
[Di luar tenda komando]
Xerone dan Vera bersujud di depan tenda dengan tubuh yang gemetar. Mereka masih trauma dengan kejadian di benteng barat. Dan sekarang mereka menghadap kepada Paradicone yang kedua kalianya.
"Xerone, aku sangat takut. aku ingin menangis." Kata Vera yang berbisik kepada Xerone dengan gemetar sambil bersujud.
"Ah, aku juga sangat ketakutan Vera, sampai badanku tidak bisa digerakkan." Kata Xerone yang berbisik pada Vera sambil bersujud
.....
Didalam tenda komando.
"Sepertinya mereka sudah datang." Kata Aries
"Kalian tunggulah disini, jangan ada yang keluar, aku akan menemui mereka sendiri." Kata Leon dengan tegas.
"Apa aku boleh ikut Leon.?" Tanya Rachel dengan manja.
"Tunggulah disini Rachel. Mereka sedang ketakutan dengan kalian. Aku akan menyelesaikannya sendiri." Kata Leon dengan santai sambil berjalan keluar tenda.
.....
Diluar tenda komando. Leon melihat Xerone dan Vera dengan gemetar sambil bersujud.
"Ada apa dengan mereka berdua. kalau seperti ini terus, mereka bisa kejang-kejang dan mati." Kata Leon dalam hati dengan kesal.
"Yoo. Kita bertemu lagi Jendral. Bisakah kalian duduk disini.?" Kata Leon dengan tersenyum.
"HIIIII." Suara Terkejut Xerone dan Vera.
"Haa. Ha. Hamba Menghadap Tuan." Kata Xerone dengan ketakutan. Dan Vera hanya terdiam ketakutan.
"Kau tidak perlu takut Jendral, berdirilah dengan tegak. Kau adalah seorang Jendral, kau harus bersikap seperti Jendral." Kata Leon dengan santai
"Ha, Ha, ha, Hamba tidak berani Tuan." Kata Xerone denga tegas. Bahkan tubuhnya gemetar semakin kencang
"Disini tidak ada Paradicone. Hanya aku seorang diri disini. Jadi kalian tidak perlu takut. Jadi tunjukkan padaku sikap kalian seperti Jendral." Kata Leon dengan serius.
Xerone dan Vera pun mulai berhenti gemetar, dan mereka berdua mencoba berdiri di depan Leon, dengan memejamkan mata.
"Hmm, Bisakah kalian melihatku.?" Kata Leon dengan santai.
"Ha. Hamba tidak berani Tuan." Kata Xerone dengan tegas. Tapi Vera memberanikan diri melihat Leon, namun tubuhnya gemetar lagi.
"Hmm, baiklah. Setidaknya kalian sudah berdiri." Kata Leon dengan tersenyum.
"Xerone, Vera. Aku ada tugas yang berat untuk kalian. Aku akan menjelaskan semuanya, agar kalian tau tugas kalian kedepannya. Ini adalah tugas penting. Aku harap kalian tidak mengecewakanku." Kata Leon dengan serius.
Xerone dan Vera pun terkejut. Bahkan rasa takutnya mulai sedikit menghilang. Yang mereka rasakan sekarang adalah keseriusan.
__ADS_1
"Ha. Hamba akan melakukannya sebaik mungkin Tuan." Kata Xerone dengan Tegas.
"Ha. Hamba juga akan melakukan perintah itu Tuan. Bahkan dengan nyawaku sendiri." Kata Vera dengan tegas.
"Baiklah. Bisakah kita pergi ke atas benteng. Ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan pada kalian." Kata Leon sambil berjalan ke arah benteng.
"Ha. Laksanakan Perintah." Kata Xerone dan Vera secara bersamaan. Mereka pun berjalan di belakang Leon.
....
"Xerone, aku sangat takut. Apa yang akan terjadi setelah ini. Apa aku akan di lempar ke bawah benteng.?" Kata Vera dalam hati dengan sangat ketakutan.
"Ah, sepertinya aku akan mati di atas sana. Pasti Tuan Leon melihat gundukan mayat itu." Kata Xerone dengan ketakutan.
....
Mereka pun berjalan ke atas benteng. Namun, Vera beberapa kali terpeleset dan terjatuh ke tanah. Dan Xerone membantunya berdiri.
Leon hanya tersenyum melihat mereka. "Mereka sangat lucu. hehe. Tapi kenapa mereka masih ketakutan. Situasinya jadi canggung." Kata Leon dalam hati.
....
Mereka pun sampai di atas benteng dan Leon melihat ke bawah. Disana masih terlihat beberapa warga yang menangis. Ia pun merenung di atas sana cukup lama.
Xerone dan Vera hanya terdiam sambil berdiri. Mereka tidak berani bicara, apalagi bergerak.
"Xerone. Apa kau yang menyuruh pasukanmu untuk mengubur mayat-mayat itu.?" Tanya Leon dengan sedih.
.....
"Sudah pasti, aku akan mati. Maafkan aku semua." Kata Xerone yang pasrah.
....
"Baiklah. Bisakah kau menyuruh prajuritmu untuk memperbaiki kuburan itu. Dan lakukan pemakanan seperti pejuang. Berikan batas untuk makan itu, lalu berikan tanda di atasnya. Jika perlu, bangun kuburan itu dengan bagus. Apa kau bisa melakukannya Xerone.?" Tanya Leon dengan serius.
"Ha. Hamba akan melaksanakan perintah Tuan." Kata Xerone dengan tegas. Namun, ia juga terkejut.
