pendatang yang merupakan murid klan yang mampir di ibukota, semua menjauh dari tempat berlangsungnya pembantaian.
"Bajingan, beraninya kamu membunuh prajurit istana? akan ku bunuh kamu bajingan," bukannya takut, pangeran kedua justru semakin murka.
Whush..
Pangeran kedua melesat menyerang Li Feng dengan niat membunuh yang sangat kuat, dia melesat dengan cepat dan ingin segera mengakhiri hidup Li Feng.
Saat serangan yang dilepaskan pangeran kedua hampir mengenai Li Feng, sebuah tamparan dari samping mengenai telak kepala pangeran kedua dan melemparnya hingga menabrak salah satu bangunan yang ada didekat situ.
Tidak ingin memberi ampun, apalagi tahu dia adalah pangeran kedua, Li Feng berjalan santai ke bangunan dimana pangeran kedua dilempar, lalu ditarik lah pangeran kedua keluar dari bangunan itu dan membantingnya di jalan.
Buuuk
Buuuk
Buuuk
Berulang kali Li Feng membanting pangeran kedua di jalan, kondisi pangeran kedua saat ini sangat memprihatinkan, namun Li Feng tidak menghiraukan itu dan terus membanting pangeran kedua hingga dia menemui ajalnya.
"Siapa lagi yang ingin bernasib sama dengan pangeran bodoh ini?" ucap Li Feng bertanya pada ratusan orang yang menonton, namun tidak ada yang berani menjawab, mereka terlalu takut untuk menyinggung Li Feng.
Bahkan pangeran kedua saja dibuat seperti itu, artinya Li Feng tidak takut pada kaisar mereka, yaitu Jing Hao, apalagi hanya mereka yang cecunguk seperti itu, hanya semut didepan Li Feng.
Setelah membunuh pangeran kedua, Li Feng dengan santai melepaskan cincin penyimpanan pangeran kedua dan tidak menghiraukan semua orang yang ada, selesai melepaskan cincin penyimpanan pangeran kedua, dengan langkah pasti dia menuju ke pusat kota.
Semua orang bingung melihat Li Feng yang santai, jika itu mereka, sudah tentu mereka akan lari bersembunyi, bahkan beberapa Patriak klan juga tidak ada yang ingin ikut campur msalah Li Feng dan pihak istana, mereka tidak ada keberanian untuk melakukan hal itu.
*******
Di Istana Kekaisaran.
__ADS_1
Lebih tepatnya di aula pertemuan.
"Cepat cari pelaku yang membunuh putraku!" bentak Jing Hao dengan kemarahan yang berapi-api, saat Li Feng membunuh pangeran kedua atau Jing Hie, giok jiwa pangeran kedua yang ada pada Jing Hao pecah, sehingga membuat Jing Hao seperti orang kesurupan.
"Ba-baik yang mulia," jawab keempat jendral lainnya, lalu keluar dari aula pertemuan.
"Aaaaaaarrg"
"Aaaaaaarrg"
Jing Hao berteriak murka di aula pertemuan, namun tidak ada satupun dari mentri dan kelima jendral nya, saat ini jendral Goheng juga sudah tiba di istana kekaisaran, namun saat akan menyampaikan pesan Li Feng, giok jiwa pangeran kedua pecah dan membuat Jing Hao seperti orang gila, sehingga jendral Goheng belum menyampaikan pesan itu.
"Jendral Goheng? kenapa kamu berada disini? dimana Jing Jie dan lainnya?" tanya Jing Hao saat matanya menangkap sosok jendral Goheng.
"Ampun yang mulia!" dengan cepat jendral Goheng menjatuhkan diri berlutut.
Semua mata tertuju pada jendral Goheng, mereka bingung dengan sikap jendral Goheng yang sekarang, tidak biasanya jendral Goheng bersikap seperti itu.
"Ada apa jendral Goheng?" tanya Jing Hao mengerutkan kening.
"Ampun yang mulia, hamba gagal menangkap Jing Hao dan antek anteknya," jawab jendral Goheng tanpa berani mengangkat kepala.
Jing Hao semakin mengerutkan kening saat mendengar jendral Goheng gagal dalam tugas, tapi dia juga penasaran dengan apa yang terjadi.
"Katakan jendral Goheng!" perintah Jing Hao tidak ingin basa basi.
"Kurang ajar," umpat kesal Jing Hao mengepalkan kedua telapak tangan, tampak sorot mata dan niat membunuh yang sangat kuat dari aura yang dia keluarkan.
"Aku tidak sabar pemuda itu mengunjungi ku," ucap Jing Hao yang masih mengepalkan kedua telapak tangannya.
*******
Di Jalanan Ibukota.
Dengan santai Li Feng terus berjalan masuk ke pusat kota, namun tidak beberapa lama, Li Feng melihat ratusan prajurit istana yang pimpin 4 jendral, Li Feng tersenyum melihat mereka yang berjalan dengan tergesa gesa, dia tahu jika ratusan pasukan dan keempat jendral itu diperintahkan untuk pelaku yang membunuh pangeran kedua.
