
[Kerajaan wilayah Timur]
1 minggu berlalu. Xerone dan prajuritnya sampai dihutan dekat dengan perbatasan kerajaan selatan.
"Kita harus membangun camp disini. Sepertinya mereka sudah bersiap-siap." Kata Xerone dalam hati sambil bersembunyi di hutan.
Lalu, salah satu komandan Xerone datang menghampirinya.
"Bagaimana situasinya disana komandan.?" Tanya Xerone.
"Ha. Lapor Panglima. Mereka semua sedang bersiap-siap didalam benteng." Jawab komandan itu sambil berlutut.
"Ada berapa pasukan disana.?" Tanya Xerone.
"Ha. Saya sendiri tidak tau Panglima. Kami hanya melihat penjaga diatas benteng. Mungkin sekitar 2rb prajurit yang berjaga." Jawab komandan itu.
"Hem Baiklah, kita harus beristirahat dulu disini. Jaga camp prajurit. Aku akan memikirkanya sisanya nanti." Kata Xerone sambil berjalan menjauh.
"Ha. Laksanakan perintah." Jawab komandannya.
"Sepertinya mereka akan mengempur langsung dari dalam. Benteng ini sangat panjang dan besar. Aku harus cepat memikirkannya." Kata Xerone dalam hati.
.......
[Kerajaan wilayah selatan]
Jendral Cena dan pasukannya sampai diarea pegunungan. Mereka semua masih beristirahat dan membangun beberapa camp.
"Komandan, kau akan menyerang disebelah kiri benteng. Lalu, aku akan menyerang dari tengah." Kata Cena.
"Jendral. Jumlah mereka sangat banyak, kita harus menyeranganya dari jarak jauh terlebih dahulu." Kata komandannya.
"Ah, kau benar komandan. Kalau begitu, aku akan membagi pasukan menjadi 3 baris. Baris depan, akan menyerang langsung kebenteng, baris tengah akan menyerang dari udara, lalu baris belakang akan menyerang dengan bola api dan panah." Kata Cena serius.
"Ha. Laksanakan Jendral." Kata komandannya.
"Kita akan menyerang beberapa jam kedepan, persiapkan pasukan. Kita tidak punya waktu." Kata Cena.
.....
[Di hutan wilayah kerajaan Cimoren]
Terlihat, Leon dan Kibo sedang bersembunyi di hutan, mereka sudah didalam hutan itu sudah 5 hari lamanya.
"Kita disini sudah 5 hari Leon, kapan kita akan menyerang mereka.?" Tanya Kibo.
"Kau tenanglah Kibo. Aku masih menganalisa pergerakan mereka. Kita tidak bisa langsung menyerang kesana. Kita hanya berdua disini, dan kita juga tidak mau membunuh mereka." Kata Leon serius.
"Hem. Bagaimana jika aku tidak sengaja membunuh mereka Leon.? Apa aku akan mendengar jeritan mereka." Tanya Kibo.
"Ah, kau akan mendengarnya Kibo. Jika kau mau membunuh mereka, kau harus siap dengan konsekuensinya, meskipun itu hanya satu orang. Memang sangat mudah bagi kita menghancurkan benteng itu sekarang. Tapi aku tidak mau kau pinsan disana. Jadi tunggulah sebentar." Kata Leon sambil melihat benteng dari dalam hutan.
"Emm, Lalu, bagaimana jika kau yang membunuh mereka Leon, apa kau bisa menahan perasaan itu.?" Tanya Kibo.
"Aku sudah mulai terbiasa dengan perasaan ini Kibo. Tapi bagaimana denganmu.? Kau akan mendengar jeritan mereka jika aku membunuh mereka semua." Kata Leon.
"Hem. Perasaan itu sangat menyakitkan Leon. Lebih sakit saat aku bertarung dengan Dona. Tapi aku ingin membunuh mereka semua." Kata Kibo.
"Itu rasa sakit yang berbeda Kibo. Yang akan kau rasakan setelah membunuh mereka adalah jiwamu, jika kau tidak kuat, kau akan jadi gila. Berbeda saat kau bertarung dengan Dona, itu rasa sakit dari tubuhmu." Kata Leon dengan waspada.
"Apa kau bisa menekan perasaan ini Leon.?" Tanya Kibo.
__ADS_1
"Ah, aku bisa menekannya untukmu, tapi kau tidak akan bisa merasakan energi alam lagi. Bagaimana.?" Kata Leon.
"Itu. Apa tidak ada cara lain.?" Tanya Kibo
"Satu-satunya cara adalah kekuatan jiwamu. Dan hanya kamu yang bisa melakukannya Kibo. Aku tidak bisa merubah perasaan seseorang." Jawab Leon.
"Hem. jadi seperti itu. Aku ingin mencobanya Leon. Aku semakin penasaran dengan kekuatan ini." Kata Kibo.
"Heeee. Apa kau yakin Kibo.?" Tanya Leon.
"Sebenarnya aku ragu. Tapi aku masih belum pernah membunuh seseorang setelah aku bisa merasakan energi alam ini." Kata Kibo merenung.
"Heem. Kuatkan jiwamu Kibo. Kau akan mendengar ratusan ribu orang." Kata Leon.
"Ah, aku akan menahannya." Kata Kibo.
"Baiklah kalau kau memaksa. Kita hancurkan benten itu sekarang." Kata Leon sambil berjalan ke arah benteng.