"Terimaksih Xerone. Apa kau bisa melihat mereka, di perbatasan Porsa. Mereka menangis melihat kuburan itu. Kau tau, mereka sudah kehilangan keluarganya saat peperangan disini. Mereka tidak berani masuk ke wilayah ini, karena mereka juga takut dibunuh. Aku hanya ingin mereka melihat keluarganya di makamkan dengan layak. Jadi, tolonglah mereka. Aku tau, ini karena perang. Tapi setidaknya kita harus menghormati perjuangan mereka." Kata Leon dengan sedih sambil melihat warga Porsa dari atas benteng.
Xerone yang mendengarnya sangat terkejut. Bahkan ia terkagum-kagum, tapi ia merasakan kesedihan yang medalam. Lalu, ia meneteskan air mata. Dan Vera hanya terdiam mematung melihat Leon.
"Ha, Ha. Hamba akan memakamkan mereka dengan layak Tuan." Kata Xerone sambil menahan tangisannya, ia mencoba untuk tegar.
Xerone mengingat ayahnya yang mati dalam perang. Bahkan sampai saat ini, ia tidak tau dimana makamnya.
"Apa kau bisa merasakannya Xerone. Jadi tolonglah mereka. dan jangan menyentuh warga sipil disana. Jika makam itu sudah jadi. Berikan mereka kesempatan untuk menjenguknya. Aku tidak akan memafkan orang-orang yang melarang mereka untuk mengunjungi makam itu. Bahkan Raja di seluruh dunia sekali pun." Kata Leon dengan serius.
"Ha. Hamba pasti akan melakukannya dengan baik Tuan." Kata Xerone yang terharu.
__ADS_1
....
"Kenapa, kenapa dia memikirkan itu. Kakakku meninggal dalam perang, adikku, ibuku. Semuanya meninggal karena perang, dan aku tidak pernah menemukan makamnya. Bahkan ayahku sekarang, hanya terbaring di tempat tidur. Kenapa orang ini bisa memikirkan itu, kenapa.?" Kata Vera dalam hati dengan tercengang, bahkan ia sudah meneteskan air mata begitu banyak.
Lalu, Leon pun berpaling melihat mereka berdua. Ia terkejut melihat Xerone yang sedih dan Vera menangis tanpa bersuara. Bahkan Vera hanya terdiam dengan air matanya yang terus keluar.
"Ah, Apa kalian sedih. Menangislah, aku tau, kalian pasti sudah kehilangan keluarga. Aku akan menunggu kalian. Curahkan semuanya." Kata Leon dengan sedih.
"Hiks, hiks. Huaaaaaahhh." Suara tangisan Vera dengan kencang. Bahkan ia sampai terjatuh ke bawah.
"Veraa. Veraa. Kuatkan hatimu." Kata Xerone yang melihat Vera terjatuh di depan Leon.
Tapi Leon hanya melihatnya dengan raut wajah yang sedih. Lalu, ia berpaling lagi melihat warga yang menangis
"Bantulah dia Xerone. Tidak apa-apa. Kau tidak perlu takut padaku." Kata Leon dengan sedih.
"Ha, Terimaksih Tuan." Kata Xerone dengan lega sambil memegang tubuh Vera untuk menenangkannya.
....
"Veraa. Tenanglah, kuatkan hatimu." Kata Xerone sambil memegang Vera.
"Xerone, hiiks aku, aku. Hiks Aku tidak tau kenapa." Kata Vera sambil menangis.
"Ah, baiklah." Kata Xerone yang sedih melihat Vera sambil memeluknya.
.....
Beberapa menit berlalu. Vera sudah lega dengan tangisannya. Dan Xerone membantunya berdiri. Leon masih terdiam memejamkan matanya.
"Tuan. Maafkan kami. Aku akan menghukum diriku sendiri." Kata Xerone yang berdiri tegak di belakang Leon.
"Tidak perlu melakukan itu Xerone. Aku senang melihat kalian." Kata Leon sambil membalikkan badanya.
"Peperangan ini, tidak bisa kita hindari. Setelah ini akan terjadi pembunuhan lebih banyak lagi. aku akan sedikit menjelaskan pada kalian. Kita sekarang sedang menghadapi ancaman besar, perang berkepanjangan dengan Louktus. Mereka sudah bergerak keseluruh pelosok benua, dari darat maupun laut. Aku bersama Paradicone sedang mencari cara untuk melawan mereka. Kekuatan kita sekarang tidak sebanding dengan mereka. Bahkan jika Paradicone turun secara langsung, itu masih jauh dari kata menang." Kata Leon dengan serius.
"Haaa." Suara terkejut Xerone dan tubuhnya mulai gemetar.
Xerone dan Vera yang mendengarkannya, hanya tercengang, mereka merasakan ketakutan, kegelisahan, dan keputus asaan.
"Tapi, aku sudah menemukan cara untuk melawan kekuatan itu. Aku membutuhkan kekuatan kalian. Seluruh pasukan terpilih dari 3 benua. Dan membentuk satuan prajurit khusus dari tiga benua ini." Kata Leon dengan serius.
Xerone sangat terkejut mendengarnya. Bahkan kakinya semakin gemetar.
"Aku membutuhkan beberapa panglima perang untuk pasukan ini. Kita akan bersatu untuk melawan mereka, di bawah kepemimpinan Paradicone. Satuan militer dunia, Gionova." Kata Leon serius.
Xerone dan Vera menelan ludah sambil melihat Leon. Mereka benar-benar sangat terkejut dengan keseriusan Leon.
"Kalian adalah salah satu dari 12 panglima terpilih untuk saat ini. Ini akan menjadi pekerjaan panjang." Kata Leon dengan serius.
__ADS_1
.
.