Saat berpapasan, Li Feng dengan tenang terus melangkahkan kaki dan tidak menghiraukan mereka, sementara keempat jendral dengan serius memimpin pasukan untuk segera keluar dari ibukota, Li Feng tersenyum membayangkan saat keempat jendral melihat kondisi pangeran kedua yang berada tidak jauh dari gerbang kota.
Saat tiba dipusat kota, Li Feng tidak segera ke istana kota, dia masih memiliki dua hari untuk membuat kekacauan, meski begitu, banyak murid dan tetua klan serta para Patriak yang memandangnya, mereka mengenali Li Feng, karena saat Li Feng memusnahkan para prajurit dan pangeran kedua, para murid, tetua dan Patriak melihat dengan jelas.
Cukup bosan berada di alun alun kota, Li Feng mencari penginapan, dia ingin berada di penginapan hingga waktu turnamen dimulai.
Keesokan harinya.
Li Feng tidak tahu jika saat ini keempat jendral dan para prajurit menggeledah setiap rumah makan, restoran dan juga penginapan, dan saat ini didepan penginapan yang dia menginap juga sudah ada puluhan prajurit dan salah satu jendral besar yang ingin menggeledah penginapan itu.
__ADS_1
Mendengar keributan, Li Feng membuka mata dan menghentikan kultivasi nya, dia penasaran dengan suara keributan apa yang terjadi dilantai bawah, Li Feng kemudian keluar dari kamar dan turun kebawah.
Saat keluar kamar, sudah lebih dulu 10 prajurit yang menaiki anak tangga menunju lantai 3, dimana lantai yang Li Feng tempati, melihat mereka, Li Feng berpura pura mati dan bersikap biasa saja, sehingga tidak ada kecurigaan dari puluhan prajurit yang mendekat.
"Identitasnya tuan muda!" ucap salah satu prajurit ramah, meski sebagai prajurit kekaisaran, tapi ternyata prajurit itu tahu sopan santu.
Li Feng tersenyum dan menganggukkan kepala, lalu dia keluarkan lencana platinum klan Fong.
"Maafkan aku leluhur!" ucap prajurit menundukkan kepala dan menangkupkan tangannya dengan hormat, dia tahu para leluhur klan bisa merubah tampilan menjadi muda, sehingga dia berpikir Li Feng adalah salah satu dari mereka.
"Tidak masalah anak muda! kamu hanya melakukan tugas yang diperintahkan," ucap Li Feng bersikap seolah olah dia memang pria sepuh.
Para prajurit kemudian menggeledah setiap kamar yang ada, namun tidak ada yang mereka temukan, tidak ada yang mencurigakan sama sekali, sehingga mereka kembali turun kebawah.
"Dasar bodoh," gumam Li Feng membatin.
"Aku rasa tidak perlu menunggu besok," gumam lanjut Li Feng mengelus dagu.
Li Feng berencana tidak usah menunggu saat sayembara baru melakukan kekacauan, dia ingin memulainya sekarang, apalagi belum ada penduduk kota yang berkumpul, dengan begitu, Li Feng bisa dengan bebas bergerak tanpa memikirkan penduduk kota menjadi korban.
"Baiklah, mari kita mulai permainan ini, Jing Hao!" gumam lanjut Li Feng, lalu keluar penginapan dan menuju istana kota.
30 menit kemudian, Li Feng berada tepat didepan istana kekaisaran, untuk sesaat, Li Feng masih memandang istana yang masih seperti dulu, tidak ada perubahan sama sekali.
Setelah cukup memandang istana, Li Feng dengan santai melangkahkan kakinya kedepan gerbang, namun dia ditahan oleh para prajurit yang berjaga didepan gerbang.
"Dilarang masuk tanpa izin!" ucap salah satu prajurit dengan nada yang tidak enak didengar.
Tanpa sepatah kata, Li Feng keluarkan lencana platinum kembali dan perlihatkan pada prajurit penjaga gerbang, penjaga gerbang langsung bersikap ramah setelah melihat lencana platinum yang Li Feng keluarkan.
"Silahkan masuk leluhur!" ucap penjaga gerbang yang berubah menjadi ramah.
"Terima kasih prajurit," balas Li Feng tersenyum, lalu masuk kedalam dengan santai.
Tidak beberapa lama, Li Feng tiba didepan aula pertemuan, tapi lagi lagi dia ditahan seorang komandan yang berjaga didepan aula pertemuan, namun dengan tenang Li Feng berikan lencana platinum juga, lalu sang komandan masuk kedalam untuk melapor.
Beberapa saat kemudian, komandan tadi kembali dan mempersilahkan Li Feng untuk masuk kedalam, Li Feng tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian masuk kedalam dengan santai.
"Salam Jing Hao," setelah berada didalam, tanpa menangkupkan tangan atau berlutut, Li Feng menyebut nama Jing Hao begitu saja, hal itu mengejutkan semua orang yang ada di aula pertemuan.
********
Tinggalkan Like dan Komentar nya ya kak!!!
Dikasih Hadiah dan Vote juga lebih bagus.
__ADS_1
Terima Kasih...