"Em." Kata Kibo sambil menganggukkan kepalanya.
.....
Diatas benteng perbatasanCimoren.
"Komandan, aku melihat orang sedang berjalan kemarin." Kata salah satu penjaga benteng.
"Haaa. Ada berapa orang.?" Kata Komandannya.
"Sebaiknya anda lihat sendiri." Kata Penjaga itu.
Komandannya pun naik ke atas benteng dan melihat ke bawah benteng.
"Ada apa dengan orang itu, mereka hanya berdua. Apa mereka penduduk Cimoren.?" Kata Komandan itu.
....
"Ha. Laksanakan." Kata salah satu penjaga.
....
"Sepertinya mereka belum bergerak Leon." Kata Kibo.
"Mereka tidak menyadari sebuah ancaman Kibo. Mungkin karena kita hanya berdua." Kata Leon yang tiba-tiba berhenti berjalan.
"Ada apa Leon.?" Tanya Kibo.
"Mereka menghampiri kita." Kata Leon sambil melihat penjaga benteng berlari menghampirinya.
....
"Berhenti disana." Kata penjaga itu.
"Kami sudah berhenti disini pak penjaga." Jawab Leon.
"Siapa kalian, dan apa identitas kalian.?" Tanya penjaga benteng.
"Emm. Perkenalkan, namaku adalah Arjun Leon, dan orang di sebelahku adalah Kibo Klain. Identitas kami adalah prajurit dari pasukan Gionova, yang di bentuk oleh Paradicone." Kata Leon.
"Haaa." Suara penjaga terkejut.
"Tidak mungkin, mereka bergerak hanya berdua. Ada urusan apa mereka kesini.?" Kata penjaga itu dalam hati.
__ADS_1
....
"Aku datang kesini karena deklarasi perang. Apa kalian mau menyerahkan kerajaan Cimoren secara damai kepada Paradicone.?" Tanya Leon.
"Paa, pa, PASUKAN MUSUUUUH." Teriak penjaga itu sampai tubuhnya terjatuh kebelakang.
"Apaa.? Cepat, bersiap ke posisi perang." Perintah komandan kepada prajuritnya.
"Tidak mungkin mereka hanya mengirimkan dua orang kesini, siapa mereka sebenarnya.?" Kata komandan itu dalam hati.
Semua prajurit dari Cimoren pun bergegas mengambil posisinya. Bahkan ada puluhan ribu orang yang bergerak keluar benteng.
"Ha, ha, Aaaaa." Suara penjaga yang ketakutan, dan ia pun berlari menuju barisan belakang prajurit Cimoren.
.....
"Kenapa kau bilang secara terang-terangan begitu Leon.?" Tanya Kibo.
"Apa kau mau langsung menyerang mereka Kibo.? Aku hanya ingin tau, berapa banyak mereka disini." Kata Leon dengan santai.
"Hem. Mereka bahkan tidak mencapai 200rb orang disini." Kata Kibo sambil melihat prajurit Cimoren berbaris.
Lalu, Jendral dari pasukan Cimoren berjalan ke depan pasukannya itu.
"Apa kalian dari pasukan Gionova.?" Tanya Jebdral Cimoren.
"Ah, itu benar. Apa kau pemimpin pasukan penjaga ini.?" Tanya Leon balik.
"Keparat kau. Beraninya kalian datang kesini hanya berdua." Kata Jendral itu dengan marah.
"Aku tidak mau berlama-lama Jendral. Kita bernegosiasi saja disini. Apa kalian mau menyerahkan kerajaan Cimoren kepada Paradicone.?" Tanya Leon.
"Bajingaan. Berani-beraninya kau bilang begitu disini." Kata Jendral itu dengan sangat marah.
"Hem. Baiklah kalau begitu, aku akan mengambil paksa kerjaan ini. Apa kau sudah siap Jendral.?" Kata Leon tersenyum.
"KEPARAAT KAU. HUAAAA. SERAAAAAAANG." Kata Jendral itu dengan sangat marah.
"HOOOOAA." Suara Semua prajurit Cimoren. Mereka semua pun berlari ke arah Leon dan Kibo.
Pedang milik Leon keluar dari udara. Lalu, ia langsung memegang pedannya itu.
"Kibo lihatlah ini." Kaya Leon sambil melocat kedepan dan menyerang ratusan ribu prajurit di depamnya.
Leon menyerang mereka semua hanya dengan pedang yang masih tertutup sarungnya. Ia bergerak sangat cepat dan bertelport kemana-kamana.
Bahkan semua prajurit disana berhenti berlari yang befokus mencari Leon. Leon melumpuhkan setidaknya 100 orang dalam 1 detik.
"Sepertinya aku harus memberikan tekanan kepada mereka." Kata Leon dalam hati.
....
"Tidak bisa di percaya. Dia hanya menyerang sendirian. Bahkan dia tidak mengunakan sihir." Kata Jendral Cimoren yang terkejut dengan serangan Leon.
.....
"Aku akan membantumu Leon. sepertinya aku masih belum siap membunuh mereka semua."Kata Kibo. Dan ia pun langsung bergerak dengan sangat cepat.
Leon dan Kibo pun menyerang mereka tanpa mengunakan sihir dengan sangat cepat. Bahkan mereka bertarung sudah lebih dari 1 jam.
.
__ADS_1